Balas Dendam Istri yang Terhina

Balas Dendam Istri yang Terhina
Beradaptasi


__ADS_3

Milan terkulai lemas di atas ranjang, ranjang berukuran kecil yang memang sudah ada di kamar suaminya di rumah sederhana yang berada di kampung halaman Zergo. Meski ranjang tersebut berukuran kecil dengan kasur tipis biasa akan tetapi, ranjang itu masih kuat menopang tubuh dua manusia yang baru saja menjalani ritual sebagai suami-istri selama sekali-kali sampai keduanya merasa lemas namun, begitu puas dengan apa yang baru saja mereka capai bersama.


Zergo nampak tersenyum bahagia meringkuk dengan kepala yang di topang oleh kepalan tangan menatap wajah Milannita yang saat ini terlihat begitu bahagia. Napas Zergo nampak masih tersengal-sengal, begitupun dengan Milan yang saat masih berusaha mengatur helaan napasnya yang saat ini berhembus tidak beraturan dengan dada yang terlihat naik turun.


"Kamu benar-benar luar biasa, sayang." Ucap Zeze tersenyum.


"Benar 'kan? Goyangan aku gak ada duanya dan aku juga sanggup melayani kamu meskipun kamu memintanya secara berkali-kali," jawab Milan menarik selimut lalu menutup tubuh polosnya.


"Hmm ... Aku benar-benar puas dan bahagia banget, sayang. Eu ... Sekali lagi, boleh?"


"Hah? Ikh, nanti lagi dong, sayang. Badan aku lelah banget ini."


"Ya udah iya-iya. Besok kita sambung lagi, ya."


"Nah, kalau besok aku siap. Sekarang kita tidur aja yu."


"Nggak mandi dulu? Tubuh kamu keringatan kayak gini. Apa kamu bisa tidur dengan tubuh lengket kayak gini?''


"Hmm ... Iya juga sih. Ya udah, kita mandi bareng ya, kamu gendong aku ke kamar mandi, kaki aku lemes banget kebanyakan goyang tadi." Rengek Milan dengan suara manjanya.


"Uhuk ... Dasar manja. Ya udah aku gendong ya."


Milan tersenyum senang seraya menganggukkan kepalanya.


Perlahan tapi pasti, Zergo pun mengangkat tubuh istrinya, membawanya kedalam gendongannya lalu mulai berjalan pelan ke arah kamar mandi.


Sungguh, sepasangan suami istri itu benar-benar merasakan begitu bahagia. Kebahagiaan yang selama ini mereka impikan, kebahagiaan yang selama ini mereka dambakan. Bagi Zergo, semua ini masih terasa mimpi, bagi Zergo, Milannita sang istri bagaikan anugrah terindah yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.


Betapa Zergo sangat mensyukuri semua kebahagiaan yang saat ini dia rasakan sebagai seorang suami dari wanita bernama Milannita.


♥️♥️


Satu bulan kemudian.


Rumah tangga yang dijalani dengan begitu bahagia oleh Milan dan Zergo bukan berarti tanpa kerikil kecil yang ikut mewarnai kebahagiaan yang mereka rasakan.


Milan yang notabenenya seorang artis dengan kehidupan mewahnya kini harus menyesuaikan diri hidup sederhana dengan segudang tugasnya sebagai ibu rumah tangga biasa.


Hal itu tentu saja membuat Milan merasa sedikit kesulitan untuk beradaptasi dengan suasana desa dan tugas barunya sebagai istri dari pemilik perkebunan buah.

__ADS_1


Seperti yang sedang terjadi saat ini, Milan nampak masih tertidur lelap meski matahari sudah berada di atas kepala. Tidur nyenyak'nya seolah tidak terusik sedikitpun dengan sinar matahari yang kini masuk melalui celah jendela begitu menyilaukan mata.


Mimpi indahnya bahkan tidak terganggu sedikitpun dengan Kokok ayam yang berbunyi begitu nyaringnya membangunkan siapapun yang sedang tertidur lelap tapi tidak dengan dirinya, Milan masih saja tertidur dengan begitu lelapnya sama sekali tidak terusik dengan semua itu.


Zergo yang baru saja pulang dari perkebunan nampak membuka pintu kamar dan masuk kedalamnya, dia menggelengkan kepala mendapati istrinya masih saja tidur lelap meski waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi hari.


"Astaga, Milan sayang. Udah siang gini masih saja tidur? Bangun, sayang. Antar aku ke pasar, katanya mau beli sayuran, katanya mau masak? Gimana sih?" Ucap Zergo duduk di tepi ranjang.


"Hmmm ... Huaaaa ..." Milan pun hanya bergumam lalu membuka mulutnya lebar-lebar dengan kedua tangan yang direntangkan panjang.


"Bangun, sayang. Milannita, ada banyak wartawan di luar."


"Hah ... Mana? Kenapa mereka bisa datang lagi ke sini?" Tanya Milan terkejut dan langsung membuka kedua matanya.


"Hahaha ... Kalau denger kata wartawan aja langsung bangun. Kenapa? Kamu kangen sama mereka semua?"


"Nggak, bukan gitu. Aku kira mereka beneran datang." Milan bangkit lalu duduk di atas ranjang.


"Nggak 'lah. Buat apa mereka datang kemari?"


"Hmm ... Sayang. Ke pasarnya nanti aja ya. Aku males dikerumuni para pedagang itu. Belum lagi nanti mereka minta poto, tanda tangan, terus waktu terakhir kita ke sana aku dicolek-colek, ikh ... 'kan risih," rengek Milan dengan suara manjanya.


"Ikh, kamu ini. Emangnya gak apa-apa tubuh istri kamu ini di colek-colek sama mereka semua?"


"Iya nanti aku bakal jagain kamu ko. Gak ada yang bakalan colek-colek kamu. Beneran deh."


"Tapi, kita ke sana naik mobil aku ya? Aku malas naik mobil kamu itu, panas."


"Nggak bisa, sayang. Aku 'kan bawa buah-buahan? Mau di simpen dimana buah-buahan yang aku bawa kalau kita ke sana naik mobil kamu yang mewah itu?" Jawab Zergo mengerutkan keningnya.


"Hmm ... Ya udah. Ini gak boleh, itu gak boleh. Ikh ... Jadi istri biasa ternyata susah juga," Milan mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa.


"Jangan gitu dong, sayang. Jadi istri biasa gak susah ko, kamu cukup turutin apa kata suami kamu ini, oke?''


"Iya-iya, aku mandi dulu bentaran. Kamu tungguin dulu sebentar ya."


"Oke, jangan lama-lama ya. Keburu siang nanti."


"Iya-iya, bawel ..." Jawab Milan tersenyum kesal.

__ADS_1


Satu jam kemudian.


"Sayang, lama banget si? Udah siang ini." Tanya Zergo mengetuk pintu kamar.


"Iya, sayang. Ini udah ko, tinggal di sepatu aja."


"Sepatu?" Zergo mengerutkan keningnya.


Ceklek ....


Pintu kamar pun di buka, Milan pun keluar dari dalam kamar dengan penampilan yang cetar membahana, membuatnya terlihat seperti artis yang hendak melakukan pemotretan.


"Astaga, Milan. Pakaian kamu ko kayak gini? Kita cuma mau ke pasar, bukan mau syuting." Tanya Zergo tersenyum lucu menatap tubuh istrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Milan yang dari awal memang sudah merasa kesal karena di paksa ikut ke pasar seketika meluapkan emosinya kepada suaminya itu.


"Sebenarnya mau kamu apa si, Ze? Aku tuh serba salah tau. Gini salah, gitu salah. Kasih aku waktu buat beradaptasi dengan kehidupan kamu di sini," teriak Milan lalu langsung masuk kembali ke dalam kamar seraya menutup pintu kasar.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Promosi Novel.


Judul : Cinta Terkahir dalam Hidupku


Karya : Riskejuli


Blurb.


Kelanjutan dari kisah Nadhira di "Apa salahku Pa"


Rifki adalah sosok yang ahli dalam dunia beladiri dan juga dunia gaib, dia pemimpin dari sebuah geng yang diberi nama Gengcobra, sementara Theo adalah sosok yang juga ahli dalam dunia beladiri dan dia menjabat sebagai pemimpin dari geng yang diberi nama Gengters


Kedua lelaki itu saling memperebutkan Nadhira agar menjadi pasangan mereka, lantas siapakah yang akan memenangkan hati Nadhira? Akankah terjadi perkelahian ketika anggota dua geng saling bertemu?


Ingin tau kelanjutannya? Yuk mampir dinovelku


Jangan lupa dukungannya ya


__ADS_1


__ADS_2