
Akhirnya Lidya di jatuhkan hukuman 7 tahun penjara. Hukuman yang lebih ringan dari hukuman yang seharusnya 15 tahun, mengingat bahwa Lidya terpaksa membunuh untuk melindungi dirinya sendiri dan sempat mendapatkan pelecehan sek*ual dari korban bernama Caviar Klan yang merupakan mantan suami dari artis papan atas bernama Milannita.
Lidya pun menerima dengan lapang dada hukuman tersebut karena dirinya memang merasa pantas mendapatkan'nya tanpa melakukan sidang banding meskipun Milan dan team kuasa hukumnya menyarankan untuk melakukan banding.
Bagi Lidya, hukuman selama 7 tahun ini hanya sebentar mengingat ada Fajar yang akan menunggu kebebasannya dan segera menikahinya nanti.
♥️♥️
7 tahun kemudian.
Milan nampak mengibaskan rambut panjangnya ditemani beberapa orang yang sedang duduk bersamanya di sebuah taman terbuka.
Sorot kamera pun mengarah tepat kepada dirinya yang saat ini sedang melakukan syuting iklan minuman isotonik. Dia pun nampak tersenyum seraya memegang satu kaleng minuman tersebut sebelum sang sutradara mengucapkan kata 'Cut' tanda syuting telah berakhir.
"Cut ... Anda luar biasa Nona Milannita." Ucap sang Sutradara tersenyum puas melambaikan tangannya.
Milan pun hanya membalas dengan senyuman seraya sedikit membungkukkan tubuhnya ramah.
"Minum dulu, Nona.'' Pinta Fajar menghampiri dengan membawa sebotol air air mineral.
"Terima kasih, Fajar.'' Jawab Milan menerima botol tersebut lalu meneguk air yang berada di dalamnya dengan cara minum yang begitu apik dan Fajar pun segera mengelap ujung bibir Milan sesaat setelah dia selesai meminum air yang dia berikan.
''Habis dari sini kita ada syuting apa lagi, Fajar?'' Tanya Milan berdiri lalu merapikan pakaian glamor yang dikenakannya.
"Hmm ... Hari ini saya hanya akan menemani anda sampai syuting ini selesai, Nona."
"Lho kenapa?"
"Karena saya ada acara yang lebih penting lagi."
"Acaranya apa memangnya? Acara apa yang lebih penting dibandingkan dengan kerjaan kamu sebagai Assisten pribadi saya yang gajinya lebih besar dari pegawai negeri di negara kita tercinta ini, hah?"
"Eu ... Anu, Nona. Apa anda lupa sekarang tanggal berapa?"
"Tanggal 21 Oktober, kenapa emangnya?"
"Iya, saya juga tau kalau sekarang tanggal 21 Oktober. Tapi, anda lupa sekarang hari apa?"
"Hari Jumat." Jawab Milan dengan begitu polosnya.
"Astaga, Nona Milan. Anda benar-benar sudah melupakan hari paling bersejarah dalam hidup saya, anda sungguh keterlaluan. Saya kecewa sama anda,'' ucap Fajar mengerucutkan bibirnya memasang wajah masam.
"Hah? Tolong jelaskan, saya benar-benar gak ngerti, Fajar. Hari bersejarah? Maksudnya?" Tanya Milan mengerutkan keningnya semakin tidak mengerti.
"Sudahlah, saya pergi sekarang saja," Fajar pergi begitu saja meninggalkan Milan dengan perasaan kecewa.
"Hey, mau kemana kamu Fajar? Awas aja ya kalau berani-berani ninggalin saya, kamu bakalan saya pecat sekarang juga," teriak Milan namun, diabaikan begitu saja.
"Dih, sebenarnya ada apa sama hari ini? Ko sikapnya Fajar aneh, gak kayak biasanya." Gumamnya lagi penuh tanda tanya.
Tidak lama kemudian, Zergo pun datang dengan membawa buket bunga mawar yang cukup besar yang akan dia persembahkan untuk seseorang. Milan yang mengira bahwa buket bunga itu untuk dirinya pun nampak tersenyum lebar segera menyambut kedatangan suaminya serta hendak meraih buket bunga tersebut.
"Akh ... Sayang, terima kasih bunganya, tumben kamu romantis kayak gini?" Tanya Milan hendak menerima bunga tersebut.
"Eit ... Bunga ini bukan untuk kamu, sayang."
"Lho, bunga ini bukan buat aku? Buat wanita lain? Kamu udah berani terang-terangan selingkuh dari aku, hah?"
__ADS_1
"Ngaco akh ... Apa kamu lupa sekarang hari apa?"
"Nah 'kan? Kalian berdua sama saja. Tadi Fajar juga kayak gini tau, dia nanya-nanya hari ini hari apa, aku jawab hari Jumat, eh ... Dia malah marah, sebenarnya ada apa dengan hari ini? Kenapa kalian berdua bertanya hari ini hari apa? Heran deh," gerutu Milan dengan perasaan kesal.
"Ya jelas 'lah dia marah. Kamu benar-benar lupa sekarang hari apa?"
"Au aku gelap, kesal aku sama kalian berdua," jawab Milan pergi begitu saja dari hadapan suaminya dengan perasaan kesal, sangat-sangat kesal.
Sebenarnya ada apa dengan hari ini? Milan benar-benar tidak mengerti dan masih mencoba berfikir keras.
"Milannita sayang ...! Tunggu aku!" Teriak Zergo berlari mengejar.
Milan mengabaikan teriak suaminya bahkan tidak menoleh sedikitpun.
"Mil ... Apa kamu lupa kalau hari ini Lidya bebas dari penjara?"
Milan seketika menghentikan langkah kakinya merasa terkejut. Kenapa dia sampai melupakan hal itu? Pantas saja Fajar marah besar terhadapnya. Ternyata, ini benar-benar hari yang bersejarah karena Assistenya itu akan bertemu lagi dengan wanita yang dia cintai setelah menunggu selama 7 tahun lamanya.
"Hey ..." Zergo menepuk pundaknya seketika membuyarkan lamunan Milan.
"Pantas saja Fajar marah sama kamu, sayang. Kamu benar-benar keterlaluan soalnya," ucap Zergo berdiri tepat di samping istrinya.
"Kalian berdua yang keterlaluan, kenapa gak ada yang kasih tau aku kalau Lidya bebas dari penjara hari ini?"
"Ya, aku kira kamu gak bakalan lupain hari ini, sayang."
"Sekarang jam berapa?"
"Jam 2 siang."
"Ya udah kita ke lapas sekarang juga, mudah-mudahan kita gak ketinggalan." Pinta Milan melanjutkan langkah kakinya yang langsung diikuti oleh suaminya dari arah belakang.
♥️♥️
Pintu lapas pun di buka. Lidya dengan tersenyum bahagia mulai melangkahkan kakinya dengan perasaan bahagia dan senyuman yang mengembang begitu lebar dari kedua sisi bibirnya.
Dia pun menatap sekeliling dan seketika senyum itu hilang, tergantikan dengan perasaan kecewa dan bibir yang dikerucutkan sedemikan rupa.
"Dih, teganya. Gak ada yang jemput aku seorang pun. Kemana mereka semua?'' Gumamnya dengan perasaan kecewa.
Tidak lama kemudian, mobil berwarna putih pun berhenti tepat di depan tubuh Lidya yang saat ini berdiri di tepi jalan.
"Fajar?" Gumamnya lagi seketika senyuman itu pun kembali mengembang dari kedua sisi bibir Lidya.
Ckiiiit ....
Suara mobil berhenti dan Fajar pun segera turun dari dalam mobil tersebut dengan membawa satu tangkai bunga mawar yang sedang mekar dan mengeluarkan aroma wangi semerbak.
"Sayang!" Sapa Fajar berlari menghampiri lalu segera memeluk tubuh Lidya erat, sangat erat hingga membuat dada wanita yang dicintainya itu terasa sesak.
"Kenapa terlambat? Seharusnya kamu udah ada di sini sebelum aku keluar." Rengek Lidya dengan nada suara manja balas memeluk tubuh Fajar penuh kerinduan.
"Maaf, Milan ada syuting tadi. Ini juga aku kabur dari dia." Jawab Fajar mengecup pucuk kepala Lidya mesra.
"Om Fajar ...!" Tiba-tiba saja terdengar suara anak kecil dari dalam mobil, membuat Lidya seketika langsung mengurai pelukan seraya menatap wajah anak laki-laki tersebut dengan perasaan heran.
"Dia siapa? Apa dia anak kamu? Apa kamu diam-diam nikah sama wanita lain terus punya anak dia?" Ketus Lidya menatap tajam wajah anak tersebut bahkan memelototi-nya membuat anak itu sedikit ketakutan.
__ADS_1
"Sini, Milgo. Kenalin, dia Tante Lidya yang sering Om ceritakan sama kamu itu," ucap Fajar melambaikan tangannya meminta anak bernama Milgo itu keluar dari dalam mobil.
"Gak mau, Tante Lidya menakutkan. Tua lagi," celetuk Milgo menjulurkan lidahnya mengejek Lidya.
"Sebenarnya dia anak siapa si? Kurang ajar banget jadi anak."
"Masa kamu gak bisa nebak? Seharusnya, dengan hanya mendengar namanya saja orang lain pasti sudah bisa menebak dia anak siapa? Coba sebut nama anak itu," pinta Fajar tertawa ringan.
"Milgo? Milgo? Milgo? Maksudnya Milan Zergo?" Teriak Lidya terkejut seketika.
"Nah 'kan. Akhirnya ..."
Di saat yang bersamaan, satu buah mobil pun berhenti tepat di depan mereka berdua. Milan dan Zergo pun segera keluar dari dalam mobil dengan tersenyum senang membawa buket bunga mawar berukuran besar yang tadi sengaja di beli oleh Zergo.
"Astaga, Lidya. Akhirnya kamu bebas juga? Ternyata 7 tahun cepat juga ya. Tapi, wajah kamu udah agak tuaan lho. Mata kamu juga udah keriputan kayak gini. Ya ampun, Lidya. Kayaknya kamu langsung ke salon aja deh.'' Celetuk Milan membuat semua yang ada di sana tertawa ringan melihat tingkah Milannita sang artis idola yang saat ini karirnya telah kembali bersinar dan berada di puncak popularitas meskipun umurnya sudah tidak muda lagi.
"Dih, dasar gak sopan. Bukannya kamu tanyain kabar aku atau gimana gitu. Ini malahan bilang muka aku tua, dasar Milannita. Apa kamu masih menyimpan dendam sama aku, hah?" Tanya Lidya tertawa ringan memeluk tubuh Milan.
"Hahaha ... Sorry, Lidya. Aku sampai lupa nanyain kabar kamu."
"Mommy ..." Milgo pun akhirnya keluar dari dalam mobil dan berlari menghampiri Milan dan Zergo.
"Wah, putra Daddy udah pulang dari sekolah rupanya. Apa Om Fajar jemput kamu dulu tadi sebelum dia datang ke sini?" Tanya Zergo segera menggendong tubuh putra kesayangannya itu.
Milgo menganggukkan kepalanya seraya tersenyum senang.
"Dia anak kalian?"
"Betul, gimana tampan bukan?"
"Tampan si tampan tapi sama songong'nya kayak kamu ibunya," ketus Lidya menatap putra dari sahabatnya tersebut.
"Sudah-sudah ... Kangen-kangenan'nya nanti lagi. Aku mau bawa kamu ke suatu tempat yang indah banget,'' ucap Fajar segera meraih pergelangan tangan Lidya dan menariknya masuk ke dalam mobil.
"Kita mau kemana, sayang?" Tanya Lidya tersenyum senang.
"Aku akan membawa kamu melayang ke angkasa lepas."
"Hahaha ... Aku udah gak sabar." Teriak Lidya tertawa renyah lalu masuk ke dalam mobil bersama Fajar sang pujaan hati yang telah sabar menunggu dirinya selama 7 tahun lamanya.
Milan dan Zergo pun hanya bisa pasrah saat mereka berdua diabaikan begitu saja setelah jauh-jauh datang ke sana. Keduanya pun menatap mobil Fajar seraya melambaikan tangannya tersenyum senang.
"Sayang, bawa aku ke angkasa lepas juga dong," bisik Milan mengedipkan matanya dengan suara manja membuat Zergo tersenyum lucu.
"Bukan hanya ke angkasa lepas, aku akan membawa kamu ke surga dunia dengan kenikm*tan yang tidak terkira,'' jawab Zergo tanpa sadar bahwa sang putra sedang menyimak pembicaraan mereka.
"Aku juga mau, Dad. Aku ikut ke surga dunia sama Mommy dan Daddy," rengek Milgo dengan begitu polosnya.
"Hahahaha ... Iya-iya, sayang. Daddy bakalan ajak kamu juga." Jawab Zergo tertawa renyah.
Akhirnya, semuanya berakhir dengan bahagia. Balas dendam Milan berkahir dengan kematian Caviar Klan 7 tahun yang lalu, dan Lidya pun mendapatkan karmanya sendiri dengan mendekap di penjara selama tujuh tahun lamanya.
Perasaan Milan benar-benar bahagia dengan kehidupan yang sempurna. Suami yang perhatian dan selalu melimpahkannya dengan cinta dan kasih sayang yang tidak berubah dan berkurang meskipun mereka sudah lebih dari 7 tahun menikah.
Dia pun memiliki putra tampan berusia 6 tahun yang menjadi pelengkap rumah tangganya menjadi lebih sempurna. Milan menatap Zergo dan Milgo secara bergantian lalu memeluk mereka berdua secara bersamaan merasa benar-benar bahagia.
"Terima kasih, Tuhan. Engkau telah memberikan kehidupan yang benar-benar sempurna," gumam Milan mendekap erat kedua orang yang sangat berharga di dalam hidupnya itu.
__ADS_1
_________TAMAT__________