Balas Dendam Istri yang Terhina

Balas Dendam Istri yang Terhina
Hadiah Spesial


__ADS_3

"Eu ... Kamu serius mau aku tanda tangan di sana?'' tanya Milan merasa tidak yakin saat Fajar memperlihatkan punggungnya.


"Serius, Nona. Sudah lama saya memang ingin tanda tangan anda di sini,'' jawab Fajar tersenyum bahagia.


"Oke, kalau itu memang mau kamu, dimanapun akan aku berikan tanda tangan untuk penggemar spesial kayak kamu,'' jawab Milan tanpa berfikir panjang dia segera membubuhkan tanda tangannya di punggung kekar Fajar, penggemar setianya.


"Makasih, Nona. Makasih banget. Saya senang banget, sebelum terbang ke Australia saya bakalan mampir dulu ke suatu tempat buat mengabadikan tanda tangan Nona ini," ucap Fajar tersenyum sangat lebar.


"Hah? Maksud kamu?"


"Anu ... sebenarnya, udah lama sekali saya pengen buat tatto wajah anda tapi, berhubung itu hal yang mustahil, cukup tanda tangan anda aja yang akan saya buatkan tatto di punggung saya ini."


"Haaaaaah? Kamu seri-us?"


"Tentu saja. Saya ini pengemar sejatinya Nona Milan lho.'' Jawabnya lagi masih dengan senyuman yang merekah begitu lebarnya.


Tiba-tiba saja, Milan berbisik di telinga suaminya. Bisikan yang sama sekali tidak dapat di dengar oleh Fajar.


"Apa? Gila kamu. Nggak-nggak ... Enak aja," ucap Zergo setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Milan di telinganya.


"Sekali ini aja. Lihat, dia benar-benar penggemar sejati aku, sayang. Lagian cuma satu kali aja ko. Please ..." Rengek Milan dengan tatapan sayu memohon.


"Sayangku, Milannita ...!"


"Zeze ku, Zergo ku sayang ... Satu kali aja. Anggap aja ini sebagai ungkapan terima kasih aku sama dia. Dia udah bersedia bantuin kita lho. Malahan mau terbang sekarang juga, sekali aja, ya, ya, ya ... Hmmm ...'' Milan masih mengiba.


Sementara Fajar hanya menatap keduanya dengan tatapan tidak mengerti.


"Nona, boleh saya permisi sekarang." Ucap Fajar tidak ingin berada di tengah-tengah pasangan suami-istri yang sedang berdebat.

__ADS_1


"Tunggu, Fajar." Pinta Milan menghentikan.


"Zeze, kalau kamu gak ngijinan aku bakalan marah nih," lirih Milan lagi mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.


"Astaga, Milan. Ya udah satu kali aja." Zergo akhirnya mengijinkan apa yang di pintakan oleh istrinya.


Milan pun tersenyum lebar. Lalu, sedetik kemudian ....


Cup ....


Milan menghadiahi kecupan di pipi penggemar beratnya itu hingga merahnya lipstik kini membekas di pipi pemuda itu. Fajar yang benar-benar terkejut dan merasa tidak percaya akan dihadiahi sebuah kecupan nampak berdiri mematung merasa tidak percaya. Tubuhnya terasa kaku, bahkan jantungnya mendadak berpacu begitu cepat.


"No-na ..." Lirih Fajar dengan mata yang terlihat berkaca-kaca saking senangnya.


"Itu sebagai ungkapan terima kasih aku sama kamu, Fajar. Aku sungguh tersentuh dengan pengorbanan kamu. Tapi ya ... Jangan salah paham juga si, anggap aja itu adalah kecupan dari seorang kakak buat adiknya."


Milan pun ikut tersenyum lebar melihat betapa senangnya Fajar setelah dia menerima hadiah yang dia berikan. Akan tetapi, ekspresi berbeda ditunjukkan oleh Zergo, wajahnya terlihat merah padam menahan rasa cemburu dihatinya yang kini terasa menggebu.


"Saya permisi, kakak Milan, bang Zergo," pamit Fajar lalu segera keluar dari dalam rumah dengan tersenyum lebar.


Sepeninggal pemuda bernama Fajar itu, tinggalah Milan bersama suaminya yang kini memasang wajah masam juga jutek. Milan yang tau karena apa suaminya seperti itu segera menyandarkan kepalanya di bahu suaminya lengkap dengan rengekan manja.


"Sayang ... Badan aku pegel-pegel, pijit plus-plus yu," lirih Milan mengusap dada bidang suaminya.


"Nggak, pijit aja sendiri." Jawab Zergo ketus, menepis pelan kepala istrinya kemudian berlalu meninggalkan Milan.


"Ikh, sayang ... Masa gitu aja marah sih? Nih ya, kalau aku jadi artis lagi, aku syuting film layar lebar nanti, pasti bakalan ada adegan kayak gitu, atau dipegang-pegang sama lawan main aku nantinya. Gimana coba?" Rengek Milan lagi mengekor di belakang suaminya kemanapun Zergo berjalan.


"Zeze ..." Rengek'nya lagi.

__ADS_1


Zergo tetap diam seribu bahasa.


"Ikh ... Sayaaaaang ... Zeze ..." Rengek Milan manja, terus saja mengekori suaminya.


❤️❤️


Sementara itu, Caviar nampak sedang bersenang-senang di Villa miliknya dengan ditemani beberapa wanita penghibur. Dirinya duduk di tepi kolam dengan memegang gelas kaca berisi anggur merah dengan mata yang menetap para wanita berpakaian b*kini berenang di dalam kolam diiringi suara musik DJ yang menggema begitu memekikkan telinga.


Senyuman Caviar pun terlihat mengembang begitu lebar bahkan sangat lebar. Setiap harinya dia hanya menghabiskan waktu dengan bersenang-senang bersama beberapa wanita yang sengaja dia panggil untuk menemani hari-harinya yang terasa begitu membosankan.


Tidak lama kemudian, orang kepercayaannya pun datang. Mark sedikit membungkukkan tubuhnya saat dirinya sampai tepat di depan Caviar.


"Selamat malam, Tuan." Ucap Mark memberi hormat.


"Gimana, apa kamu udah menemukan Lidya?" Tanya Caviar meneguk anggur merah hingga gelas itu terlihat kosong.


"Sepertinya, Nona Lidya udah pindah keluar negeri, Tuan."


"Keluar negeri?''


Mark menganggukkan kepalanya dengan wajah datar.


"Hmm ... Kamu tau dia pindah kemana?"


"Saya dengar dia pindah ke negara Australia."


"Kamu susul dia ke Australia. Bawa dia ke sini, atau kalau perlu bungkam mulutnya di sana, biar gak ada yang bisa menemukan dia," jawab Caviar tegas dan penuh penekanan.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2