
"Maaf, anda siapa ya?" Tanya Lidya mengerutkan keningnya karena dia sama sekali tidak mengenali laki-laki yang saat ini berdiri tepat di depan pintu kediamannya.
Laki-laki tersebut hanya tersenyum menyeringai dengan tatapan yang sulit dimengerti oleh Lidya. Dia pun memundurkan langkah kakinya dengan perasaan yang takut yang tiba-tiba saja memenuhi hati dan juga jiwanya.
Blug ....
Lidya hendak menutup pintu keras namun, dengan segera tangan kekar Mark menahan pintu hingga tubuh Lidya sedikit terhempas ke atas lantai.
"Siapa kamu?" Teriak Lidya dengan tubuh yang gemetar dan mencoba untuk berdiri.
"Tuan nitip salah buat kamu, Nona?" Jawab Mark dengan tersenyum menyeringai menatap tubuh Lidya dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Tuan? Maksudnya, Tuan Caviar? Buat apa dia mengirim kamu ke sini?"
"Untuk melenyapkan kamu, Nona. Hahaha ..."
"Apa salah aku sama dia? Bukankah aku udah mengasingkan diri ke sini? Aku juga gak pernah mengusik dia lagi? Tunggu ... Bukannya dia juga masih di dalam penjara?" Tanya Lidya berjalan menjauh dan memasang tubuh waspada.
"Anda pintar, Nona. Apa perlu saya menjawab semua pertanyaan anda?"
Lidya semakin gemetar ketakutan, dia pun hendak berteriak minta tolong namun, dengan kecepatan kilat telapak tangan Mark segera membungkam mulut Lidya seraya menarik tubuh wanita itu masuk ke dalam kamar.
Bruk ....
Tubuh Lidya pun di banting keras ke dalam kamar membuatnya seketika meringis kesakitan.
"Argh ... Mau apa kamu, brengsek?" Teriak Lidya memekikkan telinga.
"Tuan menyuruh aku melenyapkan anda, tapi sayang kalau tubuh molek anda ini di sia-siakan begitu aja, Nona. Sebelum saya menghabisi anda, lebih saya cicipi dulu kemolekan tubuh anda ini, hahaha ..."
Lidya pun semakin gemetar, tubuh pria itu semakin mendekat dengan tatapan m*sum layaknya singa lapar yang hendak menerkam mangsanya. Lidya berjalan mundur dengan mata yang menatap sekeliling mencari sesuatu yang akan dia gunakan sebagai senjata untuk melawan laki-laki itu.
"Kemarilah Nona Lidya, bukankah dulu kamu sering melakukanya bersama Tuan Caviar? Anggap aja aku ini adalah dia."
"Cuih ... Najis, aku gak sudi melakukan hal itu sama kamu." Teriak Lidya menatap bagian tengah tubuh Mark lalu tersenyum menyeringai.
Mark pun menjulurkan lidahnya lalu hendak menerkam Lidya lalu tiba-tiba saja ....
__ADS_1
Bruk ....
Lidya menendang keras bagian inti tubuh laki-laki bertubuh tinggi dan berwajah sangar itu dengan segenap kekuatan yang dia miliki dan hal itu sukses membuat Mark berteriak dan terpingkal-pingkal kesakitan hingga tersungkur di atas lantai lalu bergulir merasakan kesakitan yang termat dalam di bagian senjata pusaka'nya.
"Argh ... Brengsek ... Senjatakuuuuu ..." Teriak Mark membulatkan bola mata seraya memegangi pusaka miliknya lalu berguling di atas lantai.
Lidya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia segera berlari keluar dari dalam kamar namun, tangan Mark masih sempat meraih pergelangan kakinya sehingga tubuhnya pun ambruk.
"Mau pergi ke mana kamu, wanita jala*g?'' Teriak Mark seraya meringis kesakitan.
"Lepasin aku brengsek gila ..."
Bruk ....
Lidya kembali menendang kepala laki-laki itu dan akhirnya, dia pun bisa terlepas dari cengkraman tangan Mark lalu segera berlari keluar dari dalam rumahnya dengan tergesa-gesa, diiringi suara tangisan yang sudah tidak bisa lagi dia tahan.
"Ya Tuhan lindungilah aku," gumam Lidya berdoa dengan sepenuh hati.
Dia pun berlari menyusuri jalan raya yang sama sekali sepi dari pengendara, tidak ada satupun kendaraan yang bisa dia hentikan untuk dimintai pertolongan. Kepala Lidya sesekali menoleh ke arah belakang merasakan ketakutan yang teramat dalam bahwa laki-laki itu akan mengejar dirinya kembali.
Dugaannya benar juga, suara Mark terdengar menggema memanggil namanya layaknya singa mengamuk yang baru saja kehilangan mangsa empuknya.
Lidya pun semakin mempercepat langkah kakinya dengan tubuh yang gemetar dan air mata yang tiada henti berjatuhan membasahi pipinya tirusnya.
"Aku mohon selamatkan aku, Tuhan ..." Gumamnya lagi di sela-sela langkah kakinya.
Sepertinya doa Lidya dikabulkan, dari kejauhan terlihat mobil yang sedang melaju kencang ke arahnya, dia pun melambaikan tangan dan berharap bahwa, mobil itu akan berhenti dan menolong dirinya.
Ckiiit ....
Mobil pun berhenti tepat di depan Lidya.
"Saya mohon tolong saya," ucap Lidya tanpa sadar menggunakan bahasa Indonesia.
"Silahkan masuk, Nona." Jawab sang supir membukakan pintu mobil.
Lidya pun segera masuk ke dalam mobil diiringi suara tangis yang terdengar pilu.
__ADS_1
Mobil pun seketika langsung melaju kencang di jalanan diiringi teriakan kesal dari laki-laki bernama Mark yang melihat kepergian buruannya.
"KURANG AJAAAAAAR ..." teriak laki-laki seorang orang yang kesetanan.
♥️♥️
"Anda baik-baik aja, Nona?" Tanya supir menoleh ke arah Lidya yang terlihat pucat pasi serta tubuh yang bergetar.
"Lho, anda dari Indonesia?" Tanya Lidya merasa senang karena akhirnya bertemu dengan sesama warga Indonesia serasa bertemu dengan saudara sendiri.
"Iya, dan saya juga mengenal Nona lho."
"Hah? Saya?" Tanya Lidya merasa heran karena dirinya sama sekali tidak mengenal laki-laki muda itu.
"Saya di utus sama Nona Milannita untuk menjemput anda, Nona. Apa tadi anda lagi di kejar seseorang?"
"MILANNITA?"
Fajar menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
Tiba-tiba saja Lidya menangis sesenggukan, dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya merasa terharu dan tidak menyangkan bahwa dirinya akan dua kali di selamatkan oleh orang yang sempat dia khianati dulu.
Entah ini sebuah kebetulan atau bukan tapi, Lidya benar-benar tidak menyangka sekaligus bersyukur bahwa nyawanya masih bisa diselamatkan, dan orang yang menyelamatkan dirinya adalah utusan Milannita.
"Terima kasih, Milan. Terima kasih ... Kamu udah nyelamatin aku dua kali, terima kasih hiks hiks hiks ..." Ucap Lidya penuh rasa syukur.
"Nyelamatin? Maksudnya Nona benar-benar lagi dikejar penjahat?" Fajar mengerutkan keningnya merasa tidak mengerti.
"Iya, orang suruhan Caviar datar ke sini buat nyingkirin aku, hiks hiks hiks ..."
"Serius? Astaga ...."
Bruk ....
Tiba-tiba saja mobil miliknya di tabrak dari arah belakang membuat Fajar dan juga Lidya seketika terkejut dan menoleh ke arah belakang.
"Dia mengejar kita, bagaimana ini," Lidya berteriak panik sementara Fajar segera menginjak kuat pedal gas dan mobil pun semakin melaju kencang di jalanan kota Sydney Australia.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️