BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 37. Menikahi Kak Camilla untukku


__ADS_3

Tak sampai 1 jam, mobil Wijaya, dikuti oleh Lafi, sudah sampai di halaman rumah Wijaya. Di teras rumah sudah menunggu anak kecil, yaitu Andy.


Andy tak sabaran menunggu Camilla turun, ia berlari mendekati mobil Wijaya, diikuti Varo.


"Kak Camilla, Kak Camilla!" teriak Andy semangat.


Mayang mendengar teriakan Andy dari luar mobil hanya bisa menarik nafasnya, lalu membuang wajahnya ke sisi lain.


'Ck, dasar anak manja. Kenapa anak satu ini tidak pernah menghargai kehadiranku. Apa perlu aku habisi saja anak ini, agar aku hanya hidup berdua dengan Wijaya setelah kami menikah,' batin Mayang memiliki niat buruk kepada Andy.


Wijaya turun, membuka pintu mobil Camilla, lalu membuka pintu Mayang.


"Andy, sayangku!" sapa Mayang setelah turun dari mobil.


Mayang mendekat ke Andy saat ini berdiri di samping Camilla.


"Tante Mayang baik-baik saja?" tanya Andy bingung melihat sikap tak biasa Mayang.


"Tentu saja tante baik-baik saja. Tante hanya merindukan kamu, sayang," sahut Mayang, ia mengambil alih genggaman tangan Camilla. Namun, Andy segera melepaskannya.


Andy menengadahkan wajahnya, menatap wajah Camilla, "Kak, kita masuk yuk!" ajak Andy, sorot matanya terlihat tidak nyaman.


Camilla mengangguk saat menyadari perubahan sikap Andy tak nyaman berada di dekat Mayang.


Camilla dan Andy pun melangkah bersama, masuk ke dalam rumah.


"Sayang, maafkan Andy," ucap Wijaya meminta maaf kepada Mayang.


"Bukannya anak kecil memang seperti itu. Kamu tidak perlu sungkan sayang," sahut Mayang seolah memaklumi kelakuan Andy.


"Syukurlah kalau kamu sudah mulai mengerti sifat anak-anak. Kamu mau masuk?" ajak Wijaya, tangannya mengarah ke rumah.


"Oh... ti-tidak usah sayang. Sebaiknya aku pulang saja, mau istirahat sebelum besok pagi berangkat untuk pemotretan," tolak Mayang sopan.


"Kalau gitu, aku antar kamu," tawar Wijaya.


"Ti-tidak usah sebaiknya aku pulang sendiri saja," tolak Mayang.


"Yakin bisa pulang sendiri?" tanya Wijaya kuatir.


Cup!


Mayang tidak menjawab, ia mengecup sekilas pipi Wijaya, lalu ia berlari masuk ke dalam mobil.


"Daa...besok setelah pulang pemotretan aku mampir lagi, sayang!" teriak Mayang, mengeluarkan kepalanya sedikit dari jendela mobil, tangannya melambai.


"Iya, aku tunggu," sahut Wijaya.


Merasa iri akan kebahagiaan di dapat oleh Wijaya. Lafi masuk ke rumah dengan wajah kesal.


Setelah kepergian Mayang. Wijaya balik badan, mendekati Varo.

__ADS_1


"Gimana dengan laporan bisnis yang berada di kota B?"


"Radim bilang, berjalan dengan lancar tuan," sahut Varo.


"Bagus. Oh ya, 2 minggu lagi Andy ulang tahun. Acara apa yang harus aku persiapkan untuk putraku?" Wijaya meminta pendapat Varo.


"Lebih baik kita tanyakan langsung kepada tuan muda. Saya tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri, tuan," sahut Varo.


"Tapi, aku tidak terbiasa akan hal ini. Tahun kemarin saja aku melupakannya, hingga dia marah besar kepadaku," hela Wijaya sedikit frustasi.


"Lebih baik tanyakan saja pada dek Camilla," usul Varo.


"Mana mungkin. Sudahlah aku persiapkan saja sendiri!"


Wijaya melangkah, masuk ke dalam rumah. Melihat Andy belajar dengan Camilla di ruang tamu, Wijaya menghentikan langkahnya, berdiri di samping Andy.


"Belajar apa?" tanya Wijaya basa-basi.


"Menggambar Pa," sahut Andy, tangan terus mencoret-coret warna di kertas lukisan hewan.


"Lukisan kamu bagus juga," puji Wijaya, mendudukkan dirinya di lantai, di samping Andy.


"Benarkah Pa?" tanya Andy dengan bola mata berbinar terang.


"Benar. Anak Papa semakin lama semakin pintar," puji Wijaya kembali.


Varo terkejut melihat perubahan Wijaya. Apa semua perubahan ini ada hubungannya dengan Camilla?


'Tumben Om duda mau basa-basi. Apa dia sudah sadar letak kesalahannya? kalau memang iya, baguslah. Om duda sekarang sudah memperhatikan anaknya kembali,' batin Camilla merasa lega.


Andy tiba-tiba bertanya, membuat Wijaya, Varo, dan Viona ketepatan baru saja datang membawa minuman terkejut. Tidak biasanya Andy bertanya dan meminta seperti ini.


"Silahkan di minum," ucap Viona meletakkan gelas minuman.


"Iya, terimakasih Bi," ucap Wijaya.


"Maaf, tadi saya mendengar jika tuan muda ingin mengadakan acara ulang tahun. Bibi senang mendengarnya. Setelah kepergian almarhum nona besar, kita akan mengadakan acara kembali," Mayang berbicara dengan raut wajah senang.


"Benar, Bibi juga senang kalau aku mengadakan pesta ulang tahun?"


"Tentu saja bibi senang," angguk Viona.


Andy melirik ke Camilla, "Kak Camilla sendiri?" tanya Andy meminta pendapat Camilla.


"Tentu saja, kalau kau senang, aku juga ikut senang," sahut Camilla.


Saat mereka saling bertanya tentang pesta ulang tahun Andy, datang seorang pria memasuki ruang tamu. Pria itu adalah tukang kebun, bernama Baron.


"Ada apa Baron?" tanya Wijaya setelah Baron berdiri di belakangnya.


"Saya ingin melapor jika pupuk bunga, dan beberapa bahan untuk kebun telah habis tuan," sahut Baron memberitahu, sesekali sorot matanya mengarah ke Camilla, melihat kedua paha mulus Camilla yang tak tertutup kain baju dress.

__ADS_1


"Tulis aja apa yang kurang, nanti akan aku pesankan. Satu lagi, tolong rapihkan taman dengan sangat rapih. Karena minggu depan akan di adakan pesta ulang tahun Andy," Wijaya memberitahu.


"Baik tuan," sahut Baron. Namun, sorot matanya masih tertuju pada Camilla.


"Kamu kenapa terus melihat ke arah Camilla?" tanya Wijaya ternyata menyadari hal itu.


"I-itu tuan, maafkan saya. Saya hanya penasaran, sebenarnya gadis ini kerja sebagai apa di sini," sahut Baron memberanikan diri untuk bertanya.


"Loh, aku pikir kamu sudah tahu..."


"Perlu kenalan kita bang?" sela Camilla bertanya dengan ramah.


Baron terpukau saat melihat langsung wajah Camilla. Wajah bening, dan masih suci dari seorang wanita.


'Benar-benar cantik,' batin Baron.


Melihat tatapan Baron tak biasa pada Camilla. Wijaya merasa risih, ada rasa cemburu juga mulai melanda hatinya.


"Baron, bukannya kamu harus menulis apa yang kurang," tegur Wijaya mengejutkan Baron.


"I-iya tuan. Saya permisi dulu," pamit Baron.


Baron pun pergi, sesekali ia menoleh ke belakang, menatap Camilla saat ini kembali sibuk dengan Andy.


'Ternyata gadis itu sangat cantik jika di lihat dari dekat. Pantes saja Viona sangat ingin menyingkirkannya,' batin Baron, kedua kaki terus melangkah.


Selesai sudah gambaran Andy.


Camilla meregangkan tubuhnya, "Akh! selesai juga. Badanku rasanya pegal-pegal, rendaman dengan air hangat enak juga," gumam Camilla di dengar oleh Andy.


"Ikut Kak!"


Andy berdiri lebih dulu, kedua bola mata indah penuh harap, memancarkan binar terang penuh harap.


"Aku tidak bisa," tolak Camilla mematahkan harapan Andy.


"Kenapa Kak?" tanya Andy lirih.


"Nggak mungkinlah aku mandi berduaan di dalam bak dengan seorang bocah lelaki," jelas Camilla, pikirannya mulai aneh.


"Kak, ikut kenapa. Atau kita mandi bertiga dengan Papa," pinta Andy menambahkan. Wijaya, Varo dan Viona terkejut mendengarnya.


"Ada-ada aja kau ini. Nggak mungkinlah, masa aku mandi, Papa kau ikut juga!" teriak Camilla kikuk, wajahnya terlihat memerah karena malu.


"Dulu Papa dan almarhum Mama begitu. Selalu mandi bertiga dengan aku. Kenapa Kakak tidak mau?" tanya Andy dengan polosnya.


"Mereka sudah menikah. Kalau aku belum, ada-ada aja!" hela Camilla dengan suara pelan.


"Kalau gitu menikahlah dengan Papa, agar aku, Kak Camilla, dan Papa bisa mandi bersama," Andy mengarahkan pandangannya ke Wijaya, "Papa, menikah dengan Kak Camilla untukku dong, Pa!" lanjut Andy penuh harap.


"Tidak bisa Andy. Papa akan bertunangan dengan tante Ma...."

__ADS_1


"Kalau gitu lamar juga Kak Camilla untukku!" sela Andy tegas.


"Eh!"


__ADS_2