BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
BAB 31. Sebuah foto


__ADS_3

Pagi itu, setelah selesai sarapan, Wijaya melangkah menuju ruang kerjanya, diikuti Lafi. Sesampainya di dalam ruangan Wijaya balik badan, menatap Lafi, berdiri di belakang nya dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Ada apa?"


"Tidur di mana tadi malam bang?" Lafi balik bertanya.


"Bukan urusanmu," sahut Wijaya singkat, lalu ia melangkah mendekati meja kerja, mengambil dokumen penting miliknya.


"Apa maksudnya ini bang?" Lafi menunjukkan foto Wijaya tidur sambil memeluk Camilla. Wijaya melihat foto itu spontan mengerutkan dahinya.


"Jangan mengancam ku dengan foto murahan kamu. Hapus itu Lafi!" tegas Wijaya.


"Abang tahu saja kalau aku ingin mengancam. Aku akan menghapusnya, asalkan abang mengizinkan aku mendekati Camilla," cetus Lafi di sela tawa sumbang nya.


"Kalau itu aku tidak bisa."


"Abang menyukai wanita itu?" tanya Lafi, Wijaya terdiam, tangan memegang dokumen semakin mengerat.


"Tidak bisa menjawab, berarti abang benar-benar menyukai Camilla," Lafi balik badan, tangannya menggoyang ponsel berisi fotonya dan Camilla, "Apa jadinya kalau foto ini aku kirimkan ke Mayang. Pasti calon Kakak iparku sangat sedih," lanjut Lafi kembali mengancam.


"Jangan lakukan hal itu. Baiklah, aku akan mengizinkan kamu untuk mendekati Camilla. Tapi kau hapus dulu foto itu," sahut Wijaya tak ingin hubungannya dengan Mayang berakhir kandas.


Dengan senang hati Lafi menghapus foto Camilla dan Wijaya.


"Baiklah, kalau gitu atur pertemuanku hanya berdua dengan Camilla!"


"Baik. Tapi, kamu harus berjanji tidak melakukan hal aneh kepada Camilla!" Wijaya mengingatkan Lafi.


"Abang tidak perlu mengingatkan aku. Aku janji tidak akan melakukan apa pun pada gadis itu," Lafi menepuk pundak Wijaya.


"Hari ini aku tidak terlalu banyak membutuhkan dia. Kamu bisa mengajak Camilla berkeliling kota Medan," cetus Wijaya langsung memberi saran, dan mengizinkan Lafi membawa Camilla.


"Serius?!"


"Iya, pergilah. Tapi kamu harus janji tidak melakukan hal aneh kepada Camilla," Wijaya kembali mengingatkan.


"Beres!" Lafi memberikan jempol.


Lafi langsung pergi meninggalkan ruangan Wijaya. Langkahnya terlihat buru-buru ingin menyusul Camilla berada di ruang tamu bersama dengan Varo.


Sesampainya di ruang tamu, berdiri di samping Camilla. Lafi langsung menggenggam tangan Camilla, membuat Camilla heran dan segera menarik kembali tangannya.


"Apanya kau bang!" ketus Camilla tak suka.

__ADS_1


"Hari ini dan untuk beberapa hari ke depan kamu libur bekerja dengan abangku. Pekerjaan kamu hanya bersamaku saja!" sahut Lafi santai.


Camilla melirik ke datangan Wijaya, kini sudah berdiri di samping Lafi.


"Apa maksud dari ucapan adekmu ini Om duda?" tanya Camilla sedikit bingung.


"Pergelangan kakimu masih sakit. Jadi, aku memberikan kamu libur selama beberapa hari. Lafi akan menemani kamu selama libur kamu, dan sampai pergelangan kaki kamu benar-benar sembuh," sahut Wijaya berbohong dengan santai.


"Gila aku rasa kau ini! kau pikir aku mainan. Aku tidak mau!" tolak Camilla tegas.


Lafi langsung menatap Wijaya dengan tatapan tak suka. Wijaya menyadari tatapan itu. Wijaya cepat mengambil tas kerja berisi laptop miliknya, ia ingin segera pergi agar terbebas dari masalah Camilla dan Lafi.


"Ayo jalan!" perintah Wijaya tegas ke Varo.


Varo nurut, ia berdiri. Sepasang bola matanya diam-diam melirik ke Lafi, seringai nakal terlihat di wajah Lafi. Namun, Varo tidak bisa melakukan apa pun karena dirinya saat ini sedang bekerja.


"Lafi, aku titip Camilla!" pinta Wijaya, lalu ia pergi bersama dengan Varo.


Camilla hanya diam, menatap kepergian Wijaya dan Varo.


'Awas saja kau, Om duda! aku akan beri pelajaran setelah pergelangan kaki sembuh,' ancam Camilla dalam hati.


Lafi meletakkan tangannya di atas pundak Camilla, "Temani aku ke apartemen yuk, dek. Soalnya ada beberapa barang yang belum aku ambil," ajak Lafi lembut.


"Aku tidak mau!" tolak Camilla tegas.


"Tidak. Wajah abang hanya terlihat seperti orang mesum," jujur Camilla.


"Hahaha....aku ini tidak seperti itu. Kamu tenang saja," elak Lafi.


"Haruskah aku percaya sama abang?"


"Aku tidak menyuruhmu untuk percaya padaku. Aku hanya ingin meluruskan tuduhan kamu. Aku tidak seperti itu!" jelas Lafi membela dirinya sendiri.


Camilla diam, ia hanya melirik Lafi.


"Dek, gimana dengan permintaan abang. Soalnya abang butuh alat-alat abang untuk bekerja," bujuk Lafi.


"Baiklah, aku akan menemani abang. Tapi hanya untuk hari ini saja, tidak untuk hari-hari selanjutnya," sahut Camilla mencoba percaya.


"Iya, lagian aku bekerja. Kamu juga kerja dengan abangku. Mana mungkin aku terus-menerus meminta kehadiran kamu!" jelas Lafi di sela tawa sumbang nya.


Camilla perlahan beranjak dari duduknya, "Kalau gitu sekarang kita pergi?" tanya Camilla.

__ADS_1


"Iya, kamu bisa berjalan?"


"Bisa, meski sedikit tertatih," angguk Camilla.


"Aku gendong saja," Lafi menggendong Camilla tanpa menerima izin dari Camilla.


"Bang, turunkan aku!" pinta Camilla meninggikan nada suaranya.


"Kalau kamu terluka lagi, aku yang akan di marahi abang Wijaya. Sudah, kamu diam saja. Lagian aku tidak akan melakukan hal apa pun kepada kamu!" jelas Lafi terlihat serius.


Lafi terus melangkah menuju mobilnya sudah terparkir di depan teras rumah. Lafi segera membuka pintu mobil penumpang bagian depan, meletakkan Camilla di kursi dengan lembut, lalu ia berlari dan masuk.


Mobil Lafi pun mulai melaju, meninggalkan gerbang rumah. Di bawah pohon mangga, ada seorang pria, tangannya memegang gunting kebun, sorot mata penuh tanya menatap kepergian mobil Lafi.


Mobil terus melaju menuju apartemen milik Lafi berada di kota Medan. Sepanjang perjalanan, Lafi terus memandang setiap kulit putih mulus Camilla.


Camilla menyadari hal itu, diam-diam sorot matanya ternyata memandang gerak-gerik Lafi terlihat di pantulan kaca jendela mobil.


'Dasar otak mesum. Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Awas saja kalau kau berani macam-macam padaku. Akan ku buat kau berhenti mengejar, dan akan ku buat kau menjadi budakku. Ha ha ha ha...' batin Camilla, tanpa ia sadari suara tawanya itu keluar hingga Lafi sedikit ngeri melihatnya.


"Dek, kenapa?" tanya Lafi penasaran.


"Ha...emang aku kenapa bang?" tanya Camilla berusaha tenang dan kembali normal.


"Tadi adek tertawa. Emang apa yang lucu dek?"


"Oh... itu, aku tadi sedang membayangkan gimana kalau tiba-tiba kekasih abang muncul di apartemen," sahut Camilla asal ceplos.


"Ha ha, abang sudah bilang. Abang tidak memiliki kekasih. Wanita-wanita itu hanya datang untuk meminta kesenangan saja. Adek tahu maksud abang, 'kan?" sahut Lafi berbohong.


"Tentu saja tidak. Aku ini masih kecil, jadi tidak tahu menahu soal orang dewasa!"


"Kalau adek pacaran sama abang, pasti adek akan tahu tentang hal orang dewasa. Abang akan mengajarkannya secara gratis," cetus Lafi dengan seringai jahatnya.


"Benarkah?"


"Iya. Tapi jangan kasih tahu abang ku, kalau adek mau menjadi kekasihku. Soalnya ia sangat marah jika aku mendekati kamu!" cetus Lafi.


Camilla memutar bola mata tengahnya, 'Apalah sih, Om duda itu. Emang dia bapakku apa! ngatur-ngatur hidupku,' batin Camilla.


.


.

__ADS_1


💫 Di ruangan Wijaya 💫


Wijaya mengerutkan dahinya saat melihat sebuah GPS berjalan menuju ke suatu tempat. Wijaya langsung beranjak dari duduknya, melangkah besar meninggalkan ruangannya.


__ADS_2