BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 47. Baru sadar


__ADS_3

Camilla bersantai di ranjang lamanya. Di dalam kamar berukuran 5x4 meter.


"Akh! senang kali ku rasa kalau seperti ini. Aku kembali bebas!" teriak Camilla, berguling di ranjang kecilnya.


Sejenak Camilla merasa senang karena bisa terbebas dari Wijaya, dan menjauh dari Mayang. Namun, suara kecil terus menggema di telinganya, seolah sedang mencarinya. Suara itu adalah milik Andy.


...'Kak Camilla...Kak...'...


Camilla terduduk, ia memijat lembut pelipisnya, "Akh! kenapa aku bisa mendengar suara bocah ingusan itu. Bukannya dia sebentar lagi akan memiliki ibu baru," Camilla memukul pelan kepalanya terasa longgar, "Ayo Camilla....kamu harus semangat. Cepat bangkit dan buang kenangan tentang mereka. Kau harus hidup seperti dulu lagi," lanjut Camilla menyemangati dirinya.


Camilla turun dari ranjang, ia memakai baju kaos oblong besar miliknya, celana jeans bagian paha robek, tak lupa topi dan masker hitam.


Camilla berdiri di depan pintu kamarnya, "Mumpung hari mulai gelap, sebaiknya aku bereaksi dulu," gumamnya, menarik ujung topi, menutup sebagian wajahnya.


Camilla melangkah, namun langkahnya terhenti saat tante pemilik kosan menghadangnya.


"Mau kemana kau?"


"Bukan urusan tante," ketus Camilla, lalu kembali melangkah.


"Jangan ulangi kesalahan yang lalu. Aku tidak mau jika kosan ku rusak karena kamu di tangkap!" teriak tante pemilik kosan, menatap punggung Camilla sudah keluar pagar kosan.


Camilla terus berjalan dan berjalan santai dengan kepala tertunduk, menatap trotoar jalan Halat. Namun, langkahnya terhenti saat berada di depan kafe tempat dimana ia bertemu dan di tolong oleh Wijaya.


Kedua kelopak matanya mengingat kembali kejadian waktu itu, kejadian di mana ia sedang bereaksi mencopet. Ia, terjatuh, di tolong oleh Wijaya.


Camilla menghela nafas berat, "Fyuh! kenapa setelah aku jauh darinya semua kenangan itu terus muncul. Seharusnya aku senang saat aku sudah jauh darinya. Tapi kenapa...kenapa aku terus memikirkannya?" bergumam, lalu ia kembali melangkah, melewati kenangan kejadian waktu itu.


Sementara, saat Camilla terus berjalan, mobil milik Wijaya melintas. Jendela mobil terbuka, nampak dari luar wajah kusut Wijaya dan Varo terus menatap sekeliling jalan kota Halat. Mencari kemana Camilla pergi.


Langkah Camilla terhenti di salah satu pusat keramaian, menyelinap masuk ke dalam pusat keramaian tempat orang berjualan. Tangan mungil itu kembali bekerja dengan lincahnya, menyelinap masuk ke dalam sela kantung tas dan sela celana para pengunjung.


Setelah berhasil mendapatkan barang milik mangsanya, ia memasukkan ke dalam jaket hitam miliknya. Camilla kembali melangkah dengan santainya.


.


Sementara itu di dalam mobil milik Wijaya terus melaju tak tentu arah, menelusuri kota Medan.

__ADS_1


"Di mana kau, Camilla?" Wijaya bergumam, kepalanya terasa berdenyut hingga pusing teramat sakit.


Wijaya terus memikirkan kemana Camilla pergi. Hal sepele, berujung dengan kehilangan.


"Sebaiknya kita lapor ke pihak berwajib aja, tuan," usul Varo, kasihan melihat Wijaya seperti tersiksa.


"Kita kehilangannya belum 24 jam. Terus saja mencarinya, aku sangat yakin akan menemukannya seperti biasanya," ucap Wijaya sendu.


"Baik tuan," angguk Varo, terus melajukan mobilnya dengan pelan.


Sepanjang mobil melaju, Varo sesekali melirik Wijaya dari kaca spion tengah. Melihat wajah kusut mengandung kecemasan tak biasa.


'Kemana sih, dek Camilla. Saya pikir gurauan adek saat berjumpa dengan nona Mayang adalah gurauan biasa. Ternyata adek benar-benar pergi. Apa yang membuat adek kabur seperti ini?' batin Varo.


Sampai tengah malam Varo dan Wijaya terus mencari keberadaan Camilla. Dering ponsel, panggilan nomor rumah terus memanggilnya, menyuruhnya untuk pulang.


Suara mungil dari bocah lelaki merindukan Camilla, terus menyuruh Wijaya untuk pulang. Andy, ia tidak bisa tidur tanpa kehadiran Camilla.


Wijaya pun memutuskan untuk pulang. Mobil sudah terparkir di garas. Andy terlihat berlari dari dalam rumah, menyambut kedatangan Wijaya, memasuki teras rumah.


"Papa..." Andy menoleh ke belakang, sorot matanya seperti mencari seseorang. Namun, wajah orang itu tak terlihat.


"Maaf kenapa Pa?" tanya Andy, menengadahkan kepalanya.


"Camilla menghilang. Papa tidak tahu kemana ia pergi. Maafkan Papa," Wijaya meminta maaf berulang kali, ia berjongkok, memeluk tubuh mungil Andy.


Wajah Andy tampak ragu, kedua tangan mungil mendorong kasar tubuh bidang Wijaya.


"Papa pasti berbohong. Papa pasti berantem dan mengusir Kak Camilla. Papa jahat! Kenapa Papa tega mengusir Kak Camilla, apa salah Kak Camilla sama Papa!" bentak Andy lirih, cairan bening mulai menggenang di kedua bola mata hitam pekatnya.


"Papa tidak mengusirnya, tadi Camilla pergi keluar karena merasa bosan di ruangan. Varo juga melihatnya dan sempat berpapasan juga dengan tante Mayang. Setelah itu Camilla tidak muncul lagi. Maafkan Papa. Papa terlalu percaya akan ucapannya," jelas Wijaya.


Wijaya merasa ada dua kemungkinan Camilla pergi begitu saja. Pertama, apakah karena Wijaya spontan menciumnya tanpa permisi. Kedua, apakah Camilla pergi karena ia malas melihat Mayang. Hal itu menjadi tanda tanya besar di dalam hati Wijaya.


Bug bug!


Tangan mungil Andy memukul pelan bidang dada Wijaya. Tangisan dari suara mungil terus keluar dari bibir Andy.

__ADS_1


"Papa jahat, tante Mayang juga jahat sama Papa. Aku tidak akan pernah merestui hubungan Papa dengan tante Mayang. Tidak akan pernah .....tidak akan!" teriak Andy, lalu ia berlari masuk ke dalam rumah.


Wijaya menghela nafas, memijat pelan pelipisnya bertambah tegang.


"Maafkan Papa, Andy. Papa janji akan membawa Camilla kembali pulang. Papa dan tante Mayang sudah putus, dan kami tak akan mungkin menikah," gumam Wijaya lirih.


'Kenapa kedua tuan rumah ini menjadi sangat galau. Termasuk saya. Rumah ini menjadi sunyi kembali tanpa ada suara teriakan dek Camilla. Suasana hati tuan besar, dan tuan muda kembali meredup. Sebaiknya saya yang mencari keberadaan dek Camilla. Saya tidak ingin membuat suasana rumah ini kembali dingin dan suram,' batin Varo.


Varo memegang bahu Wijaya, "Tuan, izinkan saya mencari dek Camilla," pinta Varo sopan.


"Aku ikut," sahut Wijaya, ia perlahan berdiri, menatap wajah serius Varo dengan wajah lesu nya.


"Maaf, saya tidak mengizinkan tuan ikut. Wijaya tuan terlihat sangat lelah, lebih baik tuan beristirahat dulu. Tuan besar juga jangan lupa makan, jaga kesehatan buat tuan muda, Andy," tolak Varo sopan.


"Baiklah, aku mau melihat Andy. Kamu hati-hati," hela Wijaya pasrah.


Wijaya balik badan, melangkah lesu masuk ke dalam rumah. Varo berbalik badan, ia melangkah menuju garasi mobil, lalu melajukan mobil.


Sementara itu di teras kos-kosan milik tante pemilik kosan. Camilla duduk santai bersama dengan tante pemilik kosan, menikmati martabak dari Terang bulan.


"Memang kalau Martabak mahal rasanya enak kali. Ada duit kau. Kok bisa kau belik banyak makanan mahal seperti ini?" tanya tante pemilik kosan dengan mulut di penuhi makanan.


"Kalau cari uang dengan yang haram, maka semua uang itu harus di belikan dengan makanan mewah. Sudah makan aja, jangan banyak kali omong kosong mu, tante girang," sahut Camilla santai.


"Uang haram kau bilang! sudahlah nggak jadi makan aku. Kau makan sendiri aja lah makanan itu," tante pemilik kosan meletakkan kembali potongan martabak ke dalam kotaknya.


"Banyak kali gaya kau. Kau juga seringnya makan pakek uang haram. Enak-enak kau sama laki-laki lain di luar sana. Zina juga nya kau. Kau pikir itu bukan hal kotor. Jangan sok nasehati aku, kau. Sama-sama nya kita, tapi bedanya sebelum aku masuk Neraka, aku mau taubat dulu. Mau cari suami masa depan seorang Ustad," celetuk Camilla kesal.


"Ha ha ha....ustad. Kau pikir Ustad semuanya baik. Hei, hei bocah masih di bawah 20 tahun, berguru dulu kau denganku!"


"Lebih baik aku berguru sama Iblis dari pada sama manusia setengah Dajjal seperti kau!" sahut Camilla seolah tak takut.


"Hai....memanglah kau ini kasar sekali. Pantas aja nggak lelaki yang jatuh cinta padamu. Wajah dan lekuk tubuh mu sangat bagus, tapi mulutmu itu...aduh, duh!"


"Alah, bacot! kau cerai juga karena kegatalan. Sukanya goda-godain brondong, marahi lakik mu di depan banyak orang. Sok-sokan seperti Malaikat kau!" ketus Camilla mengingatkan siapa tante pemilik kosan dulu.


"Memanglah, kalau sudah ngomong samamu, aku nggak bisa menang. Ialah, kau paling pintar dan baik segalanya," hela tante pemilik kosan.

__ADS_1


"Sudahlah, aku mau tidur dulu," pamit Camilla, ia beranjak pergi, masuk ke dalam kamar kosannya.


__ADS_2