
Pukul 08:30 pagi, setelah selesai sarapan, Wijaya menyuruh Varo untuk menemuinya di ruang kerja pribadi miliknya. Ada hal ganjil ingin Wijaya cari tahu tentang apa terjadi dengan Camilla. Karena kejadian malam itu, Wijaya sangat penasaran seberapa kelamnya masa kecil Camilla sampai-sampai ia sangat takut saat di tinggal di ruangan besar. Wijaya juga penasaran siapa yang sudah mengganti semua baju piyama di dalam lemari pakaian Camilla.
“Ada apa tuan besar memanggil saya?” tanya Varo berdiri di samping sofa di duduki Wijaya.
“Entah kenapa aku sangat penasaran dengan masa kecil Camilla. Ia bilang, ia pernah di culik dan hampir dilecehkan di rumah besar oleh seorang pria pemabuk. Aku juga penasaran, siapa yang sudah mengganti semua baju piyama milik Camilla dengan baju piyama seperti itu,” perintah Wijaya di kalimat terakhir menggantung, membuat Varo bingung.
“Maaf, baju seperti apa tuan?” tanya Varo tak mengerti baju piyama apa dimaksud oleh Wijaya.
Wijaya menarik nafas panjang, perlahan ia beranjak bangkit dari duduknya, “Ayo ikut denganku ke kamar Camilla,” lanjut Wijaya datar.
Wijaya dan Varo melangkah keluar meninggalkan ruang kerja Wijaya, baru saja mendekati kamar Wijaya, pintu kamar Wijaya terbuka, terlihat Camilla baru saja bangun berdiri di depan pintu, merenggangkan kedua tangan dan tubuhnya.
Karena Camilla masih memakai baju piyama sangat tipis hingga menampilkan bagian dalam. Varo dan Wijaya, langsung memutar arah pandangnya, kedua bola mata mereka membulat sempurna menatap ke bawah, debaran jantung tak karuan saat melihat kemolekan Camilla, selama ini tertutup di dalam baju kaos besarnya.
“Weuy…kenapa kalian tiba-tiba membelakangi aku? Apa kalian pikir aku ini setan?!”
“Camilla! Dimana sopan santun kamu, kenapa kamu keluar tidak memakai baju?” bentak Wijaya di sela kepanikannya, tubuh masih membelakangi Camilla.
“Bagus sikit cakap kau, Om. Jelas-jelas aku pakai baju macam orang bule-bule itu, malah kau bilang aku nggak pakai baju. Yang buta nya kurasa matamu itu!” cetus Camilla kasar namun alunan nada suaranya sangat merdu.
Camilla berpikir jika pakaian ia kenakan adalah pakaian boleh di kenakan di tempat umum. Maklum saja, Camilla adalah anak kurang didikan dari kedua orang tuanya, karena kedua orang tuanya meninggal saat ia berusia 12 tahun. Kehidupan Camilla juga selalu di habiskan di jalanan, atau di pasar. Sekolah pun Camilla sering bolos, jadi dia benar-benar tak tahu tentang berpakaian mana layak di pakai di tempat umum, mana yang tidak.
Tak berapa lama terdengar suara pintu dari kamar Camilla terbuka, terlihat Lafi berjalan keluar kamar Camilla dengan wajah masih mengantuk.
“Huuaah…perasaan tadi malam aku sedang memeluk bidadari. Tapi dimana sekarang bidadari itu, ya?” gumaman Lafi bertanya sendiri saat kedua matanya masih terpejam. Namun, kedua kaki melangkah pelan.
Hal itu membuat Wijaya dan Varo bingung. Wijaya tahu gimana sikap dan sifat adiknya, seorang playboy dan suka main wanita. Kedua kaki Wijaya spontan melangkah lebar, memeluk tubuh Camilla, dan membawanya masuk ke dalam kamar dengan cepat.
Blam!
Suara pintu terhempas kuat menyadarkan Lafi masih setengah mengantuk sambil berjalan terus mendekati kamar Wijaya.
__ADS_1
“Wih…kenapa abang menutup pintu kamarnya kuat sekali?” tanya Lafi ke Varo.
“I..itu…”
“Tunggu…tunggu…kenapa wajah kamu sangat memerah Varo?” tanya Lafi penuh selidik.
“Maaf, saya masih ada pekerjaan,” pamit Varo.
Tidak ingin terus di interogasi oleh Lafi, Varo bergegas pergi ke kemar Camilla setelah berpamitan kepada Lafi.
Lafi penasaran terus melihat arah langkah Varo, dahi Lafi mengernyit saat melihat Varo masuk ke dalam kamar nomor 2. Lafi diam-diam mengikuti langkah Varo, ikut masuk ke dalam kamar milik Camilla.
“Kamu kenapa masuk ke sini, dan kenapa ada baju wanita seperti itu di dalam kamar ini?” tanya Lafi penasaran melihat Varo mengeluarkan semua baju set piyama tipis itu.
“Ini milik Camilla, baby sister milik tuan besar. Saya di suruh mengeluarkan baju-baju ini semua dari dalam lemari ini,” sahut Varo sembari memasukkan baju-baju itu ke dalam koper.
“Berarti yang aku lihat tadi malam tidak salah. Meski saat aku sedang tidak sadarkan diri, aku bisa melihat jelas dalam gelap jika wajah wanita itu sangat cantik. Tubuhnya juga…mmm..aduhai…” cetus Lafi sedikit menyadari kejadian malam itu, dan pikiran aneh nya mulai menari-nari.
“Maaf, kalau saya boleh tahu apa saja yang tuan lakukan kepada Camilla?” tanya Varo menyelidik, tangannya mengancing koper, pandangan datar lurus ke Lafi masih berdiri di depan pintu kamar.
“Karena aku hanya separuh sadar, aku hanya memeluk tubuhnya yang empuk itu. Ternyata badan Camilla sangat bagus dan nyaman di pegang daripada milik May…ehh…lupakan saja.”
Putus Lafi, saking terbuai nya dirinya tadi malam, ia sampai keceplosan membongkar aibnya sendiri dengan Varo.
“Oh…” angguk Varo tak ingin melanjutkan lagi.
“Kalau gitu aku ke kamar dulu, daaa…” pamit Lafi tanpa memikirkan perkataannya tadi.
Lafi pergi meninggalkan kamar Camilla, Lafi terus melangkah menuju kamar miliknya berada di lantai 3, sebuah kamar besar dengan beberapa ruangan khusus buat pekerjaan photographer Lafi di atas.
“Kasihan Camilla, kalau gitu saya harus diam-diam menjaga Camilla dari orang seperti tuan Lafi,” janji Varo setelah melihat pintu sudah tertutup.
__ADS_1
.
.
💫Di dalam kamar Wijaya💫
Wijaya terlihat jalan mondar-mandir, tangan memijat pelipisnya terada tegang. Camilla duduk, menatap Wijaya sedang mondar-mandir di depannya.
“Pusing kau, Om?” tanya Camilla melihat Wijaya terus memijat pelipisnya terasa tegang.
Wijaya menghentikan langkahnya di depan Camilla sedang duduk, tubuh berbalut selimut.
“Kamu tahu tidak pakaian yang kamu kenakan itu bisa mengundang orang jahat untuk melakukan hal lebih padamu. Kamu tidak risih apa memakai pakaian seperti itu di rumah ku? apalagi kamu adalah orang baru disini,” tanya Wijaya serius.
“Kenapa aku mengundang orang jahat untuk melakukan hal buruk kepadaku. Bukannya baju ini sama seperti baju yang ada di katalog, dan cerita di film-film orang luar itu. Dan aku juga pernah melihat seorang model memakai baju ini, dia baik-baik aja. Aku rasa otak Om itu yang jahat,” Camilla menunjuk wajah Wijaya tampak suram, “Pasti pikiran kau, Om sedang memikirkan hal mesum. Nggak usah ngaku kau, Om. Sudah tahu aku, otak-otak…”
Brak!
Wijaya menggebrak meja di samping sofa di duduki Camilla, perlahan ia berjalan mendekati Camilla, kedua tangannya diletakkan di tangan sofa, membungkukkan sedikit tubuhnya, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke Camilla, membuat Camilla menurunkan tubuhnya, melorot ke bawah.
“A…apa yang ingin kau lakukan samaku, Om?” tanya Camilla gugup, kedua tangan menggenggam erat selimut melilit di tubuhnya.
“Kenapa kau suka sekali membantah ucapanku, dan terus menuduhku berpikir hal mesum. Aku ini pria dewasa, aku juga sudah berpengalaman tentang hal itu. Aku berkata seperti itu karena aku tak ingin melukai-mu. Jadi…jangan pernah membantah setiap ucapanku, kalau kau masih ingin bekerja menjadi Baby sister untukku. Kalau tidak…aku akan…”
Tok tok
Suara ketukan pintu dari luar kamar Wijaya terdengar.
Wijaya dan Camilla melirik ke arah pintu secara bersamaan. Merasa ada kesempatan untuk kabur dari omelan Wijaya. Camilla melorotkan sepenuhnya tubuhnya itu dari Wijaya, merangkak, lalu berlari mendekati pintu, membuka kunci pintu, dan keluar.
Camilla berlari menyenggol seorang wanita sedang berdiri menatap Wijaya masih posisi membungkuk, kedua tangan diletakkan di tangan sofa, dan Camilla terlihat berlari sembari melepaskan selimutnya. Terlihat lah tubuh ideal itu di tutupi piyama tipis. Hal itu membuat wanita berada di depan pintu Wijaya tersulut emosi.
__ADS_1