BABY SISTER UNTUK PAPA

BABY SISTER UNTUK PAPA
Bab 30. Mau Sedih, Tapi Kok Lucu!


__ADS_3

Pria itu adalah Wijaya. Dengan wajah suram, Wijaya melangkah masuk, tangannya mengunci pintu. Pria duduk di atas tubuh Camilla, spontan turun dari tubuh Camilla.


Karena penutup segitiga Camilla sudah di lepas, dan piyama juga tersingkap, hingga menampilkan segitiga tanpa hutan rimba. Wijaya segera bergerak cepat mendekati ranjang, tangannya menarik selimut, menutup tubuh Camilla. Pria tadi lari, berusaha membuka pintu. Namun, tidak bisa terbuka.


"Kau pikir setelah masuk ke sini, dan sudah melecehkan Baby sister ku. Kau bisa kabur dengan mudah!" ucap Wijaya dingin, sembari terus melangkah besar menyusul pria itu.


"A-aku hanya di suruh oleh seorang wanita," sahut pria itu ketakutan, tangannya terus menarik handle pintu, pandangannya sesekali menoleh ke belakang, melihat Wijaya semakin dekat dengannya.


Bug bam bam!


Dalam jarak 1 meter, Wijaya mengulurkan tangannya, menarik kerah baju kaos pria itu, dan memberikan beberapa pelajaran.


Setelah puas membuat wajah pria itu babak belur, hingga melukai punggung tangannya. Wijaya menggenggam erat baju kaos bagian depan, menatap lekat wajah pria lebih muda darinya.


"Siapa wanita itu?" tanya Wijaya dingin.


"Mati sekalipun aku tak akan memberitahu siapa wanita itu. Tapi yang jelas, aku memang di su....."


Bug!


Wijaya kembali memberikan pelajaran ke pria itu, lalu ia membuka pintu kamar Camilla, terlihat di depan pintu Varo berdiri tegak.


"Kenapa tuan melukai tangan tuan sendiri?" tanya Varo datar.


"Aku hanya tak bisa melihat hal ini. Kamu bereskan lelaki ini. Dia bilang mati sekalipun dia tidak akan memberitahu siapa wanita yang menyuruhnya. Jadi, kamu tahu apa tugas kamu, 'kan?!" perintah Wijaya dingin, sembari mencampakkan pria itu ke Varo.


Varo dengan cepat memegang pria itu, tangannya menggenggam keras baju belakang.


"Saya permisi dulu," pamit Varo, menarik pria itu meninggalkan pintu depan kamar Camilla.

__ADS_1


Wijaya kembali ke kamar Camilla, ia duduk di tepi ranjang, tangannya membuka ikatan di pergelangan tangan Camilla.


"Bukannya aku sudah ingatkan untuk mengunci pintu kamar. Kenapa kau masih tidak mendengarkan perkataan ku! gimana kalau tadi aku tidak keluar kamar, dan mendengar hal aneh terjadi di dalam kamarmu?" omel Wijaya, ia juga mengambil penutup segitiga Camilla di atas lantai, memberikannya ke Camilla, "Pakai," lanjut Wijaya.


Camilla melepaskan gumpalan kain di mulutnya. Bulir air asin itu semakin mengucur, bibirnya terus bergerak menahan tangis tak bersuara hingga tangisan itu pecah, sembari tubuh refleks memeluk Wijaya.


"Hiks ..hiks..hiks! Aku lupa. Kenapa kau terus memarahiku. Seharusnya kau yang lebih tua dariku, memang tugasmu lah yang harus menjagaku. Kenapa kau terus memarahiku. Lagian aku tidak tahu itu siapa. Dia tiba-tiba masuk ke dalam kamarku. Percuma kau kaya. Tapi kau tidak memiliki penjagaan rumah yang ketat. Kau pelit Om!" cetus Camilla di sela tangisnya.


'Mau sedih, tapi kok dengar omelannya jadi lucu. Ini anak polos sekali. Benar juga, seharusnya aku menambahkan satpam di rumah ini. Besok aku harus menyuruh Varo mencari satpam,' batin Wijaya.


Camilla mengurai pelukannya, menatap lekat wajah datar Wijaya.


"Om, apa aku terlalu cantik?" tanya Camilla, membuat Wijaya spontan tertawa geli.


"Ha ha ha.....cantik? ha ha ha...."


Wajah sembab Camilla berubah menjadi kesal, dan datar.


'Jika aku perhatikan, mulai dari bentuk tubuh, dan wajah. Kamu memang sangat cantik Camilla. Kamu jauh lebih cantik, dan selalu membuat aku bergairah. Haa ....jadi tegang, 'kan. Habisnya aku teringat..... tidak-tidak, kenapa aku malah berpikir mesum,' batin Wijaya teringat segitiga Camilla tak sengaja ia lihat tadi.


"Kenapa wajah kau memerah Om?"


"Ti-tidak, aku hanya merasakan gejolak aneh tiba-tiba naik," Wijaya beranjak dari duduknya, perlahan kakinya mundur ke belakang, "A-aku pergi dulu!" lanjut Wijaya, berlari cepat meninggalkan kamar Camilla, saat gairahnya mendadak tidak bisa di kontrol.


Camilla hanya diam, menatap kepergian Wijaya.


Wijaya terus melangkah menuju ruangan kerja miliknya, untuk menemui Varo. Sesampainya di dalam ruangan miliknya, terlihat pria tadi sudah terbujur kaku.


"Apa nyawanya benar-benar sudah tidak ada di tempatnya?" tanya Wijaya, menatap pria tadi tergelatak di atas lantai.

__ADS_1


"Saya rasa nyawanya sisa 30% lagi. Apa yang ingin tuan lakukan padanya?"


"Lepas semua bajunya, tinggalkan bagian penutup benda kecil miliknya. Lalu lakukan semua yang ingin kamu lakukan, selesaikan sebelum subuh. Setelah itu segera bawa pria ini ke pihak berwajib. Aku ingin mereka mengurusnya," tegas Wijaya memberi perintah.


"Baik tuan," sahut Varo patuh.


Wijaya berbalik badan, ia kembali melangkah meninggalkan ruangan kerja miliknya. Melangkah menuju dapur, ingin membuat segelas minuman coklat hangat untuk Camilla.


Sesampainya di dapur, Wijaya terus menatap semua isi lemari makanan. Dahinya mengernyit, bingung harus membuat minuman coklat hangat yang enak gimana.


Wijaya pun mengambil ponsel miliknya berada di dalam saku baju piyama miliknya. Membuka aplikasi vidio tentang tata cara membuat minuman coklat panas.


30 menit kemudian, coklat panas sudah jadi. Tapi, seluruh meja dan kompor berserakan dengan bahan makanan dan air tumpah.


Wijaya menyeka kasar keringat di dahinya, "Eh, kenapa aku harus repot-repot buat minuman coklat panas?" gumam Wijaya.


Benar saja, kenapa Wijaya mau repot-repot buat minuman coklat panas untuk Camilla. Apa Wijaya mulai menaruh hati kepada Camilla?


Wijaya mengabaikan pikirannya tadi. Ia mulai melangkah kembali, membawa segelas minuman coklat panas, menuju kamar Camilla.


Sesampainya di dalam kamar Camilla. Wijaya melihat Camilla, tertidur lelap. Wijaya hanya bisa menghela nafas panjang. Usahanya sia-sia.


"Wanita sumo ini. Bisa-bisanya dia kembali tidur tanpa rasa takut," hela Wijaya, di sela gumamnya.


Wijaya naik ke ranjang, duduk di sebelah Camilla. Namun, karena rasa kantuk terlalu kuat hingga tak tertahan lagi. Tubuh Wijaya perlahan melorot, ia pun terpaksa menidurkan tubuhnya di belakang Camilla, menyelipkan tangannya dari belakang ke perut Camilla, dan memeluk tubuh Camilla dari belakang.


"Aku akan menjagamu," gumam Wijaya, lalu tertidur.


Saat Wijaya tertidur sambil memeluk Camilla. Pintu kamar Camilla terbuka, masuk seorang pria memakai baju piyama, di tangan kanannya ada sebuah ponsel.

__ADS_1


Pria itu berdiri di samping ranjang Camilla, seringai aneh tercetak di wajah mulusnya. Tangan memegang ponsel tadi mulai menekan potret kamera, mengambil beberapa foto Wijaya dan Camilla. Setelah puas mengambil foto-foto itu, pria misterius itu berjalan tanpa suara langkah keluar kamar Camilla.


Varo sedang melangkah di koridor menuju kamar Wijaya, berhenti, bersembunyi di balik tiang, saat melihat ada seorang pria cukup ia kenal keluar dari dalam kamar Camilla.


__ADS_2