
Milan mulai menuangkan anggur ke dalam gelas kaca tinggi yang memang sengaja dia bawa. Dia mengisinya penuh lalu langsung meneguknya habis hanya dengan sekali tegukan saja sampai gelas tersebut terlihat kosong.
"Hmm ... Anggur memang minuman paling nikmat di saat tubuh kita lagi kelelahan kayak gini," gumam Milan seraya tersenyum mengusap bibirnya yang basah.
"Apa kamu selalu kayak gini?" Tanya Zergo menatap Milan seraya menahan rasa kantuk serta lelah di tubuhnya.
"Kayak gini gimana maksud kamu?"
"Minum-minum kayak gini."
"Hmm ... Hampir setiap malam aku kayak gini, kalau aku kesepian, hanya anggur ini yang selalu menemani aku dan menghilangkan rasa lelah dan juga kesepian aku."
"Kayaknya mulai sekarang kamu harus kurangi kebiasaan kamu yang satu ini deh, minum setiap malam gak baik buat kesehatan, gimana mau balas dendam kalau kamu gak bisa jaga kesehatan, kalau kamu sakit gimana?"
"Aku suka."
"Hah ...?" Zergo mengerutkan keningnya.
"Aku suka kamu ngomong kayak gini, aku berasa di perhatiin." Ucap Milan kembali mengisi gelas yang sudah terlihat kosong.
"Oh begitu, apa suami kamu gak pernah larang kamu minum?"
"Dia? Ha ... Ha ... Ha ... Justru dia yang ngajarin aku gimana caranya minum, kalau dia lagi di rumah, kami pasti minum berdua."
"Emangnya sekarang dia gak ada di rumah?"
Milan menganggukkan kepalanya lalu menunduk, kepalanya pun mulai terasa ringan.
"Itu sebabnya kamu datang kemari, biar ada yang nemenin kamu minum?"
Milan kembali menganggukkan kepalanya. Lalu kembali meneguk gelas anggur tersebut.
"Kamu gak minum?" Tanya Milan tersenyum.
__ADS_1
"Nggak, saya belum pernah minum anggur, kalau makan buah anggur saya sering, karena buah itu banyak di perkebunan."
"Mau coba?" Tawar Milan mengisi gelas kosong yang berada tepat di depan Zergo.
"Nggak usah, Milan. Saya gak biasa minum."
"Cuma cicipi segelas aja, masa aku minum sendiri sih?"
"Hmm ... Oke kalau gitu, tapi saya cuma minum satu gelas aja ya, oke."
Milan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis dengan tubuh yang mulai terasa mabuk.
Meski ragu pada awalnya, akhirnya Zergo pun meraih gelas tersebut, menatap merahnya anggur lalu mencium aromanya, setelah itu, dia pun mulai mencicipi anggur tersebut.
Awalnya, dia hanya menjulurkan lidahnya untuk mengetahui rasa minuman yang sama sekali belum pernah dia cicipi, namun, setelah merasakan betapa manisnya minuman tersebut pun, dia langsung meneguk habis minuman itu sampai gelas tersebut kosong tak bersisa, membuat Milan seketika terkekeh merasa lucu melihat raut wajah Zergo yang terlihat lucu.
"Enak?"
Zergo menganggukkan kepalanya.
Zergo kembali menganggukkan kepalanya.
"Apa aku bilang, minuman paling enak di dunia ya ini, anggur merah. Ha ... Ha ... Ha ... " Tawa Milan terdengar renyah mulai terlihat mabuk.
"Tapi tetap aja, kamu harus kurangi kebiasaan minum kamu ini."
"Iya-iya sayang, aku janji besok-besok bakal kurangi kebiasaan minum aku." Jawab Milan berdiri lalu menghampiri Zergo yang memang duduk di kursi berbeda.
Entah karena efek minuman anggur itu sudah mulai mengendalikan tubuh Milan, atau memang dia sadar seutuhnya dalam melakukan hal ini, tiba-tiba saja dia duduk di atas pangkuan Zergo dan melingkarkan kedua tangannya di leher Zergo seraya menatap wajah teduh laki-laki itu dengan tatapan mata sayu dan kepala yang sedikit bergoyang.
"Kamu jahat, Mas." Ucap Milan tiba-tiba.
"Mas?" Zergo membulatkan bola matanya.
__ADS_1
"Kamu jahat karena telah mengkhianati aku, apa kamu tau kalau aku sangat mencintai kamu, hah?" Milan dengan sedikit terisak berbicara seolah Zergo adalah suaminya.
"Mil--" lirih Zergo menatap wajah Milan dengan tatapan sayu.
"Aku benci kamu, Mas. Benci ... hiks hiks hiks ..." Tangis Milan seketika pecah, dia memukul dada Zergo secara berkali-kali diiringi dengan isikan yang terdengar pilu.
Zergo pun hanya terdiam membiarkan wanita yang dicintainya itu meluapkan rasa kesal dan kecewa di hatinya kepada dirinya, sampai akhirnya, Zergo pun memeluk tubuh Milan erat, membawanya dalam dekapan hangat dirinya seraya mengusap punggungnya lembut merasa iba.
"Kamu benar-benar jahat, Mas." Lirih Milan di dalam dekapan Zergo.
"Iya, Mil. Keluarkan semua rasa kecewa kamu, sampai hati kamu merasa lega, pukul saya dan anggap saya suamimu karena di depan dia kamu gak akan pernah bisa dan harus menahan semua ini, aku rela jadi tameng kamu, Mil." Lirih Zergo membenamkan wajahnya di tengkuk Milan.
Seketika, Milan pun tiba-tiba mengurai pelukan lalu menatap wajah Zergo dengan menyipitkan matanya.
"Kamu si-apa?" Tanya Milan dengan suara yang terbata-bata.
Zergo tertawa lucu.
"Kamu laki-laki tukang buah itu ya? Yang waktu itu bawa aku ke pasar?" Tanya Milan lagi benar-benar sudah dikuasai minuman dengan benar-benar mabuk berat.
"Ternyata muka kamu tampan juga, hmm ... Tapi sayang kamu hanya tukang buah. Tapi gak apa-apa, aku suka ko sama kamu, beneran, meskipun rumah kamu sederhana, mobil kamu butut kayak odong-odong, tapi aku tetap suka sama kamu, Zergo.''
''Gak kayak si Caviar sialan itu, dia emang tampan, mobil dia bagus, kaya lagi, tapi dia jahat, dia iblis berkedok malaikat, aku suka sama kamu Zeze ..." Ucapnya lagi berbicara melantur lalu langsung mendaratkan ciuman di bibir Zergo buas, dia bahkan meletakkan kedua telapak tangan di kedua sisi rahang Zergo yang kini berkeringat.
"Hmm ... Bibir kamu juga manis, semanis minuman anggur yang baru aja aku minum itu," lirih Milan masih berbicara melantur.
Tiba-tiba saja Milan bangkit lalu merubah posisi duduknya menjadi saling berhadapan di atas pangkuan Zergo yang saat ini mulai merasakan gair*h di dalam tubuhnya yang mulai naik ke permukaan, karena sesuatu di bawah sana, kini tiba-tiba menegang keras tepat berada di bawah pinggul Milannita yang saat ini dalam keadaan mabuk berat.
"Aku cinta sama kamu Zeze, bantu aku dalam membalaskan dendam, temani aku dalam menjalani hari-hari yang melelahkan ini, dan jangan pernah tinggalkan aku, Zeze."
"Iya, sayang. Saya gak akan pernah meninggalkan kamu ataupun mengkhianati kamu kayak yang dilakukan oleh suami kamu itu, saya janji," jawab Zergo tersenyum tulus lalu mel*mat lembut bibir Milan yang kini terlihat memerah sekaligus basah oleh anggur merah.
Mereka pun benar-benar meluapkan hasrat masing-masing, saling mendekap dengan ci*man panas pun kini tercipta dengan gairah yang yang mulai menggelora, tangan Zergo bahkan mulai berani menyisir setiap jengkal raga Milan dan mulai melucuti satu-persatu pakaian yang melingkar di tubuh indah wanita tersebut.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️