BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 29. Pria Misterius


__ADS_3

Pukul 21:30. Camilla baru saja keluar dari kamar Andy, dengan langkah terpincang menuju anak tangga.


Semenjak kehadirannya di rumah Wijaya. Andy selalu meminta Camilla untuk menemaninya tidur. Camilla pun merasa tak keberatan tentang hal itu, ia malah senang karena ada seseorang benar-benar tulus mengharapkan tenaganya.


Langkah kaki Camilla terhenti, saat kakinya menaiki anak tangga nomor 3 dari bawah. Ada tangan tegap memegang bahunya dari belakang. Camilla menoleh ke belakang, dahinya mengernyit saat mengetahui tangan itu adalah milik Lafi.


"Lepaskan tangan abang!" tegas Camilla.


"Kenapa? bukannya siapa saja boleh menyentuh kamu. Termasuk, aku!" Lafi semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Apa mau abang?" tanya Camilla langsung.


"Aku tadinya sedang bekerja, cetak foto dan mencari tempat yang bagus untuk pemotretan 2 minggu yang akan datang. Tapi...rasa suntuk tiba-tiba melanda pikiranku. Melihat kamu di sini, dan sepertinya kamu sedang tidak ada pekerjaan. Mau tidak, kamu menemani...."


"Tidak! aku ingin istirahat!" sela Camilla tegas, ia berbalik badan, mulai melangkahkan kedua kakinya kembali, meski tertatih.


Lafi berlari, dan berhenti di depan Camilla, "Aku mohon. Kali ini jangan tolak permintaanku," pinta Lafi terdengar tulus dengan bola mata penuh harap.


Camilla terus melirik, 'Bukannya pria ini adalah selingkuhan Mayang. Tapi kenapa belakangan ini dia sering mengikuti ku? apa mereka berdua sudah putus,' batin Camilla.


"Dek, mau, ya!" memohon.


"Aku takut jika kekasih abang mengetahui aku menemani abang berduaan di ruang kerja. Sebaiknya abang telepon kekasih abang aja. Aku tidak ingin terseret dalam hal percintaan kotor kalian nanti," tolak Camilla sedikit menyindir.


Lafi perlahan turun satu langkah ke anak tangga, kaki Camilla juga ikut berjalan turun ke bawah.


"Dia tidak ada di sini. Wanita itu sedang sibuk bekerja. Aku sebenarnya tidak memiliki kekasih," Lafi memegang dagu Camilla, "Wanita selalu dekat denganku hanya wanita pelampiasan saja, tidak lebih. Kalau aku menyatakan perasaanku kepadamu, apakah kamu mau menerima ....."


Ucapan Lafi terhenti saat mendengar suara Wijaya dari belakangnya.


"Tugas Camilla hanya menjadi Baby sister untuk ku. Jika Camilla ingin berpacaran, maka dia harus berhenti bekerja denganku!" Wijaya melirik ke Camilla terlihat tidak suka, "Mau pilih bekerja, atau memilih adikku, Lafi?" lanjut Wijaya dengan wajah suramnya.


"Bodoh! abang sama adek, sama-sama bodoh," Camilla mulai melangkahkan kakinya, meski terpincang, melewati Lafi, dan Wijaya, dengan bibirnya terus bergumam, "Bodoh, muak aku lama-lama tinggal di sini. Lebih baik aku balek mencopet. Dasar, orang kaya kadang-kadang nggak punya pikiran!"

__ADS_1


Sementara itu, Wijaya mendekati Lafi.


"Kamu boleh tinggal di sini. Tapi kamu tidak boleh mendekati Camilla!" tegas Wijaya.


"Kenapa? apa abang menyukai nya?"


"Tidak, Camilla itu masih sangat muda, pikirannya juga belum dewasa. Jika kamu berpacaran dengannya, aku takut kamu akan merusak gadis sepertinya," Wijaya balik badan, "Jauhi Camilla!" lanjut Wijaya tegas, lalu mulai melangkahkan kedua kakinya.


"Kenapa? jawab aku dulu bang?!" teriak Lafi, ia tak terima jika Wijaya ikut campur dengan rencananya mendekati Camilla.


"Kamu boleh mendekati wanita manapun. Tapi, tidak Camilla!"


Hanya itu jawaban Wijaya. Setelah menjawab seperti itu, Wijaya terus melangkah. Berjalan menuju koridor ruang kamarnya dan kamar Camilla. Baru sampai di depan pintu rumahnya, Wijaya melihat Camilla berdiri, memegang koper.


"Kamu mau kemana?" tanya Wijaya, perlahan berjalan mendekat.


"Aku mau berhenti bekerja di rumah kau, Om," sahut Camilla serius.


Camilla berbalik, dengan langkah tertatih ia berjalan dan berhenti di samping Wijaya.


"Apa maksud dari ucapan kau tadi? jika ada seorang pria selain Lafi menyatakan cinta kepadaku, apa kau tetap tidak memperbolehkan aku pacaran?" tanya Camilla serius.


"Boleh, asal jangan dengan adikku, Lafi. Aku tahu Lafi itu seperti apa. Aku hanya tidak ingin dirimu rusak, hanya karena mencintai seorang pria!"


Camilla terdiam, tersipu. Jantungan tiba-tiba berdebar saat mendengar perkataan Wijaya, hingga hatinya mulai salah sangka.


'Kenapa duda ini perduli akan masa depanku. Bukannya sih duda sangat membenciku. Suaranya juga tiba-tiba terasa sangat lembut, dan hangat. Membuat aku meleleh mendengar nya,' batin Camilla, sampai-sampai wajahnya merona.


Ctak!


"Jangan memikirkan hal aneh kamu!" Wijaya menyandarkan Camilla, dengan satu kali ketukan di dahinya.


"Duh...duh, sakit! kasar sekali kau, Om!"

__ADS_1


"Sebaiknya kamu tidur. Kunci pintu kamar dari dalam," pesan Wijaya sebelum pergi meninggalkan Camilla.


"Macam Mamakku aja kau ini!" gumam Camilla.


Bam!


Camilla langsung menutup pintunya sangat kuat. Membuat Wijaya masih berada di depan pintu kamar hanya bisa menggeleng.


Camilla tadinya mau minggat, akhirnya tidak jadi minggat. Setelah mendengar bujukan dan rayuan Wijaya, begitu merdu dan nyaman di telinganya.


Karena hari semakin larut, Wijaya menuju ke kamarnya. Ingin beristirahat.


Jarum jam panjang terus berpindah, berhenti di angka 00:30. Seluruh rumah besar Wijaya gelap. Namun, ada seorang pria terlihat melangkah di koridor menuju kamar Camilla.


Koridor tanpa penerangan cahaya, membuat pria itu berhenti, membuka pintu kamar Camilla, dan sudah masuk ke dalam kamar Camilla, mengunci pintunya dari dalam.


Pria itu terlihat berjalan, dan berjalan dengan seringai aneh di wajahnya. Langkah kaki pria itu terhenti di samping ranjang Camilla. Perlahan pria itu menurunkan selimut, menutupi tubuh Camilla. Terlihat Camilla hanya memakai baju piyama pendek.


Pria itu pun naik ke atas ranjang, dan sudah menindih tubuh Camilla.


Camilla spontan membuka kedua kelopak matanya. Bibirnya ingin berteriak. Namun, tangan tegap lelaki itu sudah membungkam mulut Camilla, tangan satunya juga sudah menggenggam erat kedua pergelangan tangan Camilla kini diletakkan di atas kepala.


'Ya ampun, kenapa nasib sial selalu menimpaku seperti ini. Mak...Pak...tolong bantulah anakmu ini. Aku ingin dilecehkan oleh lelaki lagi. Aku takut Mak...Pak...dengarlah rintihan hatiku, Mak!' batin Camilla merintih.


Camilla terus menggeliat. Namun, berharap bisa menurunkan pria sedang duduk di atas tubuhnya.


"Mmmm...mmmm!" hanya itu bisa Camilla teriakan karena bibirnya saat ini sedang di sumbat.


Seperti seseorang sudah ahli dalam hal seperti ini. Pria itu dengan cepat mengikat pergelangan tangan Camilla.


Bulir air mata Camilla perlahan menetes, rasa takut dan trauma kembali muncul, saat pria itu terlihat membuka gesper celaannya. Pria itu juga menurunkan perlahan penutup segitiga. Namun, belum lagi aksinya di mulai. Pintu kamar Camilla terbuka, lampu kamar juga di nyalakan oleh pria sedang berdiri di depan pintu kamar Camilla.


"Oh...baru akan di mulai, ya?"

__ADS_1


__ADS_2