BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 58. Aku Terjangkit Virus HIV


__ADS_3

Wijaya sudah mengerahkan seluruh pasukan bayarannya setelah ia tahu di mana mobil itu terparkir.


Wijaya memang terlihat biasa saja, tidak seperti pebisnis pada umumnya, terlihat kaya raya, dan mencolok. Ia berbeda, meski terlihat seperti seorang pebisnis sederhana, Wijaya diam-diam mempunyai pasukan khusus untuk di andalkan.


Mobil Wijaya terus melaju kencang, membelah jalanan sepi dan berkabut karena hujan malam itu. Ia tidak bergerak sendiri, pasukan khususnya sudah bersembunyi di tempat penculik Camilla.


Ciiitt!


Decitan suara rem mobil terdengar.


Wijaya turun, pasukan khusus berjaga di setiap celah tak terlihat langsung membuat formasi, menunggu aba-aba dari Wijaya.


Kedua kaki tegap itu melangkah besar dengan santainya masuk ke dalam gerbang musuh, karena beberapa pasukan khusus sudah melumpuhkan anak buah musuh.


"Sampai kamu terluka sedikit saja, aku akan membuat orang itu kehilangan beberapa tulang nya!" bergumam.


Sementara itu di dalam kamar redup. Camilla terbaring tanpa memakai busana, hanya bagian tertentu saja tertutup oleh kain tipis, hingga mencetak bentuk itu.


"Dimana aku?" gumam Camilla, memandang sekeliling ruang redup itu.


"Sudah bangun?" tanya pria bertato sudah berdiri di samping ranjang.


Menyadari hawa dingin berhembus di kulitnya, Camilla menunduk, terkejut melihat tubuhnya seperti itu. Camilla menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Siapa kau?!"


"Aku adalah tuanmu!" sahut pria bertato merangkak naik ke ranjang.


"Bagus sikut kau cakap. Tuanmu! kau pikir aku seorang hewan peliharaan!" ketus Camilla, ia turun dari ranjang, dan berlari.


"Kasar sekali ucapan kamu. Tapi aku tidak masalah, justru wanita seperti kamu sangat sulit aku cari."


Pria bertato turun ranjang, melangkah sesuai dengan pergerakan Camilla.


"Kalau aku tidak. Kau bukanlah type ku. Memiliki tubuh kekar, tapi seluruh tubuh di tato. Kau kira tubuh kau buku gambar!" oceh Camilla, kedua tangannya meraba ke dinding, mencari dimana letak tombol lampu.


"Lantam nya mulutmu gadis. Aku sudah tidak sabar untuk membungkam mulut mu itu!"


Pria bertato memegang bahu Camilla dari belakang, dan menekannya kuat.

__ADS_1


'Duh...duh...tekanan tangannya sangat kuat. Bagaimana aku bisa kabur ini? mana aku berdiri dengan tubuh seperti ini. Bisa masuk anginlah aku,' gumam Camilla dalam hati.


Tanpa aba-aba tubuh Camilla di pepet ke dinding, kedua pergelangan tangan di pegang menjadi satu di belakang.


Pria bertato mendekat, "Aku sangat tidak tahan untuk melahap kamu setiap hari, detik, dan menit," bisik pria bertato, Camilla bergidik ngeri.


"Lapskan aku! Kenapa kau berada di belakang ku, dan kenapa kau sangat dengan dengan tubuhku?!" teriak Camilla mulai panik.


"Tentu saja aku akan membawa kamu ke pintu surga dunia. Aku sudah menunggu kamu terlalu lama untuk sadarkan diri. Sebenarnya aku bisa saja melakukan hal itu saat kamu pingsan. Karena aku ingin mendengar suara teriakan kamu, aku menunggu kamu sampai sadarkan diri," jelas pria bertato itu kembali.


Bukannya takut, Camilla malah tersenyum penuh makna.


"Aku sangat ingin menikmati momen itu kepada kau. Tapi....apa kau tidak tahu penyakit apa yang sedang aku derita saat ini?" tanya Camilla mulai memasukkan rencananya.


"Aku tidak perduli dengan penyakitmu. Aku hanya ingin melahap kamu sampai habis, menjelajahi tubuh mulus ini!" tegas pria bertato menggaris lurus di punggung Camilla dengan jarinya.


"Kau yakin? penyakit ini sangat menular, loh!" hela Camilla, mulai gelisah saat tangan pria bertato menguasai lekukannya.


"Aku bilang, aku tidak peduli!" tegas pria bertato itu kembali, tangannya menurunkan penutup segitiga.


Camilla semakin bingung, keringat dingin mulai bercucuran di dahinya.


Sejenak pria bertato terkejut. Namun, alasan dan kebohongan Camilla dapat di ketahui oleh pria bertato.


"Gadis yang cerdik. Kamu pikir aku tidak tahu gimana orang terkena virus HIV."


"A..aku..." Camilla membulatkan kedua bola matanya, merasakan ada benda bergerak berusaha mencari jalan masuk.


"OM DUDA.....WIJAYA ATMAJI DIMANA KAU! TOLONG AKU...PRIA INI INGIN MEMASUKKAN BENDA....MMMM!!" teriak Camilla saking paniknya. Namun, pria bertato membungkam mulut Camilla.


Brakk!


Pintu kamar jebol, di tunjang oleh Wijaya.


Wijaya melangkah lebar, wajah suram, tatapan ingin membuat terlihat jelas saat berjalan masuk.


Pria bertato berhenti, melihat kedatangan Wijaya berjalan ke arahnya.


"Oh....jadi dia pemilik gadis imut ini!"

__ADS_1


Wijaya berhenti di samping Camilla, dahinya mengernyit, auranya semakin gelap, melihat keadaan Camilla benar-benar miris.


"Lepaskan Camilla!" pinta Wijaya dingin.


"Enak aja, aku belum mencicipinya. Saat aku baru saja memulainya, kau sudah masuk!" tolak pria bertato santai.


"Om..dia...pria ini...dia tadi memainkan...hiks....itu...dekat anu ku....hiks...aku takut!" adu Camilla lirih.


Wijaya mengepal kedua tangannya, dadanya memburu menahan amarah. Tanpa basa-basi, Wijaya memulai serangannya.


Bug! Bam!


Camilla berhasil di rebut oleh Wijaya. Kemeja miliknya sudah melingkar di tubuh mungil Camilla. Wijaya kembali bertarung.


20 menit Wijaya dan pria bertato bertarung. Tidak suka dan terima calon istrinya di perlakukan rendah, Wijaya bertarung dengan membabi buta. Pria bertato tergeletak lemah di lantai, dengan sekujur tubuh terluka.


Wijaya menggendong Camilla, membawa calon istrinya keluar dari kamar. Beberapa pasukan khusus Wijaya berlari masuk, kepala menunduk seolah tidak boleh melihat tubuh calon istrinya, Camilla.


Camilla terus menatap Wijaya, lalu ia menunduk, membiarkan tubuh lemahnya di bawa turun dan keluar dari rumah pria bertato.


Camilla menunduk, "Jangan hukum aku atau lakukan hal kasar kepadaku, ya, Om! aku tadi tidak melarikan diri. Saat aku berjalan di koridor toilet aku di hadang. Kepalaku langsung di tutup oleh kain hitam yang ternyata sudah di beri obat bius. Lalu....lalu saat aku terbangun, aku sudah tanpa busana. Entah di mana pria itu membuang baju dress pemberian kau, Om!" jelas Camilla lirih.


Wijaya hanya diam, dadanya benar-benar sesak hingga sulit untuk bernafas.


Wijaya meletakkan Camilla dengan lembut di kursi penumpang bagian belakang, ia pun masuk ke dalam, memeluk Camilla.


"Maafkan aku. Aku percaya dengan ucapan kamu!" sahut Wijaya, mengecup singkat kening Camilla.


"Kau tidak marah padaku?" tanya Camilla senang. Raut wajahnya seolah tak memperlihatkan ketakutan atau syok atas penculikan dirinya.


"Tidak, tapi aku akan membersihkan jejak yang di pegang lelaki itu. Aku tidak sudi ada aroma dari pria lain yang bersemayam di tubuhmu," jelas Wijaya datar. Camilla panik.


"A...apa maksud kau, Om?"


"Kamu diam saja, aku akan pelan-pelan membersihkannya!"


Camilla diam, ia masih polos hanya berfikir positif. Ia berpikir jika Wijaya akan membersihkannya dengan air di dalam botol mineral. Ternyata tidak, Wijaya membersihkan jejak itu dengan caranya sendiri.


Sudah terlanjur masuk, mereka pun bermain sejenak.

__ADS_1


__ADS_2