Balas Dendam Istri yang Terhina

Balas Dendam Istri yang Terhina
Obsesi


__ADS_3

Tok ... Tok ... Tok ....


Terdengar suara ketukan di pintu kamar mandi membuat Milan dan Zeze seketika terkejut karena mereka masih dalam keadaan polos dan juga masih dalam posisi berdiri saling berhadapan, baru saja selesai melakukan pelepasan.


"Siapa si? Gangguin aja." Gerutu Milan kesal menatap ke arah pintu.


"Siapa?" Teriak Zeze sedikit mengurai jarak.


"Ini Bibi, Tuan. Di luar ada tamu," teriak bibi diluar sana.


"Siapa bi? Bilang aja aku lagi sibuk." Teriak Milan lagi.


"Baik, Nyonya.'' Jawab Bibi lalu beranjak dari depan kamar mandi.


"Kita lanjutin ya. Gimana kalau kita main satu putaran lagi," tawar Milan tersenyum menggoda.


"Hmm ... Boleh, sayang. Kamu benar-benar luar biasa." Jawab Zergo mencubit kecil kedua sisi pipi istrinya merasa gemas kemudian mendaratkan ciu*an.


Tok ... Tok ... Tok ....


Baru saja Zergo hendak melakukan untuk yang kedua kalinya, tiba-tiba saja pintu pun kembali diketuk membuat Zergo dan Milan menghentikan gerakannya seketika dan benar-benar berada di puncak kekesalannya.


"Astaga ... Ada apa lagi, Bi?" Teriak Zergo merasa kesal lalu melepaskan tautan bibirnya.


"Anu, Tuan. Maaf mengganggu, kata tamunya penting banget, Tuan."


"Emang tamunya siapa si, bi?" teriak Milan mendelik ke arah pintu kamar mandi.


"Nona Lidya, Nyonya. Sama satu lagi laki-laki, bibi gak tau siapa namanya."


"Hah ...! Lidya ...?" Ucap Zergo dan juga Milan secara bersamaan dan juga saling menatap satu sama lain, sama-sama merasa terkejut.

__ADS_1


"Lidya pulang, dia benar-benar pulang, astaga ... Hahaha ..." Jawab Milan merasa senang lalu benar-benar mengurai jarak lalu meraih handuk untuk menutupi tubuhnya dan hendak keluar dari dalam kamar mandi.


"Sayangku ... Masa mau keluar dalam keadaan kayak gitu?" Tanya Zergo tersenyum kecil.


"O iya, aku lupa. Kita mandi dulu sebentar, Lidya biar suruh nunggu aja di luar." Ucap Milan tersenyum manja dan menggoda.


"BI, BILANGIN SAMA LIDYA. TUNGGUIN BENTAR YA, AKU LAGI MANDI DULU.''


"Baik, Tuan.''


♥️♥️


Sementara itu, di ruang tamu. Lidya dan juga Fajar menunggu dengan perasaan tidak sabar dan juga tubuh yang kelelahan karena segera ke sana saat mereka sampai di bandara.


"Aduh, si Milan lagi ngapain si? Lama banget,'' gerutu Lidya berbaring di kursi ruang tamu layaknya sedang berada di rumah sendiri.


"Kamu tidur aja, nanti aku bangunin kalau Nona Milan datang." Ucap Fajar yang juga merasa lelah sebenarnya.


Karena tidak tahan dengan rasa kantuk yang begitu menyiksa di tambah lagi dirinya sempat berduel dengan laki-laki bernama Mark, Fajar pun melakukan hal yang sama. Dia berbaring dan tertidur di kursi tersebut dan langsung terlelap seketika itu juga.


Satu jam kemudian.


"Astaga ... Mereka sampai ketiduran kayak gini," ucap Milan sesaat setelah dirinya sampai di ruang tamu.


"Mereka tidur?" Tanya Zergo berjalan menghampiri istrinya dari arah belakang.


"Tuh ... Lidya dan Fajar sampai ketiduran gitu. Apa kita terlalu lama di kamar mandi ya?"


"Kamu si minta nambah segala, jadi mereka kelamaan nungguin kita 'kan?"


"Tapi kamu suka 'kan?"

__ADS_1


"Hehehe ... Suka, suka banget ..." Jawab Zergo mencubit kecil kedua sisi pipi istrinya.


"Nah 'kan? Kita sama-sama suka."


"Ya udah, kita biarkan mereka beristirahat di sini. Gak usah dibangunkan sekarang."


"Oke. Kayaknya mereka juga langsung ke sini, setelah mereka sampai di bandara.'' Ucap Milan menatap wajah Lidya yang saat ini terlihat tirus dan kurus tidak seperti dahulu yang terlihat segar dan juga montok.


"Gimana, sambil nungguin mereka bangun, kamu masakin masakan spesial buat mereka."


"Hmm ... Boleh juga. Tapi, kamu bantuin ya."


"Oke ... Kita lihat bahan makanan apa yang bisa kita masak di kulkas."


Milan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum senang.


♥️♥️


Sementara itu, kediamannya Caviar. Dia merasa kesal karena sampai saat ini orang kepercayaannya yang sedang berada di Australia tidak bisa dihubungi. Berkali-kali dia mencoba menelpon, Mark masih saja tidak mengangkat bahkan baru saja ponsel laki-laki itu tidak aktif membuat Caviar murka.


"Brengsek ... Kenapa Mark gak angkat telpon aku? Ponselnya malah gak aktif lagi. Kurang ajar." Gerutu Caviar melempar ponsel miliknya sembarang ke atas ranjang.


Dia pun berbaring dan menatap langit-langit kamar seraya membayangkan wajah Milannita membuat langit-langit kamar pribadinya itu seolah dipenuhi dengan wajah mantan istrinya itu.


Sepertinya, Caviar benar-benar telah terobsesi terhadap Milan. Hatinya begitu bergemuruh dan begitu menginginkan wanita itu kembali di dalam dekapannya. Baginya, Milan adalah satu-satunya wanita yang dia inginkan di dunia ini.


Dia pun tidak peduli meskipun wanita yang diinginkannya itu sudah jadi milik laki-laki lain dan tidak akan membiarkan hal itu berlangsung lama, karena dia sudah berniat untuk melenyapkan Zergo suami Milan saat ini.


"Jika aku gak bisa memiliki kamu maka tidak ada laki-laki lain yang boleh memiliki dirimu, sayang. Dan jika kamu masih bersikeras menolak aku, lebih baik aku melihat kamu mati daripada melihat kamu dengan laki-laki bernama Zergo itu." Gumam Caviar menatap langit-langit kamar seolah Milan benar-benar berada di sana.


"Hahahaha ..." Tawa Caviar terdengar nyaring dan menggelegar seperti orang yang kehilangan akal.

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2