BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 39. Hans dan Sekretaris nya


__ADS_3

Keesokan paginya, di meja makan keluarga. Wijaya, Camilla, Lafi, dan Andy, sarapan pagi sebelum berangkat beraktivitas.


Andy terus menatap dahi Lafi, tertutup oleh perban, dan sebelah matanya membiru. Penasaran dengan apa yang terjadi pada Lafi, Andy mulai bertanya.


"Om Lafi kenapa?" tanya Andy mengarahkan telunjuknya ke dahi tertutup perban.


"Oh, ini kejatuhan tiang lampu untuk pemotretan," sahut Lafi berbohong.


"Pasti ya, Om?"


"He He! enggak. Sudah resiko pekerjaan seperti ini," sahut Lafi kembali berbohong.


Camilla mendengus kesal, tangannya terus menciduk sarapan bubur, melahapnya dengan tatapan tak suka kepada Lafi.


Kejadian sesungguhnya kemarin sore.


#FOV Camilla


Camilla baru saja tertidur terusik oleh suara dan ucapan Lafi.


"Kenapa? apakah abang sudah pernah melakukan hal buruk kepada Camilla sehingga abang sulit untuk melupakan nya?" tanya Lafi mulai aneh.


"Jaga ucapan kamu. Camilla tidak seperti itu!"


"Kalau gitu aku yang akan merusaknya, sampai dia....."


'Berani sekali si pria tukang selingkuhan ini berkata seperti itu. Dia pikir aku wanita ulat bulu itu. Awas saja kau, rasakan ini,' batin Camilla.


Camilla terbangun, tangannya dengan cepat meraih remote di atas tubuhnya, lalu melayang kan remote tv ke Lafi.


Krak!


Remot tv melayang, mendarat di kening Lafi, sampai remote tv terbelah dua. Baterai nya juga berserakan di lantai.


"Aduh...duh...kenapa abang melakukan ini kepadaku?!" keluh Lafi merasakan denyut di keningnya, kedua tangannya juga segera menutup bekas lemparan sudah berubah menjadi merah, berdarah.


"Bukan aku!" sahut Wijaya dengan wajah tegangnya, bola matanya mengarah ke sofa.


Camilla duduk, dadanya naik turun seolah memendam amarah.


"Camilla!" gumam Lafi, terkejut melihat Camilla bangun dengan raut wajah suram.


"Berani sekali kau bilang seperti itu tadi. Kau pikir kedua telingaku ini budek. Kau pikir aku ini macam cewek kau itu. Apa perlu aku...."


Tak ingin Camilla membongkar hubungannya dengan Mayang di depan Wijaya. Lafi dengan langkah seribu mendekati Camilla, membungkam bibirnya.


"MMM...mmmm..." ucap Camilla.


Bam!


Kepalan tinju mungil dari Camilla melayang.


Saking kuatnya serangan Camilla, Lafi sampai terduduk, sebelah matanya terlihat mulai membiru.


Wijaya di sana terdiam seperti patung, ia ngeri melihat tenaga Camilla seperti seorang sumo.

__ADS_1


Tidak puas hanya memukul Lafi, Camilla menarik Lafi, membawanya pergi dari dalam kamarnya.


.


.


#POV SELESAI


Camilla, Lafi, Andy, dan Wijaya, selesai makan. Varo pun datang, bersiap mengantar Andy pergi ke sekolah.


"Andy, hari ini Papa dan Camilla tidak bisa ikut mengantar ke sekolah. Andy pergi dengan Varo saja, ya!" ucap Wijaya memberitahu.


"Papa dan Kak Camilla mau kemana?" tanya Andy penasaran.


"Papa hari ini ada pertemuan penting. Camilla, 'kan sebagi baby sister Papa. Jadi dia harus temani kemanapun Papa pergi. Bukannya begitu yang Andy inginkan?"


"Iya, kalau gitu Papa dan Kak Camilla harus akur. Awas, kalau pulang kerja nanti Kak Camilla terluka seperti yang sebelumnya. Aku tidak akan maafkan Papa!" tegas Andy dengan wajah imutnya.


"Siap!" sahut Wijaya.


Andy mendekati Camilla, mengambil tangan kanan Camilla, lalu mencium punggung tangan tanpa meminta izin. Camilla hanya diam, bingung.


"Aku pergi dulu ya, ca-lon Ma-Ma!" pamit Andy mengucap satu-persatu di kalimat terakhir.


Deg!


Jantung Camilla serasa berhenti berdetak. Ada rasa haru dan bahagia sekilas ia rasakan, apa lagi saat melihat senyuman tulus dari Andy.


'Bocah satu ini, kenapa ia sangat ingin aku menjadi calon ibu sambungnya?' batin Camilla, sorot matanya mengarah pada punggung Andy sudah menghilang dari pandangannya.


Lamunan Camilla buyar saat pergelangan tangannya di genggam oleh Wijaya.


"Bisa tidak lepaskan tangan kau, Om!" pinta Camilla sopan.


"Oh, Maaf," Wijaya melepaskan genggaman tangannya.


"Kita mau kemana Om?" tanya Camilla.


"Bertemu dengan penyewa gedung baru," sahut Wijaya.


Wijaya mulai melangkahkan kakinya, Camilla juga ikut melangkah keluar dari rumah. Sesampainya di samping mobil, Wijaya membuka pintu mobil penumpang bagian depan untuk Camilla, lalu Wijaya masuk, duduk di kursi kemudi.


Wijaya menghidupkan mesin mobilnya, berjalan perlahan keluar gerbang, menuju tempat janjian dengan penyewa gedung baru.


Keheningan terjadi di dalam mobil selama hampir 2 jam perjalanan, dan akhirnya mobil sudah sampai di parkiran kafe ala rumahan. Di sana terlihat menunggu seorang pria tua dengan seorang Sekretaris muda, cantik, ada Radim juga di sana.


"Loh, abang Radim kenapa ada di sini juga?" tanya Camilla, tangannya membuka seatbelt.


"Tugas seorang Sekretaris memang seperti itu. Mari turun," sahut Wijaya singkat, buru-buru turun, membuka pintu mobil Camilla.


Camilla sudah turun. Wijaya mengajak Camilla jalan bersamanya menuju meja, dimana sudah menunggu Radim, Pak tua, dan Sekretarisnya.


"Maaf, sudah membuat Tuan Hans menunggu lama," ucap Wijaya, lalu ia duduk di kursi kosong sebelah Pak tuan, bernama Hans. Camilla duduk di kursi kosong sebelah Radim.


"Tidak masalah Presdir," sahut Hans sembari tersenyum ramah. Hans mengalihkan pandangannya ke Sekretaris, "Tolong berikan beberapa berkas surat perjanjian ke Presdir Wijaya," lanjut Hans memberi perintah ke Sekretaris nya.

__ADS_1


Sekretaris Hans mendekati kursi Wijaya, memberikan beberapa berkas. Namun, kedua mata Camilla mendadak risih saat melihat Sekretaris Hans sangat dekat hingga 2 gunung kembarnya menyentuh otot lengan Wijaya.


'Meski kali wanita dengan dua gunung kembar seperti bola senam itu menyentuh lengan Om duda. Ck, macam nggak ada harga dirinya. Ini lagi Om duda, bukannya menjauh. Malah santai dan mengambil berkas yang diberikan oleh wanita itu. Iiih....jijik kali aku rasanya. Awas saja kau, Om duda!' gerutu Camilla kesal dalam hati.


Saking kesalnya, Camilla tak sadar jika dirinya menggigit kertas menu makanan. Radim menyadari hal itu mencolek lengan Camilla.


"Dek, lapar?" tanya Radim lembut.


Camilla tersentak, ia langsung berubah menjadi anggun, memberikan senyum paksa ke Wijaya, Hans, dan Sekretaris nya.


"I-iya, abang tahu aja!" sahut Camilla membela dirinya.


Sekretaris Hans mendengus kesal, wajahnya terlihat tak suka saat memandang wajah Camilla. Hal itu diketahui oleh Wijaya.


"Kamu boleh pesan apa pun di sini. Aku mau mengobrol dulu sebentar," ucap Wijaya lembut.


"Benarkah?! kalau gitu aku pesan yang mahal-mahal!" sahut Camilla semangat.


Tanpa rasa malu, Camilla beranjak dari duduknya, kedua kakinya bergegas pergi ke kasir untuk memesan makanan dan minuman.


"Maaf Presdir. Gadis kampungan terlihat pasaran itu siapanya Presdir?" tanya Sekretaris kepada Wijaya.


"Dia adalah gadis spesial di mata anakku, Andy," sahut Wijaya tanpa memperpanjang.


"Oh, tuan muda Andy. Presdir apa tidak malu membawa gadis seperti dia?" Sekretaris kembali bertanya dengan lancang.


Hans hanya tersenyum, tak marah jika Sekretaris nya berbicara lancang.


"Kalau wanita yang aku bawa seperti Anda, mungkin aku akan malu. Tapi kalau yang aku bawa kemana-mana adalah Camilla, aku tidak malu. Malah tanpa adanya dia di sampingku, kedua telinga ku terasa hampa. Kayak ada yang kurang tanpa mendengar ocehan dan omelannya," jelas Wijaya memuji Camilla.


Wijaya beranjak dari duduknya, mengarahkan pandangannya ke Radim.


"Radim, tolong jangan pernah beri kesempatan bagi manusia seperti mereka untuk bertemu denganku. Katakan pada mereka jika aku tidak suka melakukan kerja sama kepada orang yang menyepelekan orang lain. Buat pesanan Camilla, tolong bayar dulu pakai uang kamu. Nanti akan aku ganti di kantor. Aku permisi dulu!" lanjut Wijaya memberi perintah.


"Baik Presdir!" sahut Radim patuh, seolah ia tahu maksud dari kalimat atasannya itu.


Setelah berkata seperti itu, Wijaya melangkah besar meninggalkan meja. Hans dan Sekretaris nya mendengus kesal, merasa tidak di hargai oleh Wijaya.


Tak ingin di buat malu oleh Wijaya. Hans berteriak memanggil nama Wijaya.


"Wijaya ATMAJI! apa seperti ini cara Anda berbisnis? tidak menghargai orang lain yang sudah menunggu lama di sini?!" teriak Hans. Semua pengunjung kafe memandang Wijaya.


Wijaya tidak memperdulikan teriakan Hans, ia terus berjalan mendekati meja kasir, di mana Camilla duduk menunggu pesanan minuman kekinian miliknya di buat.


"Kamu sudah memesan?" tanya Wijaya lembut. Sementara itu, Hans masih terus berteriak dari kursi nya.


Camilla mengarahkan sorot matanya ke meja Hans, "Om duda, kenapa dengan Pak tua itu?" tanya Camilla bingung melihat Hans terus berteriak memaki Wijaya.


"Dia hanya latihan suara. Itu ambil pesanan kamu sudah datang," sahut Wijaya, lalu menyuruh Camilla mengambil pesanan minumannya.


"Oh ....nggak takut pita suaranya putus," gumam Camilla dengan polosnya.


"Sudah semua pesanan kamu di ambil? kalau sudah mari kita ke kantor, aku masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan sebelum acara ulang tahun Andy," tanya Wijaya lembut.


"Hem. Yuk!" ajak Camilla, ia sudah jalan terlebih dahulu. Namun, tak lupa ia melambaikan tangannya ke Radim, "Abang hitam manisku! aku pulang duluan, ya! sampai jumpa di kantor. Daaa ..."

__ADS_1


"Jangan genit, kau ini wanita, Camilla Hanin!" gumam Wijaya cemburu, sembari menarik tangan Camilla keluar dari kafe.


Radim hanya melambai, memberikan senyum manis kepada Camilla.


__ADS_2