Balas Dendam Istri yang Terhina

Balas Dendam Istri yang Terhina
Psikopat


__ADS_3

Lidya meringkuk di dalam mobil bersama tiga orang laki-laki bertubuh besar, karena dirinya berontak sedemikian rupa berusaha melepaskan diri lengkap dengan teriakan yang memekikkan telinga, kini mulutnya ditutup menggunakan lakban dengan kaki dan kedua tangan yang diikat kuat menggunakan tali.


Alhasil, dia pun tidak bisa berbuat apapun lagi selain hanya terdiam meringkuk dengan mata yang menatap kesal ketiga orang yang berada bersamanya di dalam sana.


'Brengsek, aku tau ini ulah kamu Caviar.' (batin Lidya)


Laju mobil yang semula berjalan kencang kini mulai melambat dan berhenti di halaman Villa milik Caviar, Lidya pun hanya bisa mendengus kesal karena dia sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan kembali ke sana.


Ceklek ....


Pintu mobil pun di buka, salah satu preman nampak membuka pintu mobil lalu membopong tubuh Lidya masuk ke dalam Villa. Laki-laki bertubuh besar itu pun menghiraukan Lidya yang berontak bahkan menggerakkan tubuhnya sedemikan rupa.


"Hmm ..." Lidya mencoba berteriak meski yang terdengar hanya sebuah gumaman.


"Diam wanita jal*ng, tahan tenaga kamu buat berteriak di dalam," ketus laki-laki itu tertawa menyeringai.


'Kurang ajar, brengsek gila,' (batin Lidya)


Ceklek ....


Pintu Villa pun di buka, tubuh Lidya pun di masukan ke dalam sana.


Bruk ....


Tubuh Lidya digeletakan begitu saja di atas lantai dengan hentakan bertenaga membuat Lidya seketika meringis kesakitan.

__ADS_1


Prok ... Prok ... Prok ....


"Selamat datang kembali selingkuh aku yang cantik, wanita pemberani yang tidak takut mati," terdengar suara Caviar menggelegar diiringi senyuman yang terlihat menyebalkan.


"Hmmmm ..." Lidya hanya bisa bergumam seraya mengerakkan tubuhnya sedemikan rupa.


Caviar berjalan mendekat, matanya nampak menatap lekat wajah Lidya wanita yang telah menjadi pemuas hasr*tnya selama dua tahun lamanya itu. Wajah Lidya memang terlihat berbeda, berat badannya yang turun drastis membuat kedua sisi pipinya lebih terlihat tirus dengan dagu yang lebih lancip dari biasanya.


Bret ....


Caviar membuka penutup mulut Lidya dengan sedikit bertenaga membuat bibir s*ksinya terlihat memerah dan sedikit membengkak.


"BRENGSEK KAMU, CAVIAR. BANCI TIDAK TAU DIRI, BERANINYA SAMA WANITA MAIN BELAKANG PULA. LEPASIN AKUUUU ..."


Caviar langsung menghadiahi sebuah tamparan keras di satu pipi wanita itu membuat Lidya meringis kesakitan merasakan panas di satu sisi pipinya.


"Diam wanita j*Lang, seharusnya kita tidak pernah ketemu lagi. Seharusnya kamu mati di sana Lidya, kamu apakah anak buah aku, hah?"


"Hahaha ... Jadi dia belum kembali juga? Syukurlah, aku senang sekali mendengarnya. Itu berarti anak buah mu yang gila itu mati di sana, dan mungkin saja sekarang mayatnya sudah di makan burung pemakan bangkai, hahaha ..."


Plak ....


Satu sisi pipi Lidya yang lainnya pun mendapatkan tamparan keras dan lebih bertenaga dari yang sebelumnya. Panas dan perih, itulah yang dirasakan oleh Lidya, kedua sisi pipinya pun merasa terbakar kini, air mata pun seketika berjatuhan begitu saja membasahi wajah cantik seorang Lidya.


"HAAAA ... DASAR BAJINGAN PSIKOPAT, BRENGSEK KAMU CAVIAR," teriak Lidya memekikkan telinga.

__ADS_1


"Hahaha ... Andai saja kamu gak kembali ke sini, mungkin kamu sudah mati dengan tenang, sayang."


"Kamu salah, aku yang akan membunuh kamu brengsek. Apa kamu lupa, anak buah kamu saja aku kalahkan, dia tidak kembali lagi ke sini 'kan? Apa kamu ingin tau apa yang aku lakukan sama dia?"


"Dasar wanita jal*ng sialan, apa yang kamu lakukan sama si Mark, hah?"


"Oh, jadi namanya Mark. Pusaka dia aku injak, kamu tau telurnya itu aku pecahin, aku injak-injak sekuat tenaga sampai pusaka si Mark sialan itu pecah bahkan sampai mati di pinggir jalan. Apa kamu mau aku injak juga pusaka kamu biar kamu gak bisa macam-macam lagi?" Teriak Lidya dengan bola mata yang membulat sempurna, diiringi dengan buliran air mata tapi, Lidya tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun.


Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh wanita di hadapannya itu pun membuat Caviar seketika benar-benar merasa ngilu mengusap benda yang menjadi kebanggaannya itu. Sekujur tubuhnya pun terasa merinding membayangkan bagaimana rasanya jika dia ada di posisi Mark saat ini.


"Dasar gila. Gila kamu Lidya," teriak Caviar memegangi pusaka yang mendadak mengecil seolah bersembunyi di balik segitiganya di dalam sana.


"Hahaha ... Kenapa muka kamu pucat kayak gitu, Caviar. Kamu takut?"


Caviar pun melayangkan tangannya ke udara hendak kembali menampar wajah Lidya namun, diapun menahan telapak tangannya di udara dan menatap tubuh wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan mes*m menggoda.


Sesaat, ingatannya pun kembali melayang ke masa lalu, saat wanita ini masih menjadi selingkuhannya dan membayangkan betapa nikm*tnya waktu mereka berc*mbu kala itu.


Caviar pun menurunkan tangannya lalu berjongkok tepat di depan tubuh Lidya semakin intens menatap setiap jengkal tubuh wanita itu seolah ingin kembali merasakan keni*matan berc*nta dengan mantan selingkuhannya itu.


Senyuman pun kini terlihat di kedua sisi bibirnya, tatapan binarnya benar-benar menyiratkan ga*rah yang mulai naik ke permukaan, ha*rat seorang Caviar pun telah benar-benar berada di ujung keinginan.


"Sebelum kamu mati, lebih baik kamu layani dulu aku seperti yang selalu kamu lakukan dahulu, sayang." Lirih Caviar menggendong tubuh Lidya dan segera membawanya ke dalam kamar.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2