
Bruuuk ....
Tiba-tiba saja mobil yang dikendarai oleh Lidya dan juga fajar di tabrak dari arah belakang membaut Lidya seketika terkejut dan menoleh ke arah belakang. Mobil pun sempat oleng tapi, dengan sigap Fajar segera menyeimbangkan mobil yang dikendarainya dan mobil pun kembali stabil.
"Dia ngejar kita, gimana ini?" Ucap Lidya panik.
Fajar pun tidak mengatakan apapun lagi, dia segera tancap gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Kejar-kejaran pun terjadi di jalan Hereward Highway di pinggiran Sydney Blacktown Australia, tanpa di sangka Fajar memiliki keahlian dalam berkendara membuatnya bisa dengan cepat menjauh dari mobil Mark yang tadi menabrak bagian belakang mobilnya.
Lidya yang merasa ketakutan berpegangan kuat di kursi jok mobil yang didudukinya, wajahnya terlihat pucat pasi sesekali menoleh ke arah belakang. Fajar pun tersenyum menyeringai semakin mempercepat laju mobil miliknya dengan mata yang sesekali menatap kaca spion luar.
"Fajaaar ... Hati-hati," terbaik Lidya saat tubuhnya ikut terguncang.
"Tenang aja, Nona Lidya. Biar gini-gini saya ini seorang pembalap juga lho,'' ucap Fajar mencoba untuk menenangkan.
"HAAAAAA ..." Mobil pun terus saja melaju dengan kecepatan semakin tinggi.
Akan tetapi, sepertinya lawan mereka bukanlah orang sembarangan karena dengan cepat mobil yang dikendarai oleh Mark pun bisa menyusul mereka. Kejar-kejaran pun kembali terjadi. Mark bahkan berkali-kali menabrak bagian belakang mobil Fajar hingga hampir saja terjungkal.
"Gak ada cara lain," ucap Fajar, tiba-tiba saja menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan membuat Lidya seketika terkejut.
"Mau apa kamu, Fajar?"
"Dia gak akan berhenti sebelum dia benar-benar kalah." Jawab Fajar lalu hendak turun namun, di tahan oleh Lidya.
"Jangan nekat kamu, kalau kita mati di sini gimana?" Cegah Lidya mencengkram erat pergelangan tangan Fajar mencoba menahan.
"Apa bedanya? Kalau kita gak lawan dia pun, kita bakalan mati kecelakaan. Kamu gak liat dia terus aja nabrak kita tadi?"
"Tapi, Fajar--" Lidya tidak meneruskan ucapannya karena pemuda itu langsung membuka pintu.
Ceklek ....
Pintu mobil pun di buka.
"Nona jangan keluar, diam di sini dan jangan kemana-mana, oke?" Pinta Fajar semua di menutup pintu mobil.
Blug ....
__ADS_1
Pintu mobil pun kembali di tutup, fajar merentangkan kedua tangannya dan menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan melakukan pemanasan sebelum dia melawan laki-laki yang ternyata bertubuh besar dan tinggi itu.
"Astaga, kenapa tubuh dia gede banget? Tau gitu, gak usah turun tadi," gerutu Fajar saat Mark mulai turun dari dalam mobil melakukan pemanasan sama seperti yang dilakukan oleh dirinya.
"Aku gak ada urusan sama kamu, brengsek. Serahkan aja wanita yang tadi bersamamu itu maka nyawamu akan aku ampuni," teriak Mark suara bas'nya yang menggelegar membuat Lidya merasa merinding.
"Hahaha ... Ambil aja sendiri kalau berani.''
'Ya Tuhan lindungilah hamba mu ini. Nona Milan, doakan agar aku bisa menang melawan bajingan ini,' (Batin Fajar)
"Oke, itu sama saja dengan kamu menyerahkan nyawamu sendiri," teriak Mark lagi lalu berjalan menghampiri dan siap untuk menyerang.
Duel satu lawan satu pun terjadi. Di pinggir jalan kota Sydney.
Buk ....
Fajar hendak memukul wajah Mark namun, berhasil di tepis oleh laki-laki itu dengan begitu mudahnya dan Mark pun segera memukul perutnya keras membuat Fajar terpingkal-pingkal merasa nyeri di bagian ulu hatinya.
Bruk ....
"Arghh ... Emak ... Sakit, Mak." Teriak Fajar berjongkok seraya memegangi perutnya.
Fajar pun mencoba bangkit dan berdiri meskipun perutnya masih terasa sakit. Dia menatap wajah laki-laki bertubuh besar itu dengan tatapan kesal dan sedikit takut juga sebenarnya.
Buk ....
Plak ....
Tanpa di duga, Fajar menghantam tubuh Mark secara berkali-kali hingga laki-laki itu meringis dan tidak sempat untuk menepis setiap serangan yang dilayangkan oleh fajar. Terakhir, Fajar pun menendang perut Mark hingga dia terpental jauh di atas aspal.
Bruk ....
"Argh ..." Teriak Mark saat tubuhnya menyentuh aspal panas.
"Hahaha ... Mampuuuuus ...'' teriak Fajar tertawa penuh kemenangan.
Dia pun berbalik dan hendak kembali ke dalam mobil dan mengira bahwa lawannya telah benar-benar tumbang namun, ternyata dugaannya salah laki-laki itu bukanlah lawan yang mudah untuk di kalahkan.
Mark pun langsung berdiri tegak sesaat setelah dirinya tersungkur, rasa sakit yang dia terima sepertinya hanya lewat saja di tubuhnya. Dia pun menatap punggung Fajar dengan tatapan tajam dan bola mata yang membulat sempurna seolah hendak melompat dari tempatnya, wajahnya pun terlihat kesal.
__ADS_1
"BRENGSEK, MAU PERGI KEMANA KAMU?" Teriak Mark memekikkan telinga membuat Fajar seketika terkejut dan menoleh dengan perasaan takut.
"Ya Tuhan, itu orang apa robot? Ko masih bisa bangun dia?'' gumam Fajar memutar badan.
Mark pun berlari dan langsung menghantamkan pukulan secara berkali-kali hingga Fajar pun seketika tersungkur ke atas aspal.
Bruk ....
Plak ....
Fajar di terpental tepat di samping mobil miliknya, membuat Lidya terkejut dan segera membuka pintu mobil.
"Fajar, ayo masuk mendingan kita segera pergi dari sini,'' Lidya berteriak histeris.
Fajar pun masih mencoba untuk bangkit, namun tubuhnya segera di raih oleh Mark dan diangkat dengan menyandarkan punggungnya di mobil tepat di depan Lidya.
"HAAAAA ...'' teriak Lidya, tubuh fajar benar-benar diangkat tinggi dengan cara di cekik.
Fajar pun hampir saja kehabisan napasnya, dia memejamkan mata saat pandangan mulai terlihat kabur. Tiba-tiba saja Lidya teringat saat kakinya menendang kuat bagian inti tubuh pria itu dan dia pun berfikir bahwa jika pusaka milik Mark ditendang sekali lagi pasti laki-laki itu akan sangat kesakitan bahkan bisa saja dia pingsan.
Dia saat Lidya larut dalam pikirannya, Fajar yang berada di luar sana benar-benar sudah hampir kehabisan napas, matanya nampak membulat sempurna menahan rasa sesak di dadanya.
"Aku harus melakukannya, ya aku pasti bisa sebelum pria gila itu benar-benar membunuh Fajar," gumam Lidya menyemangati diri sendiri sebelum dia memberanikan diri untuk membuka pintu mobil.
Ceklek ....
Lidya pun membuka pintu mobil yang berlawanan arah dengan pemuda bernama Fajar yang sudah hampir saja kehabisan napasnya. Dia pun segera berlari dan berdiri tepat di belakang Mark dan sedetik kemudian ....
Bruuuuuk ....
Lutut Lidya benar-benar menghantam bagian ************ Mark tepat mengenai pusaka miliknya membuat Mark seketika langsung melepaskan cengkraman tangannya di leher Fajar.
Bruk ....
Fajar pun jatuh ke atas aspal. Sementara Mark, dia pun berjongkok dengan memegangi senjata pusaka miliknya lalu berguling di atas aspal.
"Argh ... Dasar ja*ang gila," teriak Mark memekik kesakitan.
Lidya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, kaki jenjangnya segera menginjak pusaka laki-laki itu hingga berkali-kali kuat dan bertenaga, dia pun tersenyum penuh kemenangan saat melihat Mark menjerit secara berkali-kali karena pusaka kebanggaan miliknya terasa nyeri bukan kepalang.
__ADS_1
Bruk ... Akhirnya, laki-laki itu pun tidak sadarkan diri karena tidak kuasa menahan rasa sakit di bagian pusaka miliknya.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️