
Lupa membawa pakaian ganti, Wijaya dan Camilla memakai baju handuk, menunggu Varo membawakan baju.
Wijaya dan Camilla duduk di sofa, di temani secangkir teh hangat. Ada sekitar 20 menit mereka saling diam, merasa canggung dengan keadaan di sekitar.
Toktok!
Suara ketukan pintu membuat mereka tersentak.
"Biar aku buka," ucap Wijaya, ia beranjak pergi menuju pintu.
Pintu sudah terbuka, terlihat Varo berdiri di depan pintu, kedua tangan memegang paper bag berisi pakaian milik Wijaya dan Camilla. Lalu perlahan nongol kepala kecil dari balik kaki Varo. Kepala kecil itu adalah Andy.
Wijaya spontan membulatkan kedua bola matanya menatap wajah kaku Varo.
"Kok bisa?" tanya Wijaya menekan nada suaranya.
Andy berjalan keluar, berdiri di depan Wijaya, wajah menengadah.
"Aku tadi tidak sengaja menguping pembicaraan Papa. Katanya Kak Camilla ada bersama Papa. Benarkah itu Pa?" tanya Andy penuh harap, sorot mata terlihat sendu.
Wijaya menghela nafas, mengangguk, "Benar."
Andy langsung menerobos masuk ke dalam kamar, berlari dengan derai air mata kebahagiaan.
"Kak Camilla!" teriak Andy saat melihat Camilla duduk di sofa.
Entah kenapa, kedua tangan Camilla bergerak sendiri untuk menyambut kedatangan Andy. Andy jatuh ke dalam pelukan Camilla, isakan tangis harus terdengar dari suara mungil Andy.
"Kak Camilla jahat. Kak Camilla tega meninggalkan aku sendirian di muka bumi ini. Kak Camilla jahat...jahat!" protes Andy meninggikan nada suaranya.
Camilla sabar mendengarkan protesan Andy, tangan nya mengelus punggung Andy, berharap bisa menenangkannya.
Varo dan Wijaya tersenyum, melihat pertemuan kembali penuh harus. Namun, Varo tidak akan diam tentang apa yang ia lihat.
"Kenapa tuan besar dan dek Camilla bisa ada di kamar hotel? Rambut tuan besar dan dek Camilla juga basah," tanya Varo pelan. Wajah Wijaya memerah, malu.
"Eh.... i-itu. Kami hanya membicarakan sesuatu," sahut Wijaya gugup.
"Membicarakan hal apa yang bisa membawa tuan besar dan dek Camilla sampai ke hotel?" tanya Varo mulai mengintimidasi.
"I-itu....a-aku baru saja melamar Camilla. Beneran, a..aku serius baru saja melamarnya sebagai calon istri," sahut Wijaya semakin gugup.
__ADS_1
Varo masih tidak percaya, ia menatap lekat wajah Wijaya sangat gugup.
"Apa tuan besar mencoba melakukan sesuatu yang akan merugikan dek Camilla?" Varo bertanya langsung ke intinya.
"Ti-tidak seperti itu. A..aku bisa jelasin. Ka-kami beneran tidak melakukan apa pun, walau tadi aku sebenarnya hampir khilaf," jelas Wijaya tak bisa mengelak lagi.
Varo mengernyitkan dahinya, "Apa bisa saya percaya ucapan tuan besar?" Varo kembali bertanya penuh penekanan, menyudutkan Wijaya.
"Serius. A..aku berani sumpah!" Wijaya sampai memegang puncak kepalanya.
Tidak ingin mendengar Varo terus bertanya, Wijaya merampas paper bag berisi bajunya. Wijaya berlari menuju kamar mandi tanpa mengatakan apa pun.
Varo masih tidak percaya kepada tuannya itu, untuk memastikan apakah Camilla baik-baik saja. Varo mendekati Camilla sedang duduk bersama dengan Andy.
"Sebaiknya adek ganti baju dulu," Varo memberikan paper bag berisi baju Camilla.
"Terimakasih bang, kalau gitu aku ganti baju dulu," ucap Camilla, menerima paper bag pemberian Varo.
Camilla berdiri, ia perlahan menuju kamar mandi.
"Aaaa!!!" teriak Camilla terdengar sampai keluar.
Varo lupa untuk memberitahu jika Wijaya ada di dalam kamar mandi.
Varo buru-buru mendekati pintu kamar mandi.
"Dek, saya lupa kalau tuan besar ada di dalam. Apakah adek baik-baik saja?!" teriak Varo berteriak di depan pintu kamar mandi.
"Sekongkol kalian berdua. Nggak akan aku maafkan. Ingat itu!" teriak Camilla sampai terdengar keluar.
Tak lama pintu terbuka, tubuh Wijaya tersungkur di depan pintu.
Bam!
Camilla menutup pintu kamar mandi sangat kuat.
"Aduh...padahal aku sudah pakai celana. Gini amat punya calon binik yang masih polos," gerutu Wijaya.
Wijaya memang sudah memakai celana, tapi dia belum memakai baju kaosnya.
"Apa Papa perlu bantuan?" tanya Andy mengulurkan tangan mungilnya.
__ADS_1
Wijaya tersenyum, "Terimakasih nak," Wijaya menerima uluran tangan Andy, berdiri.
"Apa benar yang baru saja Papa katakan. Papa sudah melamar Kak Camilla dan akan segera menikah?" tanya Andy penuh harap meski terdengar lirih.
Wijaya mengangguk.
Andy memeluk kedua kaki Wijaya, "Terimakasih Pa. Papa memang yang terbaik," terimakasih Andy, memeluk erat kedua kaki Wijaya.
Wijaya menunduk sedikit, mengelus puncak kepala Andy, "Apa kamu senang mendapat Mama baru seperti Camilla?"
Andy melepaskan pelukannya, berjalan mundur ke belakang.
"Sangat, sangat senang!" cetus Andy semangat.
"Karena kita semua sudah berkumpul di sini. Gimana kita cari perlengkapan untuk pernikahan nanti," usul Wijaya semangat.
"Asik....akhirnya Papa dan kak Camilla menikah!" sorak Andy, ia berlari memutari kamar saking senangnya.
Tak lama untuk terbuka, Camilla keluar dengan memakai baju dress bunga-bunga berwarna merah muda. Warna soft sangat selaras dengan kulitnya.
"Siapa yang pilih baju ini?" tanya Camilla meninggikan nada suaranya, sorot mata penuh amarah mengarah pada Wijaya dan Varo.
Varo dan Wijaya saling lirik, mereka juga saling tunjuk. Andy tadi kesenangan sampai berkeliling, berhenti di hadapan Camilla.
"Baju ini sangat cantik buat Kakak," puji Andy tersenyum manis.
Raut suram dan sorot mata tajam langsung berubah menjadi senang, seakan terhipnotis mendengar suara mungil Andy.
"Benarkah? apakah baju ini cocok dengan aku yang tomboy?"
"Sangat cocok. Apa pun yang kakak pakai pasti cocok dengan gaya kakak," Andy mengambil jari manis berhias cincin berlian, "Jangan di lepas, ya, kak. Aku berharap kakak yang akan menjadi ibu sambung ku," lanjut Andy, mencium punggung tangan Camilla.
Wajah Camilla memerah, terharu mendapat perlakuan baik dari Andy. Camilla jongkok, ia membelai puncak kepala Andy.
"Kau tahu aku ini siapa? aku hanya seorang gadis yang memiliki pekerjaan kotor. Aku hanya seorang pencopet. Aku miskin, kasar, dan suka berkelahi. Apa kau yakin menginginkan aku sebagai ibu sambung mu? Kenapa tidak wanita ulat bulu itu saja. Bukannya dia wanita yang anggun terkenal, dan juga sangat kaya," jelas Camilla menjalankan kembali siapa dirinya.
Andy menggeleng, detik selanjutnya menatap wajah datar Camilla.
"Aku tidak perduli dengan masa lalu kakak. Lagian kakak tidak terlihat jahat di mata ku. Mengenai tante Mayang, dari awal berjumpa aku memang sudah tidak suka padanya. Entah kenapa aku merasa tante Mayang seperti wanita penyihir berkedok wanita cantik. Tidak seperti Kakak," Andy memeluk Camilla, "Berjanjilah padaku untuk tidak pergi meninggalkan aku dan Papa. Kami tanpa kakak terasa hancur, hidupnya terasa gelap, tak berwarna. Berjanjilah kak!" lanjut Andy ingin mendengar janji Camilla.
"Baiklah, kalau kau memaksa. Aku akan berjanji tidak akan kabur lagi," sahut Camilla terpaksa.
__ADS_1
Andy memang masih sangat kecil, tapi kelicikannya seperti orang dewasa. Semua sifat itu di dapatnya setelah ia kehilangan almarhum Mamanya.
Mendapat sosok yang pas di kehidupannya, Andy tidak ingin kehilangan sosok itu kembali. Dengan segala macam cara Andy lakukan agar orang itu bisa menetap di kehidupan mereka.