
Caviar membopong tubuh Milannita di atas bahu kekarnya. Dia mengabaikan peringatan Milan bahkan tidak menghiraukan teriakan dan makian yang keluar dari bibir Milannita. Caviar hanya tertawa lepas layaknya pemburu yang berhasil mendapatkan buruannya. Suara tawa laki-laki itu bahkan sampai terdengar ke gudang dimana Lydia berada.
"Caviar brengsek, lepasin aku. Psikopat ..." Teriak Milan mencoba melepas diri.
"Hahaha ... Aku gak akan pernah melepaskan kamu, sayang. Sampai mati pun kamu harus mati sebagai istri Tuan Caviar," jawab Caviar semakin mempererat dekapan tangannya di pinggang Milan.
"Kurang ajar kamu, Caviar. LEPASIIIIIN ..." teriak Milan tidak menyerah dan menggerakkan tubuhnya sedemikan rupa.
Caviar pun naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Malam ini dia ingin bermain puas bersama istri yang sangat dicintainya itu dan Caviar tidak akan pernah melepaskan Milannita selamanya, dia berniat akan menyekap Milan di sana sampai wanita itu menyerah dan mencabut gugatan cerai mereka di pengadilan.
Ceklek ....
Pintu kamar pun di buka lalu ditendang keras oleh Caviar, dia masuk ke dalam kamar dan segera melempar kasar tubuh Milannita ke atas ranjang.
"Aku gak akan pernah melepaskan kamu, sayangku. Kamu itu tambang emasnya aku. Aku ingin kamu melayani aku malam ini. Apa kamu tau betapa aku merindukan goyangan maut'mu di atas ranjang? Apa kamu tau betapa aku merindukan tubuh kamu yang sek*i dan aduhai ini, hahaha ..." Ucap Caviar, tertawa menyeringai dan terlihat begitu menakutkan di mata Milan.
"Cuih ... Aku gak Sudi melayani kamu, brengsek. Kamu psikopat gila, aku gak tau kalau ternyata aku punya suami gila kaya kamu," jawab Milan bangkit lalu duduk di atas ranjang.
"Dulu aku gak kayak gini. Dulu aku adalah suami baik hati yang begitu mencintai kamu tapi, semenjak hidup dan karir aku sebagai pengusaha hancur, aku jadi gila sekarang. Lebih tepatnya aku tergila-gila sama kamu, sayangku."
Caviar naik ke atas ranjang mencoba mendekap tubuh Milan namun, kaki Milan menendang kuat perut Caviar sehingga laki-laki itu tersungkur ke atas lantai.
Bruk ....
Caviar jatuh dari atas ranjang tapi, dia segera bangkit lalu memasang wajah geram menatap Milan dengan tatapan tajam penuh rasa amarah, kemudian ....
Plak ....
Dia menampar keras pipi Milan membuat wanita itu berteriak histeris memegang pipi sebelah kanannya yang terasa panas membara kini.
__ADS_1
"Argh ... Kurang ajar kamu, Caviar. Aku benci sama kamu, menyingkir kamu dari hadapanku, hiks hiks hiks ..." Teriak Milan diiringi dengan suara tangisan.
"Menyingkir? Hahaha ... Aku gak akan pernah menyingkir sebelum kamu melayani aku malam ini. Denger ya istriku, sayang. Semakin kamu berontak maka, aku akan semakin berbuat kasar jadi, lebih baik kamu diam dan ikuti keinginan aku."
"Cuih ... Aku gak Sudi brengsek," jawab Milan meludahi wajah Caviar.
Apa yang dilakukan oleh Milan sukses menyulut api amarah yang ada di dalam jiwa Caviar, dia kembali melayangkan tamparan keras di pipi sebelah kiri Milan membuat darah segar pun seketika mengalir dari sudut bibir Milan lengkap dengan pipi yang membengkak dan juga membiru.
Tidak hanya itu saja, Caviar bahkan hendak membuka secara paksa pakaian yang saat ini dikenakan oleh Milan dengan bertenaga membuat Milannita seketika menangis histeris mencoba memberontak sedemikan rupa.
"Haaaa ... Jangan berani menyentuh aku bajingan, aku gak Sudi melayani kamu, hiks hiks hiks ..." Teriak Milan diiringi suara tangisan yang menggelegar.
Tubuh Milan pun hampir polos kini, dengan sekejap mata tangan kekar Caviar melucuti satu persatu pakaian yang melingkar di tubuh Milan dengan tersenyum menyeringai dan has*at yang menggebu kini di dalam jiwa seorang Caviar.
Baru saja Caviar hendak melucuti kain terakhir yang masih melingkar dan menutupi bagian inti tubuh Milan, tiba-tiba saja pintu kamar tersebut di tendang kuat membuat Caviar terkejut seketika membulatkan bola matanya.
BRUUUK ... (Suara pintu yang ditendang)
Buk ....
Brak ....
Plak ....
Zergo menghajar habis-habisan wajah Caviar tiada ampun, membuat laki-laki itu tidak bisa berkutik lagi karena serangan yang dilayangkan secara tiba-tiba membuatnya tidak sempat menghindar ataupun menepis kepalan tangan Zergo.
Pemuda bernama Zergo itu bahkan tidak memberikan celah sedikitpun untuk caviar membalas setiap pukulannya. Hatinya yang sudah benar-benar terbakar api emosi yang kini terasa panas membakar jiwanya pun membuatnya gelap mata dan hampir saja membunuh Caviar jika saja Milan tidak menghentikan dirinya.
"Cukup, Zeze. Cukup, aku baik-baik aja. Hiks hiks hiks ...'' Milan memeluk Zergo dari arah belakang mencoba menghentikan.
__ADS_1
"Lepasin aku, Milan. Laki-laki bejad kayak dia lebih baik mati dan membusuk di neraka." Jawab Zergo dengan napas yang tersengal-sengal dan tatapan mata menatap tajam tubuh Caviar yang kini bersimbah di atas lantai.
"Kalau dia mati kamu bakalan masuk penjara. Lalu gimana sama aku kalau kamu sampai mendekam di balik jeruji besi? Aku gak mau pisah dari kamu, Ze. Hiks hiks hiks ...."
Mendengar hal itu, membuat Zergo akhirnya menghentikan gerakan tangannya. Dia pun memutar badan dan memeluk tubuh Milan yang saat ini dalam keadaan setengah polos dengan perasaan hancur dan penuh penyesalan karena terlambat datang ke sana.
"Maafkan aku, Milan. Maaf karena aku datang terlambat, hiks hiks hiks ...'' tangis Zergo pun pecah seketika tidak kuasa menahan kesedihan.
Milan hanya menganggukkan kepalanya dengan tangis pilu yang kini pecah didalam dekapan laki-laki yang sangat dia cintai saat ini.
"Kamu baik-baik aja 'kan? Laki-laki brengsek ini gak ngapa-ngapain kamu 'kan?"
Milan menggelangkan kepalanya.
Zergo pun mengurai pelukan lalu membuka jaket kulit berwarna hitam yang dipakainya dan memakainya di tubuh Milan, setelah itu dia mengusap kedua sisi pipi wanita itu dengan tatapan nanar dan penuh rasa iba.
"Astaga, Mil. Apa yang dia lakukan sama kamu? Wajah kamu kenapa jadi kayak gini? Kurang ajar," Zergo berbalik dan hendak kembali menghantam Caviar namun, dia segera menghentikan gerakannya saat polisi yang datang bersamanya masuk ke dalam kamar kini.
"Tuan Caviar, anda di tangkap atas tuduhan penyekapan dan penculikan saudara Lydia dan tindakan penganiayaan terhadap Nona Milannita. Anda harus ikut bersama kami ke kantor polisi sekarang juga," ucap Polisi tersebut langsung memborgol kedua tangan Caviar.
Caviar yang saat ini sudah tidak berdaya pun hanya bisa pasrah ketika kedua tangannya di borgol. Tatapan matanya nampak kosong menunduk lesu seolah meratapi hidupnya yang saat ini sudah benar-benar hancur berantakan.
Milan dan Zergo menatap dengan tatapan penuh kebencian saat laki-laki itu melintas tepat di depan keduanya.
"Akhirnya ...'' lirih Milan, lalu sedetik kemudian ....
Bruuk ....
Tiba-tiba saja, tubuh Milannita ambruk dan tidak sadarkan di dalam dekapan Zergo.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️