
Seminggu berlalu. Waktu pernikahan pun tiba. Mayang sudah masuk ke dalam sel tahanan, di tangkap atas tuduhan mencoba mencelakai seseorang. Sedangkan pria bertato di tuntut pelecehan. Lafi sendiri memutuskan untuk berdamai pada diri sendiri. Ingin mencari kebahagiaan baru di luar sana, ia memutuskan untuk pergi menjadi seorang fotografer keliling dunia.
Dengan tas besar, beberapa kamera menggantung di lehernya, Lafi berdiri di depan pintu Bandara Internasional Daniel K. Inouye (HNL) di Honolulu, Oahu. Ini adalah pintu masuk utama bagi banyak wisatawan yang mengunjungi kepulauan tersebut.
"Jalan seperti ini kayaknya lebih baik."
Lafi merasa lega saat dirinya memilih jalan lurus. Ia kini masih berada di sana, menatap pemandangan menakjubkan dari gunung berapi dan pantai yang indah dapat dinikmati saat pesawat datang atau berangkat.
***
Hari pernikahan Wijaya dan Camilla adalah hari pernikahan yang penuh dengan kebahagiaan dan keindahan. Matahari pagi bersinar terang, menandakan awal dari hari yang istimewa bagi mereka berdua.
Pagi itu, Wijaya dan Camilla bangun dengan hati yang berdebar. Mereka merasa campur aduk antara gugup dan bersemangat menghadapi momen yang akan datang. Para kerabat terdekat tiba di tempat pernikahan, sedangkan Andy, ia membawa senyuman dan harapan yang cerah untuk pasangan baru ini.
"Akhirnya!"
Andy benar-benar lega saat melihat Papanya memilih seorang wanita yang menjadi pilihannya untuk menjadi Mama sambungnya.
Ceremoni pernikahan dilangsungkan di taman belakang rumah, dihiasi bunga-bunga segar dan dekorasi elegan. Wijaya dan Camilla duduk di kursi, tempat mereka akan melakukan janji suci.
Detik demi detik berlalu. Langit cerah berganti malam, semua tamu undangan sudah pulang. Andy juga telah tertidur lelap di dalam kamarnya. Wijaya dan Camilla terbaring di atas ranjang dihiasi kain seprai yang lembut, indah dan elegan. Bantal-bantal hias diletakkan di atas tempat tidur, dengan motif bunga-bunga berwarna pink. Tirai jendela berbahan transparan berwarna pink muda, memberikan kesan privasi sambil memungkinkan cahaya matahari masuk ke dalam kamar.
"Benarnya ini kita sudah menikah?"
Camilla masih tak yakin jika saat ini dirinya telah resmi menjadi istri dari seorang pria yang pernah dibenci dirinya.
"Iya, sekarang kamu telah resmi menjadi istri dari WIJAYA ATMAJI. Kamu juga resmi menjadi nyonya ATMAJI!" sahut Wijaya tegas, diliriknya wajah Camilla yang masih dipoles makeup.
"Kalau aku tidak mau memakai gelar pemberian kau, Om?!" tanya Camilla seperti menolak gelar pemberian Wijaya.
"Maka aku akan memberi hukuman lebih berat lagi!" tegas Wijaya, menarik tubuh Camilla.
__ADS_1
Tarikan kasar membuat Camilla terjatuh di atas bidang dada Wijaya. Hal itu membuat mereka kedua mata nanar bola mata merasa saling bertemu, debaran jantung tiba-tiba berubah saat ada gejolak aneh mulai merasuki pikiran mereka masing-masing.
"Aku ingin 10 anak darimu!" bisik Wijaya.
Malu untuk meminta malam pertama duluan, Wijaya sengaja membisikan kata-kata konyol. Camilla terkejut, spontan ia membulatkan kedua bola matanya.
"Gila, kau Om!"
Tidak ingin terjebak dengan tatapan penuh gairah Wijaya. Camilla ingin bangkit dari tubuh Wijaya. Namun, Wijaya menarik tangan Camilla, membawanya kembali tertidur di atas dasar bidangnya.
"Bercanda. Aku tidak menuntut banyak atau memiliki anak secepatnya dari kamu. Aku hanya ingin menghabiskan waktu berduaan saja dengan kamu. Bahasa gaulnya, kita pacaran setelah menikah!"
Mengerti ini adalah hal pertama bagi Camilla, ia meralat ucapannya. Masih ingin mencium aroma harum dari tubuh sang istri, Wijaya mengeratkan pelukannya pada pinggul Camilla, membiarkan tubuh mungil masih berbalik baju pengantin berbaring di atas dadanya. Tangannya menyingkap beberapa helai rambut menutupi wajah cantik sang istri yang perlahan jatuh.
"Aku juga. Aku ingin selama...lamanya bersama dengan Om dan juga Andy. Oh! jangan lupa, aku juga masih ingin melihat babang Radim dan Varo yang selalu membuat hati ini tenang," ucap Camilla mengajukan permintaan.
Atas permintaan Camilla yang terlalu jujur, tanpa memikirkan jika dirinya saat ini telah menjadi seorang istri. Wajah Wijaya yang tadinya bersinar terang dan penuh gairah ingin segera melahap Camilla perlahan meredup. Raut wajah itu berubah menjadi rasa cemburu yang seperti tidak terbendung lagi.
"Aku tahu. Tapi kalau kita melihat wajah seseorang selain suami kita, 'kan tidak masalah!" sahut Camilla santai.
"Tidak boleh, tidak boleh. Hati dan pandangan kamu hanya ada boleh aku, Wijaya Atmaji. Lagian seorang istri juga tidak boleh melihat lelaki lain selain suaminya," tolak Wijaya sambil menatap wajah Camilla tepat di hadapannya.
Merasa pendapat Wijaya tidak masuk akal. Camilla melayangkan sebuah protes, ia mendapatkan wajahnya ke wajah Wijaya, sehingga nafas mereka saling bersahutan.
"Apakah peraturan itu juga berlaku pada Om?"
"Tentu saja, " sahut Wijaya cepat, pandangan turun ke bawah, berhenti di bibir ranum Camilla.
Lelah karena posisi tidurnya seperti itu, Camilla perlahan melepaskan tubuhnya dari dekapan Wijaya, memilih untuk duduk di samping Wijaya. Mengingat jika malam ini adalah malam pertama mereka, Camilla bertanya tanpa malu.
"Om, bukannya ini malam pertama kita?"
__ADS_1
"Iya, kenapa?" sahut Wijaya cepat.
"Aku pernah dengar jika malam pertama akan ada pertempuran dahsyat di ranjang. Apakah itu benar?"
"Tentu saja, lebih dahsyat dari sebelumnya," sahut Wijaya, bibirnya menyeringai penuh maksud.
Camilla mengernyitkan dahinya, bola mata memandang ke langit-langit kamar. "Wah, pasti akan banyak keringat dan darah di ranjang kita nanti!"
"Tidak sampai berdarah, paling tidak bisa berjalan," sahut Wijaya.
Karena telah mendapat sebuah kode dari Camilla. Wijaya menarik kembali tubuh Camilla untuk tidur tepat di depannya, memeluk tubuh mungil Camilla dari belakang.
"Mau apa Om?" tanya Camilla panik.
"Memulai pertempuran," sahut Wijaya.
Karena sudah lama absen dari dunia persilatan suami-istri, tanpa ba bi bu. Wijaya mulai melucuti baju mereka. Camilla mendapat perlakuan spontan hanya bisa terdiam, bodoh seperti patung.
"Kenapa harus membuka bajuku?!" tanya Camilla meninggikan nada suaranya.
"Biar bebas bergerak," sahut Wijaya santai.
"Perasaanku mulai tak nyaman," bergumam.
Nafsu sudah berada di ujung ubun-ubun, Wijaya memulai serangannya. Camilla menerimanya dengan senang hati. Membiarkan Wijaya menjelajah di beberapa titik yang terus membuat dirinya menggigit bibirnya sendiri.
1 jam sudah mereka bergerak bebas di ranjang, setelah puas dengan apa yang mereka inginkan. Wijaya dan Camilla merebahkan tubuh polos, di bawah selimut hangat. Volume pendingin ruangan sudah di buat sedingin mungkin, tapi itu tidak bermanfaat untuk Wijaya dan Camilla. Karena Camilla telah menyerahkan kesuciannya kepada Wijaya, ia terus mencium kening Camilla yang mengkilap karena keringat. Benar-benar berterima kasih karena Camilla masih menjaga kesuciannya.
"Terimakasih sudah menjadi istriku. Terimakasih," ucap Wijaya tulus.
"Terimakasih juga sudah menjadi suamiku, dan menerima semua kekurangan ku," sahut Camilla, membenamkan wajahnya ke bidang dada Wijaya.
__ADS_1
~ TAMAT~