
Tok ... Tok ... Tok ....
"Milan, sayang. Istriku," Zergo mengetuk pintu kamar dimana Milan mengunci diri di dalam sana.
Apa dirinya terlalu keras terhadap istrinya itu? Apa dia terlalu memaksakan kehendaknya kepada istrinya hingga membuat Milan merasa tertekan? Ya ... Dirinya memang mengaku salah dalam memperlakukan Milannita yang masih belum terbiasa dengan kehidupan desa juga sebagai seorang istri biasa.
Sebagai seorang istri yang biasa menjalani kehidupan penuh dengan kemewahan dan juga tidak pernah dipusingkan oleh setumpuk tugas sebagai ibu rumah tangga membuat Milan benar-benar tertekan. Dan Zergo akhirnya menyadari hal itu, ada rasa sesal yang kini terselip di dalam hati Zergo yang paling dalam.
Seharusnya, dia lebih bisa bersabar dalam menghadapi istrinya. Seharusnya dia bisa lebih mengayomi istrinya dan tidak terlalu memaksakan kehendaknya kepada istrinya itu.
"Sayang, buka pintunya. Aku minta maaf, Mil." Ucap Zergo diiringi suara ketukan pintu namun, dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari dalam sana.
Sunyi dan sepi, Zergo bahkan tidak bisa mendengar suara sang istri yang selalu terdengar nyaring setiap kali mereka berbicara.
"Ya udah, gak apa-apa kalau kamu gak mau ikut ke pasar. Kamu istirahat aja ya. Aku pergi dulu," ucapnya lagi ingin memberi waktu kepada sang istri untuk sendiri.
Sementara itu, di dalam kamar. Milan nampak berbaring dengan memeluk bantal guling, matanya terlihat memerah dengan buliran air mata yang terus saja berjatuhan. Dia pun mengabaikan suara sang suami yang terus saja memanggil namanya di luar sana. Ternyata tidak mudah untuk dirinya menjalani kehidupan sebagai orang biasa dan istri biasa dari laki-laki biasa juga.
"Kamu jahat, Ze." Gumam Milan diiringi dengan air mata yang ini mengalir dengan begitu derasnya.
"Seharusnya kamu tahu bahwa tidak mudah untuk aku bisa menyesuaikan diri tinggal di sini, aku butuh waktu untuk benar-benar membiasakan diri, Ze,'' gumamnya lagi.
Milan pun semakin merekatkan lingkaran tangannya dalam memeluk bantal guling usang'nya dengan mata yang mulai terpejam mencoba berfikir sekaligus membenahi perasaannya yang saat ini sedikit terluka.
__ADS_1
♥️♥️
Lima jam kemudian.
Zergo pun kembali dari pasar. Wajahnya terlihat begitu kelelahan setelah seharian bekerja di perkebunan sekaligus mengantarkan buah-buahan yang dipanennya ke pasar. Bahkan untuk memuaskan pelanggannya, dia pun sampai mengantarkan buah yang masih segar-segar itu ke setiap toko membuat tubuhnya semakin merasa kelelahan.
Zergo berjalan pelan menyusuri gang menuju rumahnya dengan perasaan tidak sabar ingin segera bertemu dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh kepada Milan yang saat ini sedang marah kepada dirinya.
Langkahnya terlihat lebar dengan kaki yang berbalut sandal jepit biasa dan tubuh penuh dengan keringat. Lembayung senja pun mengiringi langkah kakinya ditemani suara kicauan burung yang terdengar saling bersahutan.
'Mudah-mudahan kamu udah gak marah lagi sama aku, Milan.' (batin Zergo)
Akhirnya, dia pun hampir sampai di rumahnya, senyuman Zergo nampak mengembang sempurna tatkala melihat pintu rumah yang kini dalam keadaan terbuka membuatnya merasa tidak sabar ingin segera masuk ke dalam sana dan memeluk istrinya tercinta.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Nah, ni orangnya datang," ucap Milan berdiri menyambut sang suami, Milan mengulurkan tangannya dan menyalami suaminya, sesuatu yang sedang dia biasakan setiap harinya setelah suaminya itu pulang bekerja.
"Abang Ken?" Sapa Zergo menatap wajah Laki-laki yang saat ini berdiri menyambut kedatangannya.
"Astaga Zergo, kamu sudah besar sekarang. Abang benar-benar pangling liat kamu," sapa laki-laki yang dipanggil dengan sebutan Abang tersebut menghampiri lalu memeluk tubuh Zergo dengan tersenyum senang.
"Abang kapan datang? Ya Tuhan, lama sekali kita baru ketemu lagi," jawab Zergo tersenyum senang karena akhirnya bisa bertemu lagi dengan sepupunya yang sudah lama tidak dia temui.
__ADS_1
"Hmm ... Kamu udah nikah ya? Kenapa gak undang Abang, hah? Istri kamu seorang artis lagi, Abang benar-benar iri sama kamu, Zer." Abang mengurai pelukan lalu menatap wajah Milan dengan senyuman menggoda.
"Akh, Abang bisa aja. Aku gak nikah di sini, kami menikah di kota dan karena dia artis, kami nikah juga secara diam-diam, tau sendiri gimana kehidupan seorang artis, ke sana-sini diikuti wartawan," jawab Zergo yang juga melirik wajah istrinya dengan tersenyum.
Sebenarnya, Milan sama sekali tidak nyaman dengan tatapan yang dilayangkan oleh sepupu dari suami ini. Tatapan pria tersebut terlihat begitu menggoda membuatnya seketika memalingkan wajahnya saat pria bernama Ken itu menelisik tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Anehnya, Zergo malah bersikap biasa saja saat tubuh istrinya di tatap seperti itu oleh laki-laki lain, meskipun laki-laki itu adalah sepupunya sendiri.
"Sayang, kamu pasti lelah. Aku siapin air hangat ya buat kamu mandi," tawar Milan berjalan ke belakang menuju dapur.
"Makasih, sayang." Jawab Zergo sedikit menaikan suaranya.
Kemudian, Zergo pun duduk bersama Ken sepupunya yang memang memiliki usia yang sama dengan dirinya.
"Zer, sebenarnya aku datang ke sini buat minta bantuan sama kamu. Boleh?" Ucap Ken.
"Boleh, katakan aja. Aku akan berusaha membantu selagi aku mampu."
"Usaha aku bangkrut, aku kehilangan semua harta bahkan rumah aku pun di sita oleh bank. Oleh karena itu, aku minta tolong buat tinggal di sini untuk sementara sampai aku benar-benar menemukan pekerjaan baru dan rumah baru juga." Ucap Ken dengan tatapan mata mengiba.
'Dia, mau tinggal di sini? Astaga, rumah ini kecil kami tinggal berdua aja udah sesak, ditambah satu orang lain si ken ini,' (batin Milan mendengarkan dari balik pintu)
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1
Promosi Novel karya Author Santi suki. Jangan lupa mampir ya Reader, sehat selalu buat kalian semua.