
Greek ....
Lidya benar-benar memberikan kejutan yang luar biasa. Di saat ga*rah Caviar sedang benar-benar berada di puncak kenik*atan, pusaka miliknya pun hampir meledak, tiba-tiba saja Lidya menggigit pusaka laki-laki itu membuat Caviar seketika berteriak kencang.
Rasa nikmat yang semula dia rasakan, ga*rah yang semula berada di puncak keinginan untuk segera diledakkan, dan di saat pusaka miliknya itu hampir saja memuntahkan bisa, puncak dari rasa nik*at yang dia rasakan, kini tergantikan dengan rasa sakit yang luar biasa seolah rohnya benar-benar hendak melompat dari jasadnya.
Sakit, nyeri, perih, linu ... Akh ... Pokoknya sulit di ungkapkan dengan kata-kata, rasa sakit yang dia rasakan saat ini lebih sakit dari apapun yang pernah dia rasakan di dunia ini.
"HAAAAAA ..." Teriak Caviar memekikkan telinga, dia pun seketika menghempaskan kepala Lidya hingga wanita itu tersungkur di atas lantai dengan darah segar yang menetes di ujung bibirnya.
"Cuih ..." Lidya pun meludah kasar lalu menatap tajam wajah Caviar yang saat ini berguling di atas lantai.
"Gimana rasanya, Caviar? Aku sudah peringatkan kamu tadi, bukan kamu yang akan membunuh aku, melainkan aku yang akan membunuh kamu, brengsek.'' Tegas Lidya tersenyum menyeringai penuh kemenangan.
"KU-RANG A-JA-R KA-MU, HAAAAA ..." Caviar bahkan tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Rasa sakit yang dia terima terasa menjalar ke seluruh tubuhnya.
Lidya pun nampak sedang berfikir panjang. Apa dia bunuh saja si brengsek gila ini? Selama laki-laki ini masih hidup, maka hidupnya pun tidak akan pernah merasa tenang, begitupun dengan kehidupan Milannita sahabatnya.
Lidya pun benar-benar berada di ambang dilema, sikap Arogan-nya dan rasa sakit hati yang pernah dia terima dari laki-laki yang saat ini sedang berguling kesakitan pun seketika memenuhi relung jiwanya.
Entah iblis apa yang merasuki jiwa seorang Lidya, matanya yang memerah lengkap dengan buliran air mata pun menatap tajam wajah Caviar. Rasa dendam dan amarah pun seolah melebur menjadi satu membutakan mata hati dan menutup relung jiwanya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Lidya pun menendang kepala Caviar secara berkali-kali, mengabaikan suara jeritan dan rintihan minta tolong dari laki-laki yang pernah sangat dia cintai pada masanya.
"MATI KAMU, BRENGSEK ... MATIIII ... LAKI-LAKI BAJINGAN SEPERTI KAMU TIDAK PANTAS UNTUK HIDUP, AKU GAK PEDULI JIKA AKU HARUS MASUK PENJARA DAN MEMBUSUK DIDALAM SANA, HAAAAA ..." Teriak Lidya dengan deraian air mata yang berjatuhan dengan begitu derasnya.
Hati dan jiwanya benar-benar merasa hancur, hidupnya benar-benar telah berantakan kini. Karena, dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya sekarang.
Caviar yang semula masih berteriak kencang pun kini tidak lagi bersuara. Suara kesakitan dan rintihan minta tolong pun lenyap seketika, matanya terbuka lebar dengan bibir yang menganga benar-benar menahan rasa sakit yang tiada terkira.
Dada yang semula terlihat naik turun pun seketika nampak tenang. Caviar benar-benar diam membatu setelah nyawanya benar-benar melayang di tangan mantan selingkuhannya sendiri yaitu, Lidya.
__ADS_1
Lidya yang mulai menyadari hal itu pun seketika menghentikan gerakan kakinya, dan menatap wajah Caviar yang kini bersimbah darah di bawah sana dan tidak lagi bernyawa.
Bruk ....
Seketika, dia pun menjatuhkan tubuhnya di atas lantai. Tangisnya pecah di hadapan mayat Caviar, tangis ketakutan, tangis lega dan tangis bahagia seolah menyatu menjadi satu membuatnya seketika tertawa terbahak-bahak di sela-sela tangisnya yang menggelegar memekikkan telinga.
"Hahaha ... Akhirnya kamu mati juga Caviar? Hiks hiks hiks ... Aku berharap kamu membusuk di neraka," teriaknya memekikkan telinga.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Bos, anda baik-baik saja?"
Suara ketukan di pintu diiringi dengan suara anak buah Caviar pun seketika menghentikan tawa seorang Lidya. Dia yang memang pandai dan licik seketika berpura-pura merintih kenik*atan lengkap dengan suara des*han, membuat anak buah Caviar segera pergi dari depan pintu.
"Akhh ... Mas ... Hmm ... Enak Mas, teruskan Mas ..."
Lidya benar-benar berpura-pura me*intih ken*kmatan.
❤️❤️
Milan masih berjalan mondar-mandir di stasiun televisi yang memang beroperasi selama 24 jam. Sudah lebih dari 2 jam dia berfikir tanpa bertindak apapun karena dia sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
Jika dia datang ke sana bersama suaminya, maka itu sama saja dengan dirinya mengantarkan nyawanya sendiri dan nyawa sang suami dan dia tidak mau bahkan tidak siap jika harus mati di usia muda.
Fajar yang juga berada di sana nampak melakukan hal yang sama. Dirinya yang baru saja merasakan ada getaran cinta kepada wanita bernama Lidya itu pun nampak menunjukkan ekspresi wajah geram sekaligus khawatir.
"Sampai kapan kita berdiam diri kayak gini, Nona Milan? Katakan dimana si brengsek itu tinggal? aku akan menyelamatkan Lidya ke sana sendiri," tegas Fajar dengan bola mata memerah menahan rasa amarah.
"Jangan, Fajar. Kalau kamu ke sana itu sama saja dengan kamu mengantarkan nyawa kamu sendiri," jawab Milan menoleh menatap wajah Fajar.
"Tidak ada cara lain lagi selain kita melaporkan hal ini kepada polisi," timpal Zergo yang juga merasa khawatir.
__ADS_1
"Percuma, polisi tidak akan menanggapi sebelum Lidya benar-benar hilang dalam waktu 24 jam."
"Tapi, apa kita akan membiarkan Lidya mati begitu saja di tangan si brengsek itu, hah? Aku baru saja menemukan cinta sejati aku. Kenapa harus terjadi hal yang seperti ini." Teriak Fajar benar-benar telah berada di ujung kesabaran.
Keheningan pun seketika tercipta, semua yang ada di sana nampak masih berpikir keras tentang apa yang akan mereka lakukan.
"Begini saja, kita coba lapor polisi dulu. Kalau polisi tidak menanggapi laporan kita, maka aku sendiri yang akan datang ke sana." Tegas Milan dengan nada suara yang berapi-api.
"Sayang? Kalau kamu ke sana, kamu bisa mati di tangan Caviar? Aku gak mau hal itu sampai terjadi, jika ada yang harus pergi maka, aku yang akan pergi, bukan kamu." Tegas Zergo penuh penekanan.
"Tapi, sayang?"
"Udah sekarang kita pulang dulu. Setelah mengantarkan kamu pulang ke rumah dengan selamat, aku dan Fajar akan ke kantor polisi untuk melaporkan hilangnya Lidya."
Milan menganggukkan kepalanya pasrah.
❤️❤️
Akhirnya, Milan pun sampai di depan kediamannya. Dia segera keluar dari dalam mobil dengan perasaan khawatir yang masih menyelimuti hati dan perasaannya.
"Sayang, aku antar kamu ke dalam dulu ya?" Ucap Zergo lembut yang juga hendak keluar dari dalam mobil.
"Gak usah, kamu langsung pergi ke kantor polisi saja," jawab Milan membuka pintu mobil.
Ceklek ....
Pintu mobil pun di buka dan Milan keluar dari dalamnya. Wajah Milan yang semula nampak muram dan masam pun seketika tersenyum senang saat melihat seorang wanita sedang berjongkok tepat di depan pintu pagar rumahnya.
"Lidya ...?" Gumam Milan dengan tangisan yang tiba-tiba pecah segera menghampiri wanita itu.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1