
Setelah kepergian Mayang dari ruang kerja Wijaya. Camilla melangkah dengan wajah suram, berhenti di samping kursi Wijaya, tangan mungilnya menarik dasi Wijaya. Wajah mereka saling bertemu, menyisakan 1 inchi celah.
"Aku peringatkan sama kau, ya, Om! sekali lagi kau membiarkan wanita lain menggoda mu, maka akan aku pastikan batang baseball itu tidak akan berdiri dengan sempurna lagi!" tegas Camilla mengancam.
Wijaya tidak takut, ia hanya menatap dengan segaris senyum tercetak di wajahnya karismanya.
"Dengar nggak kau, Om!" hardik Camilla, semakin menarik dasi Wijaya, hingga wajah mereka tak menyisakan celah.
Pandangan Wijaya turun ke bibir ranum Camilla. Tangan Wijaya menyelinap masuk ke dalam rambut panjang pelangi Camilla, menutupi jenjang leher belakang, menekan tengkuknya, dan mencium.
Bola mata Camilla membulat sempurna, ingin melepaskan ciuman Wijaya. Apalah daya, tenaga Camilla terlalu lemah untuk melawan.
Pintu ruangan terbuka.
"Kak Camilla....aku...." kata sambutan Andy terhenti saat melihat perbuatan Wijaya dan Camilla.
Varo segera menutup kedua mata Andy.
Wijaya terkejut, ia segera melepaskan ciumannya.
"Varo!" panggil Wijaya penuh penekanan.
"Maaf tuan besar, saya tidak berpikir jika hal ini akan terjadi di sini," maaf Varo santai, senyum kaku di tunjukkan ke Wijaya.
Camilla mengusap bibirnya, "Nggak tahu malu. Dasar duda!" omel Camilla.
Andy tak tahu perbuatan apa baru saja di lakukan oleh Wijaya kepada Camilla. Yang ada di pikiran Andy saat itu ialah Camilla sedang di siksa oleh Papanya.
Andy melepaskan tangan Varo, kedua kaki mungil itu berlari, berdiri di samping kursi Wijaya.
"Papa jahat! apa yang Papa lakukan kepada Kak Camilla. Kenapa Papa harus menggigit bibir Kak Camilla?" omel Andy polos.
Wajah Wijaya berubah, bingung.
"Andy, apa yang Papa buat tidak seperti yang kamu ...."
Belum selesai menjelaskan kepada putranya, Camilla mendadak berakting. Camilla memegang bibir bagian bawahnya.
"Aduh....duh...sakit. Bibirku terasa kebas, dan seperti kesemutan. Duh...."
Andy sigap mendekati Camilla.
"Kita ke dokter, yuk kak. Pasti bibir kakak sakit gara-gara Papa!" pinta Andy cemas, wajahnya benar-benar terlihat polos.
"Sakit memang, apa lagi kemarin Papa kau, menyiksa aku. Sakitnya sampai ke ubun-ubun dan ke jantung. Mana aku sampai kewalahan," curhat Camilla tentang kejadian kemarin.
__ADS_1
Wajah Wijaya menegang. Varo melirik penuh curiga hingga membatin.
Apakah tuannya sudah melakukan hal itu kepada Camilla? jika memang benar, pantas saja Camilla jatuh sakit.
Andy menarik tangan Camilla, membawanya duduk di sofa.
"Yang mana yang sakit, kak" tanya Andy, meraba bibir Camilla.
"Ini, kebas rasanya," rengek Camilla di buat-buat. Andy pun percaya.
Wijaya menggeleng, 'Calon bini sama anak sama aja. Sama-sama pandai berakting. Pantaslah hati mereka saling bertaut dan tak mau pisah, rupanya ini ceritanya,' batin Wijaya.
Entah dari mana kemunculan Varo, tiba-tiba dia sudah berdiri di samping Camilla dan Andy, tangan memegang kotak p3k.
"Tuan muda, apakah Anda perlu kotak p3k?" tawar Varo percaya jika Camilla benar-benar terluka.
"Iya, Om. Tolong berikan aku alkohol untuk membersihkan virus yang di tularkan Papa ke Camilla. Soalnya aku melihat bibir kak Camilla sedikit terluka, dan sangat memerah," sahut Andy.
Wijaya semakin menunduk dengan wajah malu, 'Tega sekali kamu nak, bisa-bisanya kamu bilang bibir Papa bervirus,' batin Wijaya lirih.
Tidak ingin terus tersudut atas tuduhan Camilla. Wijaya berencana untuk mengajak Camilla, Andy, dan Varo pergi makan.
"Sepertinya cacing di dalam perut Papa keroncongan. Ada yang mau ikut temani Papa makan sekaligus makan es krim, nggak?"
"Mau!" angguk Andy.
"Es koteng, es campur bakso, mie ayam, ada?" tanya Camilla semangat.
"Saya mau mie tiauw, tuan besar," sambung Varo dengan pilihannya.
"Ada, semu.....anya ada. Kalau gitu kita pergi!" ajak Wijaya semangat.
1 jam kemudian, Varo, Wijaya, Andy, dan Camilla, berada di tempat makan terlengkap di kota Medan. Wijaya sengaja memilih meja paling besar, karena ia tahu jika Camila memiliki porsi makan cukup besar.
Waiters datang, menyajikan semua pesanan mereka di meja cukup besar dari meja lainnya.

"Wah....enak sekali!" gumam Camilla tanpa sadar saliva keluar dari sudut bibirnya.
Wijaya mengusap saliva di sudut bibir Camilla.
"Seperti orang ngidam aja!" gurau Wijaya.
"He he...kak Camilla lucu," Andy ikut terkekeh.
__ADS_1
Camilla tersenyum malu.
"Sudah, sudah, jangan terus-terusan mengejek Camilla. Mari, kita makan!" Wijaya menyudahi.
Camilla, Wijaya, Varo, dan Andy, menyantap makanan dan minuman tersaji di atas meja.
30 menit sudah berlalu, semua menu makanan ludes tak tersisa. Termasuk pesanan makanan Camilla.
Risih dengan minyak bekas makanan di bibirnya, Camilla beranjak dari duduknya, permisi ke toilet.
Camilla terus melangkah. Namun, langkah Camilla terhenti di koridor toilet antara pria dan wanita. Seorang pria berwajah seram, kedua lengan penuh tato menghadang Camilla. Pria itu adalah pria bertato, suruhan Mayang.
"Awas!" tegas Camilla datar. Pria bertato itu menyeringai seperti kuda.
Seolah sudah biasa menghadapi pria seperti pria bertato. Camilla memutuskan untuk mengalah, menyerong, 'kan kakinya, lanjut jalan menuju toilet.
Belum lagi melangkah masuk ke dalam toilet, pria bertato itu menutup wajah Camilla dengan kain hitam sudah di beri obat bius.
"To...long.."
Kadar bius di dalam penutup membuat Camilla cepat tak sadarkan diri. Tubuh Camilla melemah. Pria bertato langsung menggendong tubuh mungil Camilla, membawanya pergi dengan santai keluar dari restoran, seolah Camilla adalah kekasihnya.
Hampir 30 menit Wijaya menunggu. Andy terlihat begitu gelisah menunggu Camilla tak kunjung menampakkan dirinya.
"Pa...kemana kak Camilla?" tanya Andy cemas.
Wijaya mengepal kedua tangannya, dahinya mengernyit seolah tak suka. Ia berpikir apakah Camilla kabur dari dirinya.
Wijaya beranjak dari duduknya, "Varo, jaga Andy di sini. Aku akan mencaritahu kemana Camilla!" tegas Wijaya memberi perintah.
"Baik, tuan besar!"
"Ikut Pa...."
"Jangan, sebaiknya kamu di sini aja, bersama dengan Varo!" tegas Wijaya, mimik wajah berubah dingin.
Wijaya pun pergi menuju toilet, tanpa rasa malu ia masuk ke dalam toilet wanita. Amarahnya semakin menjadi setelah melihat di antara para wanita tidak ada Camilla di sana.
Wijaya memandang ke seluruh koridor toilet, mendapati di setiap sudut terdapat cctv, Wijaya melangkah menuju ruang kantor.
Setelah meminta izin untuk memeriksa rekaman cctv, dan mendapatkan jika Camilla sebenarnya tidak kabur, melainkan di culik. Wijaya mengambil ponsel miliknya, menelepon seseorang untuk mencari dan menemukan di mana plat BK mobil itu berada.
Urusan untuk mencari keberadaan plat BK sudah selesai, Wijaya kembali ke meja, mengajak Andy pulang.
Andy masih bingung dengan apa yang terjadi. Hatinya terus bertanya-tanya meski tidak mendapatkan petunjuk atas pertanyaannya.
__ADS_1