
Malam ini, pemuda bernama Fajar benar-benar dimanjakan oleh Lidya, dirinya di buat melayang ke angkasa lepas, sesuatu yang baru pertama kali dia rasakan. Kenik*atan demi kenik*atan pun diberikan oleh Lidya sebagai hadiah terakhirnya sebelum dia benar-benar menyerahkan diri ke kantor polisi besok.
Lidya yang memang lebih berpengalaman pun nampak mengeluarkan keahliannya dalam memuaskan laki-laki membuat Fajar berkali-kali memuntahkan bisanya ke dalam sana.
Des*han demi desah*n terdengar begitu lirih saling bersautan memecah keheningan malam. Tidak lupa, peluh dan keringat membasahi raga polos keduanya yang sedang berkutat di atas ranjang memburu puncak kenik*atan surga dunia.
"Akhhh ... Sayang. Aku mau keluar lagi," de*ah fajar, raganya benar-benar dikuasai oleh wanita bernama Lidya dan dia tidak bisa berbuat apapun selain menerima dengan suka rela, dan tentunya dengan senang hati gelombang kenikm*tan yang disuguhkan secara berkali-kali.
"Keluarkan, sayang. Aku pun sama, mari kita lepaskan bersama-sama," jawab Lidya memejamkan mata saat puncak pelepasan itu hampir dia dapatkan juga.
Tidak lama kemudian keduanya pun men*erang panjang dengan tubuh yang ge*etar benar-benar mendapatkan puncak secara sempurna dan secara bersamaan.
Lidya yang memang bermain di atas sana pun seketika terkulai lemas tepat di atas raga Fajar dengan dada yang terlihat naik turun, serta helaan napas yang berhembus tidak beraturan.
"Kamu luar biasa, sayang." Lirih Fajar menundukkan kepalanya menatap wajah Lidya yang kini menyadarkan kepala di dada bidangnya dengan raga yang benar-benar menyatu, begitupun dengan keringat yang membanjiri tubuh keduanya kini.
"Apa ini juga pertama kalinya kamu melakukan hal ini?" Tanya Lidya mengangkat kepalanya.
"Iya, hehehe ... Aku gak tau kalau rasanya akan se*ikmat ini.''
"Berarti kamu beneran masih per*aka dong?''
"Tentu saja, kamu wanita beruntung yang mendapatkan keperj*kaan aku, sayang.''
"Waaah ... Pantas saja rasanya berbeda, lebih gimana gitu," jawab jawab Lidya menggoyangkan pinggull*nya yang masih menyatu di bawah sana.
"Akhh ... Lidya, cukup. Linu, astaga ...'' Rengek'nya memejamkan mata sempurna seraya meringis merasa linu.
"Hahaha ... Iya-iya, aku turun aja deh. Kita sambung besok--" Lidya tidak meneruskan ucapannya.
"Lebih baik kamu istirahat sekarang, Lidya."
__ADS_1
"Nggak, aku gak mau tidur, aku ingin begadang semalaman. Kamu ingat malam ini malam terakhir kita?"
Fajar seketika menundukkan kepalanya merasa sedih, sangat sedih. Kenapa di saat dirinya menemukan cinta sejatinya, wanita yang dia cintai harus terkena kasus dan mereka harus berpisah?
Kenapa di saat Lidya benar-benar telah berubah dan bertaubat, dia harus di hadapkan dalam masalah yang memaksanya untuk menghabisi nyawa seseorang?
Akh ... Entahlah, dada Fajar seketika merasa sesak mengingat perjalanan cintanya yang harus berakhir begitu mengenaskan.
'Tidak, ini bukan akhir dari perjalanan cintaku. Sebelum aku menghembuskan napas terakhir, aku akan menunggu dirimu selesai menjalani hukuman di dalam penjara.' (batin Fajar.)
Cup ....
Fajar tiba-tiba saja mengecup mesra kening Lidya membuat Lidya seketika tersenyum merasa bahagia.
"Gimana kalau kita begadang sampai pagi?" Usul Fajar yang langsung di jawab dengan anggukan lengkap dengan senyuman yang mengembang dari kedua sisi bibir Lidya.
Fajar pun mendekap erat tubuh wanita yang sangat dia cintai itu seraya memejamkan mata, menahan rasa pedih di hatinya. Hal yang sama pun dilakukan oleh Lidya, dia melingkarkan tangannya di tubuh polos pemuda bernama Fajar itu erat seolah tidak ingin dipisahkan, sama-sama merasakan kepedihan yang begitu mendalam.
"Hmmm ... Kalau kita menikah, kamu mau punya berapa anak?" Tanya Fajar dengan buliran air mata yang sebenarnya memenuhi kelopak matanya kini.
"Dua? Sedikit amat? Aku malah maunya 5 atau 6 anak sekaligus.''
"Usia aku udah gak muda lagi nanti, setelah aku selesai menjalani hukuman, kemungkinan usia aku udah sekitar kepala 4 atau malah kepala 5. Usia segitu udah gak baik buat wanita mengandung anak banyak-banyak."
"Iya juga sih, hmm .... Gimana kalau kita adopsi beberapa anak-anak terlantar yang udah gak punya orang tua? Kita rawat mereka dan besarkan mereka seperti anak kita sendiri. Gimana?''
"Boleh juga. Ide kamu benar-benar luar biasa." Jawab Lidya tersenyum senang menyembunyikan rasa gundah di hatinya sebenarnya.
'Terima masih, Fajar. Hanya dengan membayangkan'nya saja, hatiku benar-benar bahagia,' (batin Lidya.)
'Semoga kita bisa benar-benar bersatu, Lidya. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar keluar tidak peduli meskipun usia kamu sudah tidak muda lagi nantinya,' (batin Fajar.)
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, niat keduanya untuk begadang semalam pun terkalahkan oleh rasa kantuk yang benar-benar telah menguasai tubuh masing-masing, hingga akhirnya mereka pun terlelap seketika dengan tubuh yang saling berpelukan dan tentu saja, masih dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun.
♥️♥️
Tok ... Tok ... Tok ....
"Lidya, Fajar. Apa kalian udah bangun?" Teriak Milan di luar sana diiringi dengan suara ketukan.
Suara ketukan di pintu itu pun seketika membangunkan Lidya dan Fajar yang sedang tertidur lelap masih dengan posisi yang sama.
"Bangun, sayang. Udah siang." Panik Fajar tidak menyangka bahwa akhirnya dia akan ketiduran juga.
"Hah? Ko udah siang aja? Bukannya semalam kita begadang ya?'' Tanya Lidya bangkit lalu meraih satu-persatu pakaiannya yang berserakan di atas lantai.
"Kita ketiduran semalam," jawab Fajar melakukan hal yang sama.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Lidya ...! Apa kamu belum bangun?" Teriak Milan lagi di luar sana.
"Iya, Mil. Aku udah bangun ko."
Ceklek ....
Milan pun membuka pintu kamar setelah memastikan bahwa Lidya dan Fajar sudah benar-benar bangun.
"Ada apa, Mil? Masih ngantuk ini." Tanya Lidya menguap seraya merentangkan kedua tangannya lebar.
"Itu, anu Lidya. Ada--" Milan tidak kuasa meneruskan ucapannya.
"Itu anu apa, Milannita? Kalau ngomong yang jelas dong."
__ADS_1
"Ada polisi di luar, Lidya." Ucap Milan dengan nada suara berat sebenarnya, membuat Lidya dan juga Fajar pun terkejut seketika.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️