Balas Dendam Istri yang Terhina

Balas Dendam Istri yang Terhina
Malam Terakhir


__ADS_3

Fajar masuk kembali ke dalam kamar dengan membawa segelas air susu hangat yang spesial dia buatkan untuk wanita yang dia cintai itu.


Wajah Lidya pun sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya, tubuh Lidya bahkan sudah berganti pakaian mengenakan pakaian yang sudah disiapkan oleh Milan sebelumnya.


Lidya ingin melupakan sejenak masalah yang sedang dia hadapi, masalah besar yang tentunya sedang menunggunya di depan. Malam ini, dia ingin menghabiskan waktu yang masih tersisa bersama pemuda bernama Fajar.


Malam ini dia ingin bersenang-senang bersama pemuda yang telah terang-terangan mengatakan dan meyakinkan bahwa dia mencintai dirinya tulus dan tentu saja, dia pun mempercayai hal itu.


"Minum dulu susu hangat ini, Lidya." Pinta Fajar duduk di tepi ranjang lalu menyerahkan gelas berukuran tinggi tersebut.


"Makasih, Fajar." Lidya menerima gelas tersebut dengan tersenyum manis.


Glegek ... Glegek ... Glegek ....


Suara air susu yang melintas di tenggorokan Lidya pun terdengar begitu nyaring, dan gelas tersebut seketika kosong membuat Fajar tersenyum puas lalu meraih kembali gelas tersebut.


"Kamu istirahat saja, jangan terlalu memikirkan masalah yang lagi kamu hadapi." Ucap Fajar tersenyum manis.


"Maukah kamu menemani aku di sini malam ini?"


Fajar pun tersenyum senang lalu menganggukkan kepalanya.


"Sini, tidur bersama aku." Pinta Lidya membuat Fajar seketika merasa gugup dengan tubuh yang sedikit gemetar.


"Eu ... Anu, Lidya. Apa gak apa-apa kita tidur seranjang kayak gini?" Tanya Fajar dengan wajah yang memerah dan nada suara yang terbata-bata.

__ADS_1


"Hahaha ... Kenapa wajah kamu merah kayak gitu? Apa sebelumnya kamu belum pernah tidur dengan seorang wanita?"


Fajar menggelengkan kepala seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak merasa gatal sama sekali.


"Hmm ... Begitu, santai aja. Rileks, anggap aja ini adalah malam terakhir kita sebelum aku menyerahkan diri ke kantor polisi besok," lirih Lidya menahan rasa sedih sebenarnya.


Setelah mendengar hal itu, Fajar pun seketika naik ke atas ranjang lalu berbaring tepat di samping Lidya. Dia bahkan menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebal begitupun dengan tubuh wanita bernama Lidya tersebut.


Hangat dan nyaman, itulah yang di rasakan oleh Lidya sekarang. Hatinya seketika merasa sejuk dan damai benar-benar melupakan masalah yang saat ini sedang dia hadapi.


Dia pun memeluk tubuh pemuda itu tidak peduli jika tubuh Fajar benar-benar bergetar sekarang, bahkan berkeringat dingin membuatnya tersenyum kecil.


"Jangan tegang kayak gitu, santai aja. Aku gak bakalan makan kamu ko," ucap Lidya memejamkan mata.


"Eu ... Anu, Lidya. Kalau saya sampai kelepasan gimana?''


"Eu ... Itu ... Anu ... Saya--"


"Kenapa? Aku 'kan udah bilang, santai aja."


"Saya gak bisa santai, Lidya. Tubuh saya benar-benar bergetar sekarang. Itu, dada kamu nempel," jawab Fajar seolah menahan napasnya.


"Maksudnya ini?" Lidya meletakan kedua telapak tangannya di kedua gunungan kembar miliknya yang ternyata tidak memakai penutup apapun membuat Fajar yang melihatnya seketika menelan ludahnya kasar.


"Aduuh ..."

__ADS_1


"Kenapa lagi, Fajar? Astaga."


"Saya benar-benar sudah tidak tahan lagi,'' ucap Fajar seketika langsung mendaratkan ci*man di bibir Lidya buas benar-benar sudah tidak bisa lagi mengendalikan gejo*ak yang saat ini memenuhi relung jiwanya.


Lidya yang memang juga sedang menginginkan hal itu pun menerima begitu saja ci*man panas yang dilayangkan oleh pemuda itu dengan lebih berga*rah bahkan, dia mulai mengendalikan permainan.


Keduanya pun benar-benar larut dalam gai*ah yang men*gelora kini. Suasana kamar yang semula terasa dingin pun seketika panas seiiringan dengan panasnya permainan yang sedang mereka lakukan.


Helai demi helai pakaian yang mereka kenakan pun mulai berterbangan ke sembarang arah hingga keduanya benar-benar polos tanpa sehelai benangpun.


"Apa gak apa-apa aku melakukan ini? Kamu tidak merasa keberatan sama sekali?" Tanya Fajar saat pusaka miliknya hendak menerobos masuk ke dalam sana dengan napas yang tersengal-sengal, dan dengan g*irah yang sudah berada di puncak keinginan.


"Lakukan sekarang, Fajar. Anggap saja ini adalah hadiah terakhir sebelum kita benar-benar berpisah.'' Jawab Lidya dengan tatapan sayu menatap wajah Fajar dengan perasaan sedih sebenarnya.


Kenapa di saat ada laki-laki yang telah bersedia menerima dan mencintai dirinya apa adanya, dia harus terjerat kasus seperti ini? Kenapa dia tidak di beri kesempatan untuk merasakan bahagianya dicintai dengan sepenuh hati sesuatu yang selama ini sangat dia dambakan.


Kenapa dia harus berpisah dengan laki-laki bernama Fajar yang jelas-jelas telah membuktikan ketulusan cinta yang dia punya untuk dirinya? Seketika buliran air mata pun berjatuhan membasahi wajah cantik seorang Lidya, meratapi nasib buruk yang menimpa dirinya.


Apakah ini karma?


Ya ....


Lidya pun menyadari hal itu dan seketika mencoba ikhlas menuai apa yang telah dia tanam di masa lalu.


Blesss ....

__ADS_1


Pusaka milik pemuda itu pun melesat masuk ke dalam sana, Lidya pun menyudahi lamunan panjangnya dan bersiap memulai pendakian dan menikmati malam terakhirnya bersama Fajar.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2