
Wijaya, Mayang, dan Camilla, sudah sampai di kafe mewah di salah satu kota Medan. Wijaya juga sudah memesan tempat private, karena Camilla dan Mayang terus adu mulut.
Wijaya dan Mayang, duduk di kursi sejajar, sedangkan Camilla duduk di kursi depan, berhadapan dengan Wijaya dan Mayang. Camilla terus menatap Mayang dengan tatapan jengah.
“Kenapa kau terus menatapku seperti itu?” tanya Mayang ketus.
“Entalah, mungkin aku terlalu jijik melihat wajah kau yang sok cantik itu!” sahut Camilla ketus.
“Berani sekali…”
Mayang tadi hendak bangkit dari duduknya, harus terhenti saat ada 3 orang waiters masuk ke dalam ruangan private, membawa pesananan makanan dan minuman buat mereka. Sejenak waiters itu terdiam, memandang Mayang sedang memegang sebuah asbak. Mayang menyadari akan tatapan aneh dari 3 orang waiters segera meletakkan asbak itu, ia pun duduk kembali dengan tenang.
“Ehem…kenapa kalian bertiga cuman diam di sana. Cepat letakkan semua makanan dan minuman itu di atas meja,” perintah Mayang melembutkan nada suaranya.
Tanpa banyak berbicara, 3 waiters itu melangkah masuk, meletakkan pesanan makanan Mayang, Wijaya, dan Camilla di atas meja.
“Selamat menikmati. Kami permisi, tuan dan nona-nona,” pamit ketiga waiters itu setelah selesai dengan pekerjaannya.
Pintu ruangan pun tertutup. Tinggallah Mayang, Wijaya, dan Camilla di dalam.
Camilla terus menatap makanan di hadapannya. Stick sapi dan beberapa cemilan ringan lainnya. Tenggorokannya terlihat terus menelan saliva hampir keluar dari mulut mungilnya itu.
“Jangan dilihatin saja, mari makan,” ajak Wijaya sopan, tangannya mengambil sendok dan garpu. Wijaya penyantap makanan miliknya.
“Boleh ku makan ini, Om?” tanya Camilla menyakinkan pendengarannya.
Wijaya hanya mengangguk mengiyakan.
Mayang ada di sana hanya menatap Camilla dengan tatapan sinis, ‘Dasar wanita sumo. Baru lihat makanan seperti ini saja, air liurnya ingin menetes. Lihat saja, akan aku buat kau malu di depan Wijaya,’ gerutu Mayang di dalam hati memiliki rencana buruk.
“Kalau gitu aku baca doa dulu,” ucap Camilla menyatukan kedua tangannya.
Menit selanjutnya setelah selesai membaca doa, Camilla hendak meraup nasi dan stick sapi memakai tangan sudah ia basuh. Namun, Mayang segera menepis tangan Camilla.
“Hei, pakai sendok, garpu atau pisau yang sudah disediakan itu di pakai dong. Katanya kamu adalah baby sister dari Wijaya. Kemana-mana harus ikut! Tapi makan kok malah pakai tangan. Kamu bisa buat malu Wijaya, tahu!” tegur Mayang memulai serangannya.
Wijaya hanya diam, ia tak memperdulikan masalah itu.
Camilla sejenak menarik nafas panjang, tangannya pun bergerak mengambil garpu, dan pisau untuk memotong stick daging sapi.
Ctak!
__ADS_1
Camilla menancapkan garpu ke stik sapi kuat, hingga garpu menyentuh piring keramik. Tatapan tajam terus ia arahkan ke Mayang, terlihat terus tersenyum penuh tanda tanya.
‘Dia pikir aku bodoh apa. Mentang-mentang aku seperti ini, dia pikir aku tidak pernah makan enak, pakai sendok, garpu dan pisau. Jelas-jelas setelah aku pulang mencopet di Mall, agar tak ketahuan aku langsung berpura-pura makan di warung enak-enak di dalam Mall di medan itu. Ha ha ha…dasar wanita ular!’ umpat Camilla di dalam hati.
Camilla dengan santai memotong daging stik sapi, lalu melahapnya dengan nasi.
Mayang terdiam sejenak, sebelah alisnya menaik, menatap Camilla tidak ada rasa gugupnya saat memakai pisau dan garpu.
‘Ck, aku terlalu menyepelekan wanita sumo ini. Aku pikir dia benar-benar bodoh, ternyata dia pintar. Aku harus mencari cara lain untuk membuat Wijaya memerahinya,’ gerutu Mayang dalam hati kembali merencanakan hal buruk untuk Camilla.
Drrt drtt!
Ponsel Wijaya dalam saku kemeja miliknya berbunyi.
“Kalian nikmati dulu sarapannya. Aku mau angkat panggilan telepon dulu,” pamit Wijaya beranjak dari duduknya, melangkah pergi keluar dari ruang private.
Setelah kepergian Wijaya, Camilla melanjutkan kembali makanannya tinggal satu suap lagi. Mayang sendiri terus menatap Camilla, sebelah alisnya menaik seperti sedang siap merencanakan sesuatu.
Tangan Mayang mengambil minuman jus, “Hai, aku ingin melihat Wijaya melakukan apa kalau kamu menumpahkan minuman jus ini ke baju ku,” Mayang mulai mendekatkan jus ke baju drees berwarna hijau tosca miliknya, segaris senyum tercetak di bibir berwarna merah maroon miliknya.
Byur!
Mayang menuang secara perlahan jus jeruk ke baju bagian depannya.
“Cuman segitu aja. Mau aku tambahin?” tawar Camilla semakin menantang.
“Ck, coba saja kalau kau berani,” tantang Mayang.
Camilla melirik ke kuah sup iga berbumbu saus milik Wijaya, sisa setengah mangkuk. Camilla mengambil mangkuk kuah sup iga itu dan langsung saja menuangkannya ke rok Mayang. Mayang seketika membulatkan kedua bola matanya, kini tubuhnya sudah penuh dengan tumpahan kuah sup iga terasa panas dan pedas.
“Haaa…sudah tidak waras kamu?!” sentak Mayang tak percaya dengan kenekatan Camilla.
“Waras aku, kalau tidak waras mana mungkin aku bisa memiliki rencana seperti ini. Oh..atau jangan-jangan kau yang tak waras. Bukannya kau ingin memfitnah ku? maka kalau gitu aku akan menyakiti diri aku sendiri,” cetus Camilla dengan pikirannya.
Plak plak!
Camilla menampar wajahnya sendiri, Mayang melihat hal itu tercengang. Tangannya mencoba mengulur ke depan. Namun, saat ia ingin mencoba menghentikan aksi Camilla, pintu ruangan terbuka.
Wijaya berdiri di depan pintu ruangan, kedua bola matanya membulat sempurna saat melihat tangan Mayang berada di samping wajah Camilla. Wijaya juga melihat kedua pipi mulus dan bersih Camilla memerah, di pipi itu terlihat bekas tapak tangan memenuhi pipi Camilla.
“Mayang, kenapa kau menampar Camilla?” tanya Wijaya sembari melangkah masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Mayang segera menarik tangannya, ia berdiri, “Sayang, bukan aku yang duluan melakukannya. Tapi wanita sumo itu,” tuduh Mayang menunjuk Camilla.
“Tidak, wa-wanita itu berbohong Om. Dia bilang samaku, kalau aku tidak pergi meninggalkan tuan, maka dirinya akan menyiram tubuhnya sendiri. Sa-saat aku hendak menghentikan perbuatannya, wanita itu malah menamparku,” Camilla mengelus kedua pipinya, “Sakit…mendiang Mamak sama Bapakku aja nggak pernah menamparku kayak gini. Tapi dia…” tuduh Camilla berpura-pura sakit. Camilla perlahan beranjak dari duduknya, “A-aku sebaiknya pigi ajalah Om. Aku tidak tahan dengan semua perbuatan adek dan pacar, Om kepadaku!” lanjut Camilla lirih, perlahan kedua kakinya hendak melangkah. Namun, Wijaya menahan bahu Camilla dari belakang.
“Ja-jangan pergi. Apa yang harus aku katakan kepada putra ku ketika ia pulang dari sekolah Tk tak melihat kamu di sampingku?” pinta Wijaya sedikit kaku.
“Itu bukan urusanku. Urus ajalah masalah kau sendiri Om. Om menahanku, karena Om takut Andy semakin membenci kau, ‘kan Om?”
“Bu-bukan begitu…”
“Sudahlah, orang kaya kayak kelen-kelen ini mana tahu tentang perasaan orang miskin seperti aku. Mentang-mentang kelen punya uang, bisa kelen buat suka-suka hati kelen ke kami. Baru pertama kali aku tinggal bersama dengan kau, Om, udah banyak kali penderitaan yang aku alami. Lebih baik pigi ajalah aku, kau urus aja pacar kau itu, Om!” seka Camilla tak memberi kesempatan Wijaya untuk berbicara. Camilla pun pergi meninggalkan ruang private.
Mayang sedari tadi berdiri di samping Wijaya, ia benar-benar tidak menyangka melihat kepintaran Camilla. Hal itu membuat Mayang hanya bisa terdiam, membiarkan rencananya memakan dirinya sendiri.
‘Wanita sumo itu benar-benar seorang wanita yang tidak bisa di bodohi. Aku benar-benar salah menilainya. Kalau seperti itu aku harus memikirkan hal lain untuk segera menyingkirkannya dari Wijaya,’ gerutu Mayang dalam hati, pandangan sinis menatap pintu baru saja tertutup.
“Sayang bentar ya,” pamit Wijaya.
Wijaya segera keluar dari ruangan, berlari mengejar Camilla sudah tak nampak di sekitar dalam kafe. Wijaya kembali berlari, dan berlari sampai ia keluar dari dalam kafe. Melihat Camilla sedang berdiri di trotoar jalan raya, dan terlihat ada 3 orang pria memakai sepeda motor sport menghampiri Camilla seperti sedang menggoda Camilla.
Dengan langkah besar Wijaya melangkah mendekati Camilla, lalu menghentikan langkahnya di belakang Camilla tanpa sepengetahuan Camilla. Bola matanya membulat penuh, menatap 3 orang pria sedang menggoda Camilla. Melihat tatapan seperti hendak membunuh dari Wijaya, 3 orang pria itu langsung mengengkol sepeda motornya, bergegas pergi meninggalkan Camilla.
Camilla tak tahu kalau ada Wijaya di belakangnya, melambaikan tangannya kepada 3 pria pergi dengan kalang kabut.
“Daa…besok-besok kalau merayu lihat-lihat dulu orangnya siapa. Jangan asal embat aja kelen, ya! Kelen-kelen itu bukan tipe-tipe aku. Tipe aku itu tubang-tubang, atau lakik orang. Daaaa....anak ingusan yang ganteng-ganteng!” teriak Camilla dengan wajah senangnya.
“Oh..ternyata selera 3 lelaki itu rendah juga ya,” cetus Wijaya sudah berdiri di samping kanan Camilla.
Camilla spontan melirik Wijaya berdiri di sisi kanannya, “Untung aku nggak punya serangan jantung. Macam setan juga ku lihat kau, Om. Kau juga Om. Sadar diri dulu kau kalau mau menghina orang lain. Kalau udah bagusnya kau dapat pasangan, maka baru bisa kau menghina orang lain. Kau bilang pula aku wanita rendah. Udah pigi sana kau, Om. Jijik pula aku lihat wajah kau itu!”
“Kenapa aku harus pergi, bukannya kamu adalah baby sister ku?”
“Enggak sudi aku jadi baby sister kau lagi Om!” tegas Camilla.
“Apa kamu tidak kasihan melihat Andy? Apa kamu ingin mematahkan harapannya untuk sebuah permintaan kecil?” bujuk Wijaya mencoba menyelipkan nama Andy.
“Iya, kasihan kali pun aku lihat anak kau itu Om. Udah nggak ada mamaknya, punya bapak macam kau, malah asik pacaran aja,” Camilla berdiri menghadap Wijaya, menatap Wijaya dengan serius, “Ya nggak adanya pikiran kau itu Om?” lanjut Camilla santai.
Wijaya terdiam, ‘Wanita ini mulutnya tajam juga. Berapa sih umurnya? Kalau aku lihat-lihat sepertinya dia masih sangat muda. Tapi..entah kenapa saat ia ingin pergi ada perasaan ingin terus mempertahankannya. Kenapa dengan hatiku?’ Wijaya bertanya-tanya dalam hati.
“Sayang…antar aku pulang. Seluruh tubuhku terasa tidak nyaman, aku juga baru di telepon sama Manager untuk bersiap-siap, karena kami mau pergi pemotretan ke Bandung,” ucap Mayang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Wijaya dan Camilla.
__ADS_1
Wijaya balik badan, “Sayang…kenapa mendadak?” Wijaya menggenggam pergelangan tangan Mayang, “Ma-mari aku antar,” Wijaya melirik ke Camilla, “Kau juga ikut bersamaku Camilla, karena aku juga mau pergi ke kantor,” lanjut Wijaya mengajak Camilla.