Balas Dendam Istri yang Terhina

Balas Dendam Istri yang Terhina
Meminta Tolong


__ADS_3

Lydia menyesal karena telah percaya begitu saja dengan laki-laki bernama Caviar yang telah merajut cinta terlarang dengannya dan selalu dia layani dengan sepenuh hati. Bahkan dulu, dua tahun yang lalu Caviar juga yang membuka segel kewani*aan miliknya membuat Lydia menjadikan laki-laki itu tumpuan hidupnya dan juga begitu mencintai Caviar dengan sepenuh hati selama ini.


Dia sama sekali tidak menyangka kalau apa yang selama ini ditunjukkan oleh Caviar, sikap baik, kata-kata manis dan rayuan maut yang selalu saja keluar dari bibir Caviar semuanya hanyalah sebuah kepalsuan.


Betapa hati Lydia merasa hancur berkeping-keping ketika kini laki-laki yang sangat dicintainya itu memperlakukan dirinya dengan kejam bahkan menyekapnya di gudang.


Tubuh Lydia yang masih penuh dengan lelehan telur busuk yang sudah sedikit mengering pun membuatnya merasa menjadi manusia yang paling hina dan menjijikkan.


"Aku benar-benar gak nyangka kalau ternyata ini sifat aslimu, Mas. Aku benar-benar menyesal karena telah percaya dengan semua perkataan manis mu dulu," gumam Lydia dengan tangan dan kaki yang masih diikat duduk dengan menyandarkan punggungnya di tembok.


"Aku harus segera keluar dari sini kalau nggak, Mas Caviar akan benar-benar membunuh aku," gumamnya lagi mencoba menggerakkan tangannya agar lakban yang melingkar di pergelangan tangannya itu bisa terbuka.


Lydia pun mengigit sedikit demi sedikit lakban tersebut hingga lingkaran yang mengikat kuat di tangannya sedikit melonggar kini.


Tanpa dia sadar bahwa, ponsel miliknya masih berada di dalam saku celananya dan kini berdering keras membuatnya segera merogoh saku celana menggunakan tangan yang masih terikat.


Ponsel tersebut pun berhasil di raih akhirnya dan Lydia menatap layar ponsel yang kini bertuliskan nama Milannita.


"Milan? Ada apa dia nelpon aku?" lirih Lydia pelan.


"Apa aku minta tolong dia aja ya? Tapi, mana mungkin dia mau menolong aku setelah apa yang aku lakukan sama dia."


Lydia pun terdiam dan berfikir sejenak, setelah itu dia segera mengangkat telpon.


📞 "Halo, Milan. Aku mohon tolong aku." Lydia mengangkat telpon dengan suara berat dan mengiba.


📞 "Dimana kamu? Kita harus bicara sekarang juga."


📞 "Suami kamu, Mil. Dia menyekap aku di gudang yang ada di Villa. Aku mohon tolong selamatkan aku, hiks hiks hiks ...."


📞 "Apa? Kamu gak bohong 'kan?"


📞 "Buat apa aku berbohong, hanya kamu satu-satunya harapan aku. Aku minta maaf atas semua yang telah aku lakukan sama kamu, aku benar-benar menyesal."


📞 "Aku gak tau apakah aku bisa nolongin kamu atau nggak, kamu lupa apa yang telah lakukan sama aku, hah?"


📞 "Iya, aku tau aku memang salah. Dan aku minta maaf, Milan. Aku benar-benar menyesali semua perbuatan aku dulu. Sungguh ...."


📞 "Kayaknya kamu emang pantas menerima semua itu jadi, berhenti merengek minta tolong dan terima saja konsekuensi atas apa yang telah kamu lakukan."


Tut ....

__ADS_1


Sambungan telpon pun terputus kemudian, pintu gudang pun terbuka dan Caviar masuk ke dalam sana dengan tatapan geram berjalan menghampiri Lydia dan merebut ponsel miliknya yang kini dalam keadaan mati karena kehabisan baterai.


"Nelpon siapa kamu, Lydia?" Tanya Caviar dengan nada suara tinggi.


"Bukan siapa-siapa, Mas. Aku mohon lepaskan aku, aku janji akan pergi jauh dari sini dan aku juga janji gak akan menunjukkan muka aku dihadapan Mas lagi. Aku benar-benar minta maaf." Rengek Lydia dengan air mata yang bergulir begitu derasnya membasahi wajahnya kini.


"Lepaskan? Hahahaha ... Jangan harap. Aku akan membuat kamu mati membusuk di sini," jawab Caviar tertawa renyah.


"Mas Caviar. Aku sangat mencintai kamu dan aku juga sudah melakukan yang terbaik selama kita berhubungan. Apa kamu lupa sama janji-janji yang telah kamu buat dahulu? Apa kamu lupa kalau kamu bilang bahwa kamu juga mencintai aku setiap kita bertemu?" Lirih Lydia menahan rasa getir di hatinya.


Caviar tidak menjawab pertanyaan Lydia, dia pergi begitu saja dan kembali menutup pintu gudang serta menguncinya.


"MAS ... MAS CAVIAR, LEPASKAN AKU, MAS. AKU CINTA SAMA KAMU. KENAPA KAMU TEGA BANGET SAMA AKU, MAS. HIKS HIKS HIKS ..."


teriak Lydia saat pintu gudang di tutup rapat.


♥️♥️♥️


Milan yang baru saja menutup telpon nampak duduk dengan perasaan gelisah. Dia pun berdiri lalu berjalan mondar-mandir di ruang santai yang biasa dia gunakan untuk menenangkan diri.


"Apa yang akan aku lakukan? Apa aku tega membiarkan Lydia mati di tangan Caviar? Meski aku sangat membenci dia tapi, aku bukan orang jahat. Walau bagaimanapun Lydia sudah aku anggap seperti adik aku sendiri. Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" Milan berbicara sendiri seraya mengigit ujung kuku jari telunjuknya merasa dilema.


"Lydia, Ze."


"Kenapa dengan dia?"


"Dia di sekap di gudang oleh Caviar. Aku baru aja nelpon dia karena aku emang ingin bertemu sama dia tapi, dia bilang sama aku bahwa Caviar akan membunuhnya dan Lydia minta tolong sama aku."


"Apa? Kamu serius?"


Milan menganggukkan kepalanya dengan wajah cemas.


"Kamu mau kita gimana? Apa kamu akan menyelamatkan dia setelah apa yang dia lakukan?" Tanya Zergo.


"Justru aku yang mau bertanya sama kamu? Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus nolongin dia atau, aku biarkan saja dia mati di tangan Caviar karena di memang pantas mendapatkannya?"


"Aku yakin kamu gak sejahat itu, Milan. Aku tau kalau kamu ingin sekali menolong dia." Jawab Zergo seolah mengerti dengan apa yang ada di hati seorang Milannita.


"Ko kamu tau?"


"Tentu saja aku tau. Aku selalu tau apa yang ada di dalam hati kamu, sayang. Kamu gak pernah bisa bohong sama aku." Jawab Zergo penuh percaya diri.

__ADS_1


"Lalu kita harus gimana? Apa kita lapor Polisi aja?"


"Kamu tau dimana tempat Lydia di sekap?"


"Dia bilang si di sekap di dalam gudang yang ada di Villa dan masalahnya, aku gak tau Villa yang mana. Caviar punya beberapa Villa,'' jawab Milan mencoba berfikir.


"Coba kamu ingat-ingat lagi. Villa mana yang sering digunakan oleh Caviar?"


Milan terdiam lalu menundukkan kepalanya seraya berfikir.


"Aku tau gimana caranya agar aku bisa tau dimana Lydia berada sekarang."


"Caranya?" Zergo mengerutkan keningnya.


Milan pun menatap layar ponsel lalu menelpon Caviar.


Tut ... Tut ... Tut ....


📞 "Halo, Mas." Sapa Milan saat Caviar mengangkat telpon darinya.


📞 "Halo Milan sayang. Istriku tercinta, berlian yang tak ternilai harganya milikku. Ada apa sayang." Jawab Caviar terdengar begitu menyebalkan di telinga Milan.


📞 "Dimana sekarang kamu, Mas? Aku ingin ketemu sama kamu?"


📞 "Kamu serius ingin ketemu sama aku?"


📞"Jangan banyak nanya, katakan saja dimana kamu sekarang. Aku akan datang ke sana."


📞 "Aku di villa yang di puncak, sayang. Kamu tau 'kan dimana tempatnya?"


Tut ....


Milan seketika menutup telpon setelah tau keberadaan Caviar sekarang.


"Kamu serius mau ke sana?" Tanya Zergo dengan tatapan khawatir.


"Gak ada cara lain. Aku harus segera menolong Lydia sebelum Caviar benar-benar membunuh dia, aku yakin dia sanggup melakukan hal itu karena hidupnya sudah hancur sekarang."


Jawab Milannita penuh keyakinan.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2