BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 11. Ketakutan itu terulang


__ADS_3

Karena berulang kali Camilla mengusir dirinya, Wijaya pun pergi dari kamar mandi tanpa berbicara sepatah kata apa pun. Wijaya mencoba menunggu Camilla sebentar di sofa di dalam kamar.


10 menit telah menunggu, pintu kamar mandi terbuka, terlihat Camilla keluar dari dalam kamar mandi, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala semuanya basah. Rambut panjang pelanginya basah, tergerai kusut di wajahnya.


Wijaya melihat hal itu spontan beranjak dari duduknya, meletakkan ponsel miliknya di atas meja.


“Mandi?” tanya Wijaya penasaran.


“Diamlah kau, Om!” ketus Camilla, kakinya terus melangkah mendekati lemari pakaian.


Merasa geli dengan Camilla, Wijaya berusaha menahan tawanya di balik bibirnya terkunci. Wijaya melangkah mendekati baju handuk di dalam lemari khusus handuk, dan selimut, terletak di samping sofa. Wijaya Mengambil baju handuk dan memberikannya pada Camilla.


“Pakai ini, aku akan ke kamar untuk mengambil pengering rambut,” ucap Wijaya, tangan memegang baju handuk mengulur ke Camilla.


“Hem,” sahut Camilla, tangannya mengambil baju handuk dari tangan Wijaya.


Wijaya pergi meninggalkan kamar Camilla, ia bergegas menuju ke kamarnya untuk mengambil pengering rambut. 5 menit kemudian Wijaya kembali ke kamar Camilla. Sejenak bola matanya mendadak membulat sempurna. Namun, ia cepat-cepat mengunci pintu, memutar arah berdirinya membelakangi Camilla.


“Ke..kenapa kamu pakai baju itu?” tanya Wijaya gugup saat melihat Camilla memakai set baju tidur malam pertama.


“Loh…mana ku tahu, katanya harus memakai baju piyama saat tidur. Ya, aku pilih aja baju piyama paling adem dan dingin di dalam. Lagian aku juga nggak salah kok, semua baju piyama di dalam seperti itu,” sahut Camilla membela dirinya.


Sejenak Wijaya menarik nafas panjangnya, “Ha…bukan hanya keras kepala dan memiliki kekuatan super. Gadis ini ternyata sangat bodoh,” gumam Wijaya sembari menggelengkan kepalanya.


“Pusing kepala kau, Om?” tanya Camilla sudah nongol di belakang Wijaya.


Pertanyaan Camilla spontan membuat Wijaya terkejut dan menoleh ke belakang. Sepasang bola mata Wijaya tidak sengaja melirik ke belahan di antara dua gunung kembar, dan cheri menonjol.


“Jangan mendekati aku seperti itu. Kamu bisa membuat aku hilang akal nantinya, dan berbuat hal lebih padamu,” ucap Wijaya menahan hasratnya.


“Oh..yang mesumnya di otak-mu itu, Om. Kalau gitu aku tidur ajalah. Soalnya capek kali aku rasa, besok pagi jangan lupa bangunin aku ya, Om,” pesan Camilla, kakinya pun melangkah menuju ranjang. Camilla membaringkan tubuh mungilnya itu di atas ranjang tanpa menyelimutinya.


Tubuh mungil dengan postur ideal, selama ini ternyata tertutup oleh baju kaos besar, dan celana jeans. Semenjak mendiang istrinya meninggal, Wijaya sudah lama tidak merasakan getaran hebat saat melihat bentuk tubuh wanita. Tapi kali ini tubuhnya merasakan getaran itu perlahan bangkit, saat melihat lekukkan tubuh ideal Camilla, mengingatkannya dengan postur tubuh mendiang istrinya saat memakai baju piyama tipis.

__ADS_1


Wijaya perlahan berbalik, membuka kedua kelopak matanya sedaritadi ia pejamkan. Wijaya kembali terkejut saat melihat Camilla berbaring tanpa memakai selimut. Wijaya terus menarik nafasnya, mencoba menetralkan pikiran anehnya. Sudah merasa cukup tenang, Wijaya melangkah, mengambil selimut di ujung ranjang dan mulai menyelimuti tubuh Camilla. Namun jari-jemari Wijaya tidak sengaja menyentuh kulit tangan Camilla terasa halus dan lembut.


‘Aku tidak menyangka jika wanita sumo ini memiliki kulit sangat bagus. Sangat bagus dari kulit Mayang. Jika di lihat-lihat wajah wanita sumo ini cantik juga. Tapi kenapa dia sangat tomboy dan keras,’ gerutu Wijaya dalam hati.


Karena tak ingin membuat hasrat sudah mati-matian ia tahan kembali hidup, Wijaya menyelimuti Camilla sampai leher, Wijaya juga menyalakan Ac agar Camilla tak kepanasan karena tubuh tertutup selimut tebal. Lalu mematikan lampu kamar menjadi lampir tidur, sangat redup.


“Om…kau masih di sana 'kan?” tanya Camilla bergumam di sela tidurnya.


“Hem,” sahut Wijaya tanpa berkata.


“Om, kau jangan pigi ya, aku takut kalau ada om-om jahat yang ingin melecehkan aku saat aku tidur. Janji jangan kemana-kemana ya, Om,” pinta Camilla kembali bergumam, namun kedua kelopak mata tak terbuka saking berat dan kantuknya ia rasakan saat ini.


“Hem,” sahut Wijaya kembali tanpa berkata apa pun.


Wijaya melangkah dalam gelap, duduk di tepi ranjang, menunggu Camilla hingga tertidur lelap. 10 menit sudah berlalu, Camilla sudah tertidur lelap sampai terdengar suara dengkuran keluar dari bibir ranumnya.


Wijaya beranjak pergi, keluar dari kamar Camilla, dan masuk ke kamarnya. Setelah mengganti pakaian, ia pun tidur.


Pria itu pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tanpa menyadari Camilla sedang tertidur di dalam selimut tebal dan lembut itu. Pria itu menarik tubuh Camilla, dan mengapitnya seperti guling. Hal itu spontan saja membuat Camilla terbangun dari tidur nyenyak nya.


“Tolong…tolong…tolong…ada perampok di sini,” teriak Camilla sekuatnya.


Pria itu langsung membungkam mulut Camilla, “Berisik, aku tidak akan melakukan apa pun padamu, setan!” gumam pria itu separuh tak sadar.


Perbuatan pria itu kembali mengingatkan Camilla dengan kejadian waktu dulu, saat ia berusia 12 tahun, ia di culik oleh seorang pria pemabuk, mulutnya di sekap, dan dia di bawah ke rumah besar dan kosong. Tubuh Camilla semakin bergetar, bulir air matanya perlahan metes. Hatinya bergerak ingin melawan, tapi tubuhnya terasa kaku teringat kejadian itu.


Teriakan Camilla tadi membangunkan Wijaya berada di kamar sebelah. Wijaya berlari menuju kamar Camilla, saat lampu kamar Camilla dinyalakan. Dahi Wijaya mengernyit, melihat pria sedang mendekap dan membungkam mulut Camilla adalah Lafi, adiknya.


Wijaya melangkah besar menuju ranjang, ia juga segera melepaskan dekapan Lafi begitu sangat kuat dari tubuh Camilla sedang gemetar ketakutan.


“Maaf, adikku memang seperti ini,” maaf Wijaya kepada Camilla.


“A-aku takut Om,” gumam Camilla gemetar.

__ADS_1


Wijaya menyelimuti tubuh Camilla karena baju piyama Camilla terkesan tidak pantas di pandang banyak orang. Detik selanjutnya Wijaya mengulurkan tangannya, “Mari tidur di kamarku aja,” ajak Wijaya.


Tanpa banyak bicara Camilla menerima uluran tangan Wijaya, ia pun turun dari ranjang. Namun, saat ia ingin melangkah, kedua kakinya lemas. Camilla terjatuh dengan tubuh masih gemetar ketakutan. Melihat Camilla tak sanggup berjalan Wijaya menggendong Camilla, membawanya menuju ke kamarnya.


Baru saja keluar dari kamar Camilla, langkah Wijaya harus terhenti saat meihat Varo, Andy, dan seorang wanita berdiri di depan pintu luar Camilla.


“Kenapa kalian semua berkumpul di sini?” tanya Wijaya datar.


“Kak Camilla kenapa wajahnya pucat Pa?” Andy balik bertanya saat melihat wajah Camilla tampak pucat.


“Lafi tiba-tiba masuk ke kamar wanita sumo ini, jadi ia terkejut,” sahut Wijaya.


“Hem…pasti baby sister ini yang sudah menggoda tuan Lafi. Kalau nggak mana mungkin…”


“Viona, jaga bicara kamu! Sekarang lebih baik kamu bawa Andy turun, aku tak mau besok ia bangun kesiangan,” sela Wijaya membentak pelayan rumah bernama Viona.


“Ba…baik, tuan besar,” sahut Viona patuh. Viona mendekati Andy, “Tuan muda, mari…”


“Nggak mau! Aku nggak mau sama bibi Viona, aku mau menemani Kak Camilla,” tolak Andy.


“Andy, jangan membantah Papa, sekarang kamu cepat turun dan tidur!” hardik Wijaya.


Andy balik badan, “Papa jahat! Aku mau sama kak Camilla tapi Papa….papa jahat…jahat!” gerutu Andy sembari berlari kecil meninggalkan kamar Camilla. Diikuti Viona berlari di belakang Andy.


“Sebaiknya biar saya saja yang menemani tuan muda,” usul Varo tiba-tiba.


“Terimakasih, kalau gitu aku serahkan Andy kepada kamu.”


Varo pamit pergi meninggalkan Camilla bersama dengan Wijaya. Setelah Varo, Viona, dan Andy pergi, Wijaya menghela nafas panjang, ia lega karena Andy tidak ngotot ingin bersama dengan Camilla. Karena saat ini Camilla sedang memakai baju tak pantas dilihat oleh anak-anak.


Camilla tadi masih mengantuk perlahan menidurkan dirinya di dalam pelukan Wijaya. Wijaya tak keberatan dengan hal itu, ia pun memutuskan untuk membawa Camilla ke kamarnya dan menidurkannya di atas ranjang berukuran king size miliknya.


Wiijaya kini berdiri di samping ranjang, pandangannya masih terus terarah pada Camilla sedang tertidur lelap, “Kasihan, pasti waktu itu dia sangat ketakutan sekali. Masa remaja yang cukup kelam,” gumam Wijaya.

__ADS_1


__ADS_2