
Zergo nampak menatap wajah Milan yang masih berada di atas sana, di panggung acara infotainment yang disiarkan Live di salah satu Stasiun Televisi Swasta.
Wajah cantik wanita itu terlihat ceria seperti biasa, senyum ramah pun mengembang lebar dari kedua sisi bibir sensual seorang Milannita, akan tetapi bagi Zergo, apa yang ditunjukkan oleh wanita yang dicintainya itu tidak lebih dari sebuah kepalsuan, kepalsuan yang dia perlihatkan kepada semua orang, kepada para penggemarnya yang saat ini pasti sedang menonton acara tersebut.
Berbeda dengan Zergo yang terlihat iba melihat senyuman palsu yang diperlihatkan oleh Milan, Lydia kini nampak tersenyum sinis, hatinya diliputi rasa kesal dan juga geram kepada artis yang dilayaninya.
Ya ....
Apa yang baru saja disampaikan oleh Milan di atas sana, berhasil mengobarkan api peperangan di dalam hati seorang Lydia yang membuatnya terasa panas membara seolah membakar dan membuatnya semakin membulatkan tekad yang kuat akan niatnya untuk merebut semua yang saat ini dimiliki oleh artis populer bernama Milannita.
Lydia yang saat ini duduk diantara barisan penonton pun nampak berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan, dia berjalan dengan tergesa-gesa menuju toilet dengan mengepalkan kedua tangannya dan bibir dikerucutkan bahkan memasang wajah masam.
Ceklek ....
Pintu toilet pun di buka, Lydia masuk lalu berdiri di depan wastafel dan menatap wajahnya sendiri dari pantulan cermin yang panjang membentang tepat di depan wajahnya.
''Sialan, kurang ajar.'' Gerutu Lydia kesal diliputi rasa dendam.
''Awas aja kamu, Milan. Aku akan merebut semua yang kamu punya, suami, harta, bahkan kepopuleran yang saat ini kamu banggakan akan aku sungkurkan ke dalam gumangan lumpur sampai kamu gak punya apa-apa lagi yang bisa kamu banggakan,'' gerutunya lagi memutar kran lalu membasuh kedua tangannya.
Setelah itu, dia pun meraih ponsel dari dalam tas kecil yang dia letakkan di atas toilet dan menetap layar ponsel tersebut lalu menelpon Caviar.
Tut ... Tut ... Tut ....
📞 ''Halo, Mas. Kamu dimana?'' tanya Lydia sesaat setelah Caviar mengangkat telpon nan jauh di sana.
📞 ''Aku lagi di kantor, sayang. Ada apa?''
📞 ''Aku akan bantu kamu buat rebut semua harta yang dimiliki sama istrimu, tapi, setelah semua itu berhasil kamu dapatkan, kamu harus janji kalau kamu akan segera menyingkirkan dia dan menjadikan aku istri kamu, Mas.''
__ADS_1
📞 ''Pasti, sayang. Aku pasti akan menyingkirkan dia dan segera menikahi kamu setelah aku mendapatkan semua yang aku inginkan. Tapi, sayang. Kamu kenapa? suara kamu kayak lagi kesel gitu?''
📞 ''Istrimu itu benar-benar menyebalkan.''
📞 ''Emangnya dia kenapa, sayang?''
📞 ''Akh, sudahlah. Nanti aku ceritain kalau kita ketemu, nanti malam aku tunggu kamu di Vila, oke ...?''
📞 ''Baiklah, kamu yang sabar ya. Tunggu sebentar lagi, aku janji, gak akan lama lagi aku akan segera menceraikan dia dan tentu saja langsung menikahi kamu, sayang.''
📞 ''Oke, aku tunggu janji kamu.''
Tut ....
Lydia pun menyudahi perbincangannya di telpon, kembali menatap wajah cantiknya di dalam pantulan cermin lalu tersenyum menyeringai.
''Lihat, Milan. Suamimu udah ada di dalam genggamanku, aku tinggal mengambil harta dan kepopuleran yang saat ini lagi kamu nikmati, dan kita lihat saja, siapa nanti yang akan menang,'' gumamnya pelan penuh rasa dendam seraya tersenyum menyeringai dan penuh kelicikan layaknya nenek sihir.
❤️❤️
Zergo yang sedari tadi selalu setia menunggu di sana pun nampak segera menghampiri dan mengikuti Milan dari arah belakang, sementara Lydia, wanita yang seharusnya mendampingi dirinya entah berada di mana sekarang, karena baik Milan ataupun Zergo tidak melihat wanita itu kini.
Ceklek ....
Zergo membukakan pintu ruangan khusus yang memang disediakan untuk Milan, dan Milan segera masuk ke dalamnya lalu mengunci pintu seketika tidak ingin ada yang mengganggu.
Grep ....
Seketika, Milan segera memeluk tubuh laki-laki yang dia panggil dengan sebutan Zeze itu, melingkarkan tangannya di leher Zergo erat seolah mencari ketenangan.
__ADS_1
''Apa kamu baik-baik aja, Nona Milan?'' tanya Zergo mengusap punggung Milan lembut dan penuh kasih sayang.
''Nggak, Ze. Aku gak baik-baik aja, tapi sebentar lagi aku akan baik-baik aja, biarkan aku mengambil energi positif mu sedikit aja,'' jawab Milan semakin mendekap erat tubuh Zergo.
''Hmm ... Jangankan sedikit, jika kamu mau ambil semua energi yang ada dalam tubuh aku sampai habispun aku ikhlas, asalkan kamu berdiri tegak lagi dan kuat dalam menghadapi semua ini,'' jawab Zergo membenamkan kepala di tengkuk Milan seraya mengecupnya pelan seolah sedang benar-benar menyalurkan energi positif yang ada di dalam tubuhnya.
''Hmm ... Kamu bisa aja deh. Ternyata kamu pandai juga bikin perasaan aku tenang. O iya ... Habis dari sini aku masih ada empat jadwal lagi, masing-masing di tempat yang berbeda. Gimana, apa kamu lelah?'' Milan mengurai pelukan masih dengan tangan yang dilingkarkan di leher Zergo.
''Nggak ko, aku gak lelah sama sekali, justru aku senang bisa deket sama kamu 24 jam,'' jawab Zergo tersenyum manis.
''Oke ... Tapi, sebelumnya kita makan dulu ya, aku lapar banget.''
''Makan dimana? kalau ke Restoran nanti di kejar wartawan lagi lho.''
''Hiiih ... Iya juga, ya udah kita makan di mobil aja, nanti kamu belikan aku makanannya ya.''
''Oke, apapun yang kamu mau akan saya turuti, Nona Milan.''
''Ish, kita 'kan udah deket banget kayak gini, jangan panggil aku Nona terus dong. Coba santai dikit, panggil aku dengan panggilan Milan aja, gak pake Nona.''
''Oke ... Ehem ... Baik, Milan,'' jawab Zergo sedikit merasa canggung membuat keduanya akhirnya tertawa bersama merasa lucu.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata sedang menatap mereka berdua dari balik kaca jendela dengan tirai yang sedikit terbuka, senyum menyeringai penuh kelicikan pun nampak mengembang sempurna dari wajahnya.
''Tamat riwayatmu, Milan,'' gumam orang tersebut merekam semua yang dilakukan Milan di dalam sana dengan ponsel.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Promosi Novel karya author kece yang wajib kalian baca ya, jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian ya Reader.❤️
__ADS_1