
"Aku ingin kamu segera menemukan Lidya. Aku gak ingin dia jadi bumerang buat aku suatu hari nanti," tegas Caviar penuh penekanan.
"Baik, Tuan. Saya akan terbang ke sana besok." Jawab Mark dengan wajah datar seperti biasanya.
"Kenapa harus nunggu besok. Aku minta kamu terbang ke sana sekarang juga."
"Baik, Tuan. Sekarang juga saya akan terbang ke sana, saya permisi," Mark hendak melangkah.
"Tunggu sebentar, Mark." Pinta Caviar, bangkit lalu berjalan ke arah meja yang berada di dekat kolam renang.
Dia pun meraih sebuah dompet tebal miliknya, menarik kartu lalu memberikannya kepada orang kepercayaannya itu.
"Ini, pakai sesukamu untuk bekal kamu di sana. Nomor PINnya kamu sendiri juga tau.''
"Terima kasih, Tuan. Saya berangkat sekarang juga." Mark hendak kembali melangkah.
"Tunggu," pinta Caviar lagi dan seketika Mark pun kembali menghentikan langkah kakinya masih dengan wajah datar.
"Sebelum kamu berangkat, pesankan 100 buket bunga bertuliskan 'AKU MEMAAFKAN KAMU, SAYANG.' Lalu, minta kurirnya untuk kirim ke alamat rumah mantan istriku besok pagi."
"Baik, Tuan. Saya permisi."
Caviar menganggukkan kepalanya dengan tersenyum datar. Setelah itu, dia pun berjalan ke arah kolam dan menghampiri para wanita yang sedari tadi memang sudah berada di sana. Ada lebih dari lima wanita dengan berpakaian bik*ni yang sengaja dia panggil untuk menemaninya malam ini.
♥️♥️
Pagi hari dikediaman Milan.
"Haaaaaaa ... APA-APAAN INIIIII ...?" teriak Milan saat dia membuka pintu pagar rumahnya.
Milan nampak terkejut bukan kepalang, tepat di depan pagar telah terdapat buket bunga berukuran raksasa dengan tulisan 'AKU MEMAAFKAN KAMU, SAYANG.' Yang dikirimkan oleh mantan suaminya.
__ADS_1
Tidak hanya satu, ada lebih dari 100 buah buket dengan tulisan yang sama berjejer rapi memenuhi pagar bahkan sampai memanjang di sepanjang trotoar tepat di depan rumahnya.
"Brengsek, emangnya rumahku ini rumah duka apa, di kirimin bunga bangkai kayak gini, cuih ... Dasar psikopat gila," gerutu Milan menjatuhkan salah satu buket lalu menginjaknya secara berkali-kali sampai bunga tersebut hancur berantakan.
"Sayang, ada apa sih? Kenapa teriak-teriak segala. Astaga ..." Tanya Zergo sang suami, dia pun kaget bukan kepalang melihat pemandangan yang tidak menyenangkan.
"Lihat, si brengsek itu semakin menjadi-jadi. Emangnya di sini ada yang udah mati apa, pake dikirim bunga kayak gini. Dasar gila," gerutu Milan merasa murka.
"Ini semua dari mantan suami kamu?"
"Tentu saja. Siapa lagi yang berani ngelakuin hal gila kayak gini selain dia, heuuuhh ..." Geram Milan mengepalkan kedua tangannya.
"Astaga, benar-benar udah gila tuh orang. Mau kita apakan semua bunga ini?"
"Kita buang 'lah, masa di bawa masuk."
"Iya tapi, buang kemana?"
"Jangan dong, sayang. Nanti jadi sampah laut kalau kita buang ke laut sembarangan."
"Ya udah, hubungin Dinas Persampahan. Suruh mereka bawa semua sampah ini. Ngotorin aja si."
"Dinas kebersihan, sayang." Celetuk Zeze tersenyum geli, melihat istrinya marah-marah seperti itu membuat wajahnya terlihat begitu menggemaskannya.
"Iya, cepat telpon mereka itu Dinas Persampahan atau apalah namanya, lupa." Gerutunya lagi menjatuhkan satu-persatu buket bunga tersebut hingga berjatuhan dan memenuhi trotoar jalan.
"Cukup, sayang. Kita masuk yu, mungkin dia sengaja kirim ini biar kamu kesal." Ucap Zergo meletakan kedua tangannya di bahu istrinya lalu memapahnya masuk ke dalam halaman.
"Kita telpon mereka sekarang ya, biar sampah-sampah ini bisa langsung di bersihkan."
Milan menganggukkan kepalanya seraya mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa merasa kesal.
__ADS_1
♥️♥️
Setelah di buat kesal dengan ulah Caviar, Milan pun mencoba membenahi perasaannya dengan berolahraga yoga. Meski hari sudah siang dan matahari bersinar dengan begitu teriknya, hal itu sama sekali tidak mengurungkannya untuk melakukan olah raga yang satu itu.
Selain demi menjaga kebugaran tubuhnya, hal itupun dia lakukan agar otaknya merasa tenang dan rasa kesal yang dia dapatkan perlahan mulai menghilang. Milan nampak duduk di lantai beralaskan bantalan tipis dengan menyilang'kan kedua kaki seraya memejamkan kedua mata dan tangan yang disimpan diantara kedua lututnya.
Hening dan sepi, Milan mencoba berkonsentrasi dan mengosongkan pikirannya. Membawa relung kalbunya ke dalam kedamaian dan menetralkan otak serta perasaannya.
Pelan tapi pasti, jiwa Milan pun perlahan mulai tenang. Perasaannya pun sedikit demi sedikit terasa damai, pikiran negatif, perasaan gundah dan gulana pun seketika menghilang.
Sesaat, dirinya pun larut dalam kedamaian yang kini terasa menenangkan sampai akhirnya, sebuah kegaduhan besar yang terdengar begitu nyaring dan tentu saja membuyarkan pikirannya, bahkan kedamaian dan ketenangan yang sudah dia dapatkan perlahan kembali berlarian.
"Sialan, ada apaan sih?" Teriak Milan kesal berdiri lalu berjalan di halaman.
Ternyata, di luar sana. Tepat di depan pintu pagar rumahnya sudah ramai dengan para wartawan dari berbagai media cetak maupun elektronik. Mereka semua berteriak memanggil nama Milan bahkan secara berkali-kali mengetuk pintu pagar kasar.
"Astaga ... Sedang apa mereka semua di sana?" Gerutu Milan menghentikan langkah kakinya.
Zergo yang juga mendengar kegaduhan itu pun nampak segera menghampiri Milan yang kini hanya diam mematung dengan perasaan kesal.
"Ada apa? Siapa mereka?" Tanya Zergo berdiri tepat di belakang istrinya.
"Aku juga gak tau. Tapi, kayaknya itu para wartawan yang sengaja datang kemari setelah mendengar pernyataan Caviar kemarin."
"O ya? Eu ... Apa yang akan kita lakukan sekarang?"
Milan terdiam sejenak. Dia pun menundukkan kepalanya seraya berfikir keras. Apa? Gimana? Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya? Pikiran-pikiran itu memenuhi otaknya kini. Penat, lelah dan juga kesal, itulah yang dirasakan oleh Milannita saat ini. Sampai akhirnya, dia pun mengangkat kepalanya dan menatap wajah suaminya dengan tatapan tajam.
"Zeze ... Temani aku menemui mereka. Mungkin ini waktu yang tepat untuk menyangkal semua tuduhan si brengsek itu." Tegas Milan penuh penekanan.
Zergo tersenyum penuh keyakinan, dia mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh jemari lentik istrinya lengkap dengan senyuman. Setelah itu, mereka berdua pun berjalan ke arah pagar dan seketika pintu pagar pun di buka lebar.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️