
Akhirnya, Milan dan Zergo memutuskan untuk benar-benar kembali ke kota. Zergo bahkan menjual perkebunan miliknya untuk menunjukkan betapa dia serius dengan keputusannya menuruti keinginan sang istri serta keseriusannya dalam menjalani rumah tangganya bersama Milannita, wanita yang sangat dia cintai.
Akan tetapi, dia tidak menjual rumah peninggalan kedua orang tuanya, bagi Zergo rumah itu adalah satu-satunya peninggalan mendiang kedua orang tuanya yang akan slalu dia rawat dan jaga meski dirinya tidak tinggal lagi di rumah itu.
Hari ini, mereka berdua baru saja sampai di rumah Milan di ibu kota. Keduanya nampak membuka pintu pagar rumah yang tinggi menjulang, rumah mewah dan megah kepunyaan Milannita.
Cekrek ....
Pintu pagar pun di buka. Milan mulai menapaki halaman luas dengan rerumputan hijau membentang yang sudah meninggi karena ditinggalkan selama beberapa bulan oleh sang pemilik rumah.
"I'm come back my home ...!" Teriak Milan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar seraya menatap sekeliling.
Zergo yang saat ini berdiri tepat di belakang istrinya pun hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang terlihat sangat bahagia.
"Apa kamu senang?" Tanya Zergo melingkarkan tangannya di bahu Milan.
"Tentu saja. Akhirnya aku bisa kembali ke sini. Rumah mewahku, rumah kebanggaan aku," jawab Milan tersenyum menoleh ke arah suaminya.
"Oke, kita masuk."
Milan menganggukkan kepalanya, berjalan dengan senyum yang mengembang begitu lebarnya dengan mata yang menatap sekeliling.
"Ikh ... Rumputnya udah tinggi banget."
"Tenang, nanti saya rapihin."
"Catnya juga udah usang."
"Tenang, nanti saya cat ulang sampe mengkilap."
"Lantainya juga kotor banget si." Ujar Milan lagi mengernyitkan keningnya.
"Kamu tenang aja, nanti saya pel juga lantainya." Jawab Zergo berjalan di belakang istrinya dengan menarik koper berukuran super besar.
"Zeze?" Milan menghentikan langkah kakinya lalu menoleh ke arah suaminya.
"Zergo, suamiku. Zeze sayangku, emangnya kamu tukang kebun yang tugasnya motongin rumput?"
Zergo menggelangkan kepalanya.
"Emangnya kamu tukang bangunan, yang tugasnya ngecat rumah sampe mengkilap kayak yang kamu katakan tadi?"
Zergo kembali menggelengkan kepalanya seraya menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
__ADS_1
"Satu lagi, emangnya kamu pembantu yang tugasnya bersih-bersih, ngepel, nyapu, cuci piring dan lain sebagainya?"
"Iya-iya, sayang. Saya bukan pembantu juga," jawab Zergo mencubit kecil kedua pipi cabi istrinya.
"Nah itu, paham. Kamu itu suami aku, suaminya Milannita si cantik se*si artis ibu kota, hmm ... Meskipun, sekarang udah pensiun jadi artis sih, hehehe ...!" Ucap Milan penuh percaya diri menatap wajah suaminya dengan tatapan mesuum menggoda.
"Iya, sayang. Saya suami kamu."
"Tugas kamu cuma satu?"
"Apa?"
"Gendong aku ke dalam, kaki aku pegel banget, sayang." Rengek Milan dengan suara manjanya.
"Astaga, saya kira tugas apaan. Kalau itu sih dengan sepenuh hati, saya suamimu bakalan gendong tubuh se*si kamu ini. Kamu tinggal milih, mau di gendong sampai dalam atau sampai ke kamar sekalian?" Jawab Zergo tersenyum genit menatap wajah istrinya.
"Hmm ... Langsung sampai kamar aja gimana? Sekalian anu?"
"Anu apa?"
"Ikh, Zeze ..." Rengek Milan mengerucutkan bibirnya.
"Iya-iya ... Kalau urusan anu serahkan sama saya, saya ahlinya dalam anumenganu ...."
Pelan tapi pasti, Zergo pun mulai meraih tubuh langsing istri manjanya, membawa ke dalam dekapannya lalu mulai berjalan masuk ke dalam rumah.
Ceklek ....
Pintu rumah pun dibuka, Zergo dengan setengah berlari masuk ke dalam rumah lalu dan langsung membawa tubuh istrinya ke dalam kamar yang berada di lantai dasar.
❤️❤️
Caviar merentangkan kedua tangannya saat dirinya mulai keluar dari dalam gebang Lapas yang sudah dia huni selama lebih dari 6 bulan lamanya. Matanya pun nampak menatap sekeliling mencari seseorang lalu tersenyum senang saat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan tubuhnya.
Ckiiiiit ....
Suara mobil yang berhenti.
Ceklek ....
Seseorang pun keluar dari dalam mobil, berpakaian rapi dengan perawakan tinggi dan gagah berjalan menghampiri Caviar dengan wajah datar, dan segera membungkuk memberi hormat.
"Selamat pagi, Tuan. Selamat atas kebebasan anda," ucap pria tersebut dengan wajah datar.
__ADS_1
"Mark ... Orang kepercayaan aku. Gimana kabar kamu? Kamu udah bekerja sangat keras hingga aku bisa keluar dari dalam neraka ini," jawab Caviar menepuk pundak laki-laki bernama Mark yang merupakan orang kepercayaan dirinya.
"Saya senang melakukannya, Tuan. Kebebasan Tuan adalah hal yang paling saya inginkan," jawab Mark masih dengan wajah datar.
Datar dan sangar, seperti itulah gambaran wajah laki-laki bernama Mark tersebut. Tubuhnya yang tinggi besar juga memiliki kulit sawo matang membuatnya terlihat seperti preman.
Ceklek ...
"Silahkan masuk, Tuan. Saya akan mengantar anda pulang," pinta Mark membuka pintu mobil untuk Tuannya.
"Terima kasih, aku juga ingin segera pergi dari sini," jawab Caviar segera masuk ke dalam mobil.
Blug ....
Pintu mobil pun kembali di tutup dan Mark segera masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk menyetir. Perlahan, mobil pun mulai melaju pelan meninggalkan area parkiran lalu mulai melesat kencang di jalanan.
"Tuan mau pulang ke rumah yang mana?" Tanya Mark menatap wajah Caviar dari kaca spion yang berada di dalam mobil.
"Bawa aku ke Villa di puncak, aku ingin beristirahat di sana."
"Baik, Tuan."
"Apa kamu ngedenger kabar tentang mantan istriku." Tanya Caviar menatap ke arah luar jendela seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil.
"Iya, Tuan. Nyonya Milan baru saja kembali ke kota bersama suami barunya."
"O ya? Memangnya selama ini dia tinggal di mana?"
"Dia sempat ikut bersama suaminya tinggal di desa, tapi baru-baru ini mereka berdua kembali ke sini.''
Caviar terdiam sejenak, pikirannya pun melayang ke masa lalu saat dia masih bersama Milan istrinya. Sesaat, dia pun merindukan sosok manja Milannita, juga merindukan kebuasan dan keliaran wanitanya itu di atas ranjang.
"Tuan?" Panggil Mark membuyarkan lamunannya seketika.
"Apa mereka terlihat bahagia?"
"Begitulah yang saya lihat, Tuan."
Caviar pun mengepalkan kedua tangannya, tiba-tiba saja, rasa panas menjalar terasa membakar seluruh organ di dalam tubuhnya.
"Kurang ajar kalian. Aku gak akan pernah membiarkan kamu bahagia bersama laki-laki lain. Kalau aku gak bisa memiliki kamu maka, siapapun gak boleh memiliki kamu, Milannita." Gumam Caviar merasa geram.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1