
"Huaaaa ..." Lidya membuka mulut lebar-lebar seraya membuka matanya pelan menatap sekeliling dengan perasaan heran saat mendengar suara full music diiringi suara seorang wanita yang sepertinya sedang melakukan senam pagi.
Dia pun hapal betul dengan suara itu. Karena tidak ada lagi suara cempreng secempreng suara Milannita.
"1 ... 2 ... 3 ... 4 ... 5 ... 6 ... 7 ... 8 ..." Terdengar suara Milan menghitung seiringan dengan irama music senam aerobik yang menggema memekikkan telinga.
Lidya pun bangkit lalu duduk di kursi.
"Apa ini udah pagi? Astaga, berapa lama aku tertidur di sini? Apa aku tidur semalaman?" Gumamnya menatap ke arah pemuda bernama Fajar yang saat ini pun masih tertidur lelap.
Dia pun berdiri lalu mencari sumber suara. Benar saja, di halaman belakang tepat di area kolam renang, Milan nampak sedang berlenggak lenggok dengan pakaian senam. Tubuh langsingnya dia goyangkan ke kiri dan ke kanan mengikuti birama musik aerobik.
Dengan mata yang berkaca-kaca, tiba-tiba saja Lidya segera berlari menghampiri dan langsung memeluk tubuh Milan membuatnya segera menghentikan gerakan tubuhnya.
"Milaaaan ... Makasih karena kamu udah nyelamatin aku dua kali, makasih banget," lirih Lidya sedikit terisak.
"Hentikan, siapa yang nyelamatin kamu? Aku cuma nyuruh si Fajar buat jemput kamu di sana,'' jawab Milan mengurai pelukan dan kembali meneruskan gerakan senam aerobik'nya.
"Iya aku tau. Tapi, si brengsek Caviar mengirim pembunuh buat ngebunuh aku si sana.''
"Hah ...?" Milan seketika terkejut dan menghentikan gerakan tangannya yang sedang dia rentangkan ke samping.
"Maksud kamu, bajingan itu mengirim seseorang buat ngebunuh kamu di sana?"
Lidya menganggukkan kepalanya.
"Astaga ..." Gumam Milan menghentikan alunan music yang berasal dari ponselnya.
Grep ....
__ADS_1
Lidya kembali memeluk tubuh Milan membuat Milannita merasa risih dan kembali mengurai pelukan.
"Oke ... Tapi, gak usah pake peluk-peluk segala kayak gini kali, geli tau,'" gerutu Milan memundurkan langkah kakinya.
"Sorry ... Sorry ... Aku senang banget akhirnya bisa ketemu lagi sama kamu Milan." Jawab Lidya cengengesan.
"Ya kali ... Tapi gak usah pake peluk-peluk segala, mendingan aku di peluk sama suami aku, iya 'kan Ze ...?'' teriak Milan menatap suaminya yang saat ini sedang membersihkan rumput liar di perkebunan mini miliknya.
"Zeze ... Maksudnya Zergo? Kalian udah nikah?"
Milan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Waaah ... Selamat ya, akhirnya kalian menikah juga.''
"Ngucapin selamatnya nanti aja. Sekarang ceritain gimana ceritanya si brengsek itu bisa mengirimkan pembunuh ke sana? Aku sampai merinding lo mendengarnya," tanya Milan duduk di lantai dan diikuti oleh Lidya kemudian.
"Untung saja Fajar datang tepat pada waktunya. Kalau tidak, aku sudah benar-benar mati di tangan laki-laki brengsek itu."
"Tapi ngomong-ngomong, kenapa kamu pake jemput aku segala? Ada masalah apa? Kamu kangen ya sama aku?"
"Dih, ke geeran banget sih. Mana mungkin aku kangen sama kamu, yang ada hidup aku tenang banget gak ada kamu, nggak ada yang ngomel-ngomel ini itu," jawab Milan mengangkat ujung sisi bibirnya.
"Hahaha ... Aku kira kamu beneran kangen sama aku, Milan."
"Hahaha ... Itu karena si Caviar gila itu membuat ulah. Coba kamu liat ini." Milan memperlihatkan siaran ulang saat Caviar diwawancarai tepat di depan pagar rumahnya waktu itu.
Lidya pun menyaksikan siaran yang dia tonton dari dalam ponsel Milan dengan perasaan kesal.
"Kurang ajar. Jelas-jelas dia yang selingkuh, aku saksi hidupnya karena dia berselingkuh sama aku. Benar-benar gila tuh orang."
__ADS_1
"Makannya itu, aku butuh kamu di sini buat jelasin ke wartawan bahwa semua yang dikatakan oleh si brengsek itu bohong."
"Bukannya kalian punya rekaman waktu itu ya?"
"Rekaman?" Zergo yang berada tidak jauh dari tempat mereka berdua pun seketika langsung menghampiri dan duduk tepat di samping istrinya.
"Iya. Bukannya kalian pernah merekam waktu kami lagi anu-anu di kursi waktu itu, hehehe ..."
"Astaga ... Kenapa saya sampe lupain hal itu?"
"Tapi ponsel aku 'kan rusak Zeze. Bukannya kamu udah servis juga ya tuh ponsel?''
"Belum."
"Dasar bodoh."
"Hus kamu ini, gak sopan banget si suami sendiri di bilang bodoh." Sela Lidya merasa gemas sebenarnya melihat Milan dan Zergo bertengkar kecil tapi, tetap terlihat romantis.
"Kamu kali yang bodoh, suruh siapa lempar-lempar ponsel sembarang, jadinya rusak 'kan?'' ucap Zergo menatap kesal wajah istrinya.
"Ya, aku 'kesel waktu itu."
"Kesel si kesel tapi, kamu lihat 'kan bukti satu-satunya yang kita punya raib begitu saja."
"Udah cukup, kita udah gak ngebutuhin video itu lagi," sela Lidya lagi membuat Milan dan Zergo seketika menghentikan perdebatan mereka lalu tertawa senang.
"Hahaha ... Kamu benar Lidya, kita udah gak butuh video itu lagi, 'kan udah ada bukti nyata di sini, yaitu kamu Lidya." Ucap Milan tertawa renyah.
"Betul ... Betul sekali. Aku akan bantu kamu buat mengembalikan nama baik kamu, Milan. Bahkan, kamu bisa jadi artis dan karir kamu bisa bersinar lagi kayak dulu," tegas Lidya menatap wajah Milan penuh keyakinan.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️