BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 23. Jendela Kaca Mobil Berminyak


__ADS_3

Melihat Mayang melintas di depan meja resepsionis, Gabi dan Varo, buru-buru berdiri, menyapa Mayang.


“Siang nona Mayang. Siang nona…” sapa Varo, di susul Gabi, dengan segaris senyum manis.


Mayang tak menjawab. Ia terus berjalan tanpa menoleh, mengabaikan sapaan Varo dan Gabi.


“Apakah tuan dan nona berantem?” tanya Gabi mulai kepo.


“Saya rasa tidak,” sahut Varo, padahal dalam hatinya, ‘Saya rasa mungkin ulah dari dek Camilla. Kalau tidak, mana mungkin tadi dek Camilla lewat dengan wajah senang seperti itu.’


Mayang sudah berada di parkiran, berdiri di samping mobilnya. Di tempat pos satpam terlihat Camilla duduk, bercanda dengan satpam di sana. Mayang cepat-cepat masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya mendekati pos satpam Perusahaan, berada di depan pintu gerbang Perusahaan.


Tin tin!


Mayang memberikan klakson berulang dari dalam mobil.


Camilla melirik sejenak ke mobil Mayang, lalu dengan santainya ia melemparkan gorengan ke jendela kaca mobil Mayang.


Bam!


Jendela kaca mobil menjadi berminyak.


“Berisik! Tahu aturan cara memakai klakson mobil nggak kau!” omel Camilla sedikit berteriak. Pak satpam di samping Camilla terdiam, merasa takut sendiri melihat kelakuan Camilla, tak takut kepada calon tunangan Presdir, pemilik Perusahaan.


Mayang turun dari dalam mobilnya, berjalan menghampiri Camilla duduk santai di pos satpam.


“Apa kau tahu berapa harga jendela kaca mobilku?!” tanya Mayang sedikit meninggikan nada suaranya.


“Tidak tahu. Pekerjaanku hanya seorang baby sister, bukan pegawai sorum, atau aksesoris mobil,” sahut Camilla santai.


“Iiihh….ada aja jawaban yang kau keluarkan!” Mayang terlihat semakin tidak senang.


“Namanya aku punya mulut, otakku juga pintar. Nggak….macam kau, wanita ulat bulu!” cetus Camilla datar.


Pak satpam duduk di samping Camilla, menyikut lengan Camilla, dan berbisik.


“Dek, nona Mayang itu adalah calon tunangan Presdir Wijaya Atmaji. Pemilik Perusahaan ini. Kamu seperti ini…”


“Apaan sih Pak. Emang kenapa kalau wanita ulat bulu ini calon tunangan Om duda. Kalau nggak ada sopan-sopan nya tegur aja. Ngapain pula aku takut Pak,” sela Camilla.


“Oh…jadi kau benar-benar tak takut denganku? Ok, baiklah. Aku akan membuat perhitungan denganmu,” ancam Mayang menyeringai sinis.


“Silahkan aja,” sahut Camilla menerima tantangan Mayang.


“Kalau gitu bersiaplah,” Mayang berbalik, ia pun melangkah menuju mobilnya, masuk, dan menjalankan mobilnya meninggalkan Perusahaan Wijaya.


Setelah kepergian Mayang, Pak satpam kembali menatap heran ke Camilla.


“Dek, kenapa adek nggak takut?” tanya Pak satpam terdengar cemas.


“Buat apa aku takut Pak. Wanita ulat bulu itu, ‘kan hanya seorang manusia. Sama seperti aku!” sahut Camilla.


“Iya, tapi nona Mayang itu…”


“Calon tunangan. Hanya calon Pak, belum menikah dengan Om duda. Lantas kenapa Bapak harus mengkuatirkan hal itu?”


“Kamu jangan…”

__ADS_1


Baru saja ingin menasehati Camilla. Terdengar suara Wijaya memanggil Camilla dari teras Perusahaan.


“Camilla, kembali kau ke sini!”


"Gawat!"


Camilla langsung berdiri, tangannya menepuk bahu Pak satpam, lalu meminum kopi masih penuh.


“Pak…Pak, aku pigi dulu. Soalnya aku lagi tak mau meliihat wajah Om duda itu!” pamit Camilla, kedua kakinya berlari kencang meninggalkan pos satpam, keluar gerbang.


Melihat Camilla kabur dari panggilannya. Wijaya hanya bisa menarik nafas, memijat pelipisnya terlihat tegang. Memikirkan ulah Camilla sangat keras kepala, dan tak bisa di atur.


“Sebenarnya aku ini majikannya, atau Papanya, sih!” gumam Wijaya merasa seperti memanggil anaknya sulit di atur dan keras kepala.


“Kenapa tuan terus memanggil dek Camilla?” tanya Varo baru saja tiba di depan teras.


“Camilla kabur lagi. Aku harus apa?” Wijaya terlihat depresi.


“Kenapa tidak tuan susul saja,” usul Varo.


“Aku masih banyak pekerjaan, sebaiknya kamu saja yang menyusulnya,” sahut Wijaya memberi perintah.


“Baik tuan.”


Varo pun segera melangkah turun dari teras, berjalan menuju parkiran mobil.


.


.


Dari jarak 3 meter terlihat mobil berwarna hitam mengikuti Camilla. Mobil itu adalah milik Mayang.


“Haah..Mak, Pak. Kenapa kalian berdua meninggalkan aku begitu saja. Ternyata hidup yang aku jalanin tanpa kalian berdua ada di sampingku cukup berat. Rasanya aku ingin bunuh diri untuk menyusul kalian. Tapi, aku takut dosa. Mana aku dulunya seorang pencopet, pemabuk juga, tapi dikit aja, nggak banyak-banyak. Haih…sedihnya lah aku ini, Mak...Pak. Aku diharuskan untuk terus bernafas, meski rasanya aku tak mampu!” hela Camilla di sela keluhannya.


Mobil Mayang terlihat perlahan melaju sedikit kencang, seringai jahat terlihat di wajahnya. Kakinya menekan gas, mobil pun semakin kencang. Saat mendekati Camilla, Mayang membanting stirnya ke sebelah kiri, menabrak bagian depan mobilnya ke Camilla.


Bug!


Camilla pun terpental, tubuhnya membentur batang pohon di pinggir jalan itu.


Melihat Camilla pingsan. Mayang melajukan kembali mobilnya, meninggalkan Camilla duduk menyandar di batang pohon.


Kejadian itu ternyata Varo sempat melihatnya dari jarak kejauhan, dan tidak bisa di cegah. Varo bergegas keluar dari dalam mobil, sejenak ia melihat plat bk mobil, ternyata milik Mayang. Dahinya mengernyit, saat mengetahui jika ulah itu adalah ulah Mayang. Detik selanjutnya Varo bergegas mendekati Camilla, menggendong Camilla, membawanya masuk ke dalam mobil.


Mobil kini melaju kencang menuju rumah sakit terdekat tak jauh dari Perusahaan. Varo juga tak lupa mengirim pesan singkat kepada Wijaya.


Siang itu jalan sedikit sepi, mobil Varo bisa sampai dengan cepat. Varo menggendong tubuh Camilla, membawanya masuk ke dalam rumah sakit.


Pihak rumah sakit dengan cepat membawa Camilla ke ruang rawat inap. Camilla juga di tangani Pak dokter dengan cepat. 10 menit kemudian, Pak Dokter, dan perawatnya keluar dari ruangan rawat inap Camilla, berdiri di hadapan Varo dan Wijaya sudah berada di sana.


“Kenapa dengan Camilla?” tanya Wijaya terlihat cemas.


“Tidak ada luka serius, hanya memar di bagian punggung akibat benturan kuat. Pergelangan kakinya juga terkilir. Kenapa hal ini bisa terjadi?” Pak dokter melirik dengan tatapan penuh menyelidik ke Wijaya dan Varo.


“Oh, tadi dek Camilla memajat pohon, jadi kakinya terpeset, lalu jatuh,” sahut Varo berbohong. Sebenarnya ia ingin mengatakan jika Camilla terluka karena ulah Mayang. Tapi Varo tidak bisa memberikan jawaban jujur, tanpa barang bukti.


“Saya pikir kalian telah melakukan kekerasan, karena ada lebam di paha kanannya. Kalau gitu saya permisi, setelah siuman gadis itu sudah boleh pulang. Tapi jangan di kasih banyak bergerak dulu, sampai kakinya sembuh,” pesan Pak dokter.

__ADS_1


“Baik dok, terimakasih,” sahut Varo dan Wijaya serentak.


Pak dokter dan perawat berjalan meninggalkan Wijaya dan Varo.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Wijaya setelah pak dokter dan perawat telah jauh dari mereka.


“Saya tidak tahu. Saya hanya menemukan dek Camilla pingsan di bawah pohon,” sahut Varo.


“Wanita sumo ini. asal dia pergi, pasti ada aja musibah yang ia dapatkan,” gumam Wijaya.


Varo hanya diam, melirik tuanya tampak cemas tak seperti biasanya.


‘Maaf tuan, semua kesialan dek Camilla, perbuatan nona Mayang. Haruskah saya turun tangan? ah…tidak-tidak. Saya hanya seorang supir, lebih baik saya melindungi dek Camilla dari kejauhan saja,’ batin Varo.


“Aku masuk dulu.”


Wijaya masuk ke dalam ruang rawat inap. Bola matanya membulat sempurna saat melihat Camilla tak ada di atas ranjang.


“Camilla, Camilla!” Wijaya berteriak memanggil nama Camilla.


“Hadir Pak,” sahut Camilla mengulurkan tangannya dari balik ranjang rawat inap.


Wijaya menghela nafas lega saat melihat Camilla baik-baik saja. Kedua kakinya melangkah mendekati Camilla, berhenti di depan Camilla sedang membaringkan tubuhnya di atas lantai, beralas kain selimut ruang rawat inap.


“Kenapa kamu tidur di sini?”


“Aku jatuh dari ranjang saat ingin balik badan. Mau bangkit, rupanya pergelangan kakiku sakit. Ya udalah, aku tidurkan aja lah badanku di sini. Lagian lantai ini juga nggak buruk,” sahut Camilla santai.


Wijaya melangkah dekat, menggendong tubuh Camilla, dan membaringkannya kembali ke ranjang.


“Eh, eh, lancang kau, Om, gendong-gendong aku!” omel Camilla.


“Aku heran sama kamu. Kamu itu sakit, kenapa mulut kamu itu terus saja mengomel. Seolah air ludah kamu tidak pernah kering.”


“Nanti kalau aku menjadi pendiam, bingung kau, Om,” Camilla memukul-mukul bidang perut Wijaya terasa padat, “Sudahlah nikmati saja, besok-besok. Kalau aku sudah menikah sama orang tajir, kau tidak akan bertemu lagi denganku, dan mendengar omelanku.”


“Siapa yang membuat kamu terluka?”


“Eh, siapa ya? entahlah aku lupa. Yang terpenting aku masih selamat. Aku rasa aku ini reinkarnasi dari kucing. Buktinya nyawaku tak pernah habis.”


“Aku serius!”


“Oh…tidak jelas, aku hanya mengingat mobilnya warna hitam, dan nomor platnya, Bk, 1…entahlah malas kali aku ingat-ingat itu. Udahlah pigi aja sana, kau Om. Mau tidur enak-enak aku di sini. Siapa tahu perawatnya ada yang ganteng, aku mau mendaftarkan diri menjadi calon istrinya."


“Kamu sudah sehat, sekarang harus pulang ke rumah. Varo juga aku rasa sudah pulang.”


Wijaya merasa sedikit terusik dengan kejujuran Camilla ingin melihat perawat ganteng, kedua tangannya langsung menggendong tubuh Camilla membawanya keluar ruangan.


Camilla hanya bisa menggeliat, berteriak dalam gendongan.


"Lepaskan aku ....bukannya kau tak mau melihatku, Om. Jadi biarkan aku di sini, menikmati hari-hari ku!"


Wijaya tidak menggubris, ia terus berjalan. Karena Camilla terus menggeliat dan berteriak, semua para pengunjung memandang Camilla dan Wijaya, lalu berbisik aneh.


Camilla menyadari hal itu seketika melambaikan tangannya, apalagi saat ini mereka sedang melewati para perawat ganteng.


Maklumlah walaupun tomboy dan sedikit kasar, Camilla sebenarnya sedikit genit. Mungkin efek masa pubernya kali.

__ADS_1


__ADS_2