Balas Dendam Istri yang Terhina

Balas Dendam Istri yang Terhina
Datang Ke Villa


__ADS_3

"Nggak, sayang. Aku gak akan pernah izinin kamu buat datang ke sana? Kita lapor polisi aja ya?" Tegas Zergo tidak setuju dengan ide Milan yang ingin datang ke Villa.


"Kalau kita lapor polisi, Lydia keburu mati di tangan Caviar. Atau gini aja deh, aku ke sana kamu ke kantor polisi, aku yakin dia gak akan berani lukai aku. Gimana?"


"Sekali nggak tetep nggak. Darimana kamu tau kalau laki-laki bajingan itu gak akan lukai kamu?"


Milan meraih kedua tangan Zergo lalu menggenggam jemarinya erat, dia pun tersenyum manis menatap wajah Zergo yang saat ini terlihat begitu khawatir.


"Zeze, sayang. Aku udah nikah lebih dari lima tahun sama dia, dan meskipun kita masih dalam proses percerai aku yakin dia gak akan berani macam-macam sama aku, karena apa? Karena aku masih sah menjadi istrinya. Yang ada dia bakalan mohon-mohon sama aku untuk tidak meninggalkan dia, aku yakin itu." Lirih Milan mencoba menenangkan.


"Tapi, Milan ..." Rengek Zergo balas menggenggam jemari Milannita seraya menatap wajahnya penuh kasih sayang.


"Lagian, kamu bakalan datang ke sana juga nanti. Aku akan mengulur waktu sampai kamu datang bersama polisi, oke?"


Zergo pun segera memeluk tubuh Milan seraya mengusap punggungnya lembut lalu mengecup pucuk kepalanya penuh kasih sayang.


"Aku sayang sama kamu, Milan. Aku mohon berjanjilah kalau kamu akan baik-baik aja dan tunggu sampai aku datang." Lirih Zergo mendekap erat tubuh Milannita, wanita yang sangat dicintainya saat ini.


"Aku janji akan jaga diri baik-baik. Setelah aku menyelesaikan urusanku sama si Caviar itu, mari kita buka lembaran baru. Bawa aku ke kampung halaman kamu, aku ingin coba menjalani hidup aku sebagai orang biasa bukan sebagai artis lagi," jawab Milan balas mendekap erat tubuh kekar Zergo.


"Iya, sayang." Jawab Zergo lembut dan penuh kasih sayang.


♥️♥️


Milan dan Zergo berpisah di depan rumah. Keduanya nampak mengendarai mobil yang berbeda dengan tujuan yang berbeda pula. Milan, dia hendak menuju Villa tempat dimana Lydia di sekap sementara Zergo, dia menuju kantor polisi dengan perasaan khawatir.


Di perjalanan, Milan terlebih dahulu menghubungi Caviar untuk memberitahukan dia bahwa dirinya akan segera datang ke sana. Meski hatinya penuh kecemasan tapi, dia memantapkan dirinya untuk datang ke sana, demi apa? Demi rasa kemanusiaannya setelah mendengar bahwa Lydia di sekap sana.


Setelah menempuh perjalanan jauh selama satu jam lebih akhirnya, mobil yang dikendarai oleh Milan sampai juga di Villa. Dia pun segera melipir dan memarkirkan mobil di halaman dan melihat Caviar sudah menanti dirinya di depan Villa tersebut.


Ceklek ....

__ADS_1


Milan pun membuka pintu mobil dan mulai keluar dari dalam mobil dengan perasaan berdebar sebenarnya. Jantungnya berdetak tidak beraturan dengan tubuh yang gemetar.


'Tuhan, lindungilah aku. Aku serahkan hidup dan mati ku padamu,' (batin Milan)


"Milannita sayangku. Aku yakin kamu pasti akan datang ke sini buat nemuin aku. Gimana kabar kamu, sayang?" Caviar menyambut kedatangan Milan dengan ramah dan langsung memeluk tubuh wanita yang telah menggugat cerai dirinya itu.


"Lepaskan aku, gak perlu berlebihan kayak gini." Pinta Milan mencoba mengurai pelukan.


"Hmm ... Baiklah, aku tau kalau kamu masih sedikit kesal sama aku."


"Hmm ....''


"Baiklah, mari kita masuk, sayang. Aku udah siapin anggur merah kesukaan kamu," pinta Caviar menggandeng tangan Milan masih dengan tersenyum ramah.


Di dalam Villa, Milan nampak menatap sekeliling mencari keberadaan gudang dimana Lydia di sekap saat ini. Dia menyisir setiap sudut Villa yang memang jarang dia kunjungi itu membuatnya tidak tahu persis letak gudang tersebut.


"Sayang, kenapa kamu malah bengong kayak gitu?"


"Kamu selalu sibuk, sayang. Mana mungkin kamu ada waktu buat datang ke sini. Itu juga yang menyebabkan aku selingkuh tapi, aku benar-benar menyesal dan minta maaf yang sebesar-besarnya sama kamu, sayang." Ucap Caviar lirih dan lembut tapi terdengar begitu menyebalkan di telinga Milan.


"Udah gak usah bahas itu lagi."


"Sayang. Aku benar-benar minta maaf, aku harap kamu mau tarik gugatan perceraian kita di pengadilan, aku mohon." Lirih Caviar mengiba duduk di lantai tepat di depan Milan.


"Maaf."


"Sayang ...?''


"Aku tau bukan hanya kamu yang salah tapi, aku juga layak di salahkan karena terlalu berambisi dalam mengejar karir sehingga melupakan tugasku sebagai seorang istri."


"Aku ngerti, sayang. Ngerti banget, berada di puncak popularitas adalah satu hal yang sangat ingin kamu capai dan sebagai seorang suami, aku gak pernah melarang ataupun mencegah kamu, hanya saja sebagai seorang suami juga aku butuh perhatian, butuh kasih sayang yang tidak aku dapatkan dari kamu selama ini, itu sebabnya aku--" lirih Caviar tidak meneruskan ucapannya.

__ADS_1


"Itu sebabnya kamu selingkuh? Selama dua tahun lamanya?"


"Maafkan aku. Aku benar-benar menyesal."


"Penyesalan kamu gak ada gunanya dan terlambat juga, Caviar. Nasi udah jadi bubur, dan gugatan cerai udah masuk ke pengadilan. Satu lagi, hati aku udah benar-benar tertutup buat kamu.'' Jawab Milan penuh penekanan.


"Oke ... Kalau kamu udah buat keputusan kayak gitu aku gak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Anggap aja malam ini adalah malam terakhir kita sebelum kita benar-benar berpisah,'' ucap Caviar bangkit lalu berjalan menuju meja yang sudah terdapat segelas anggur merah lalu meraihnya.


Entah mengapa, Milan merasa ada yang aneh dengan sikap Caviar. Kenapa dia bisa bersikap biasa saja seolah menerima dengan lapang dada keputusan yang sudah dia buat, benar-benar diluar dugaan.


'Ada yang aneh, kenapa dia bisa nerima gitu aja? Apa ada yang lagi dia rencanakan? Zeze, aku mohon cepatlah datang.' (batin Milan.)


"Nah, kamu pasti cape setelah melakukan perjalanan panjang, kita minum dulu ya. Anggap aja ini minuman terakhir yang aku suguhkan buat kamu," pinta Caviar menyerahkan gelas kaca yang telah terisi penuh dengan anggur kepada Milan.


"Mas, kamu gak campur minuman ini dengan apapun 'kan?" Tanya Milan terus-terang.


"Sama seperti yang kamu lakukan waktu itu padaku?"


"Maksud kamu?"


"Kamu pikir aku bodoh, Milan. Aku tau kalau malam itu kamu campur anggur yang aku minum dengan obat tidur."


"Mas ...?"


"Kenapa? Terkejut?"


Milan diam menunduk mulai merasa tidak enak.


"Tapi tenang aja, sayang. Aku gak mencampur anggur ini dengan apapun jadi, sekarang kamu minum anggur ini." Caviar meletakan gelas kaca tersebut di dalam genggaman Milan.


"Kenapa diam aja? Ayo minum?" Caviar terus mendesak membuat Milan mau tidak mau mulai meneguk gelas anggur tersebut.

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2