Balas Dendam Istri yang Terhina

Balas Dendam Istri yang Terhina
Menyerahkan diri


__ADS_3

Bruk ....


Milan seketika terduduk di tepi ranjang. Tubuhnya terasa lemas mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Lidya, hatinya benar-benar berkecamuk kini. Entah dia harus merasa senang atau sedih mendengar kabar itu, dia sendiri masih menelaah rasa di dalam hatinya.


Caviar, mantan suaminya mati? Laki-laki yang pernah dia cinta pada masanya dan berakhir di khianati dan meninggalkan luka serta dendam yang mendalam di hatinya. Apakah ini akhir dari balas dendamnya? Balas dendam dari seorang istri yang terhina karena telah dikhianati sedemikan rupa.


Tanpa terasa, air matanya pun berjatuhan membasahi wajah cantik seorang Milannita. Antara rasa lega, sedih dan sesak di dada seolah melebur menjadi satu kini.


"Aku telah membunuh mantan suami kamu, Milan. Aku seorang pembunuh sekarang. Hahahaha ..." Teriak Lidya diiringi suara tawa renyah namun, berakhir dengan suara tangisan yang menggelegar.


Sepertinya Lidya pun merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh sahabatnya, rasa dihatinya sama-sama berkecamuk persis seperti rasa yang ada di dalam hati seorang Milannita.


Suara tawa dan tangisan yang terdengar secara bersamaan itu pun seketika membuyarkan lamunan Milan. Dia pun mengusap wajahnya kasar lalu menatap wajah Lidya tajam seraya mencengkeram kedua bahunya kuat.


"Kamu bercanda 'kan? Kamu gak benar-benar membunuh Caviar 'kan? Jawab Lidya, jawab?'' teriak Milan dengan mata yang memerah mengguncangkan tubuh Lidya.


"Maafkan aku, Milan. Aku benar-benar udah ngebunuh dia, Caviar si brengsek itu udah mati sekarang, dendam kamu udah terbalaskan dan kamu gak akan pernah diganggu lagi sama dia, hahaha ..." Jawab Lidya, matanya memerah dipenuhi air mata tapi, mulutnya mengeluarkan suara tawa yang terdengar menggelegar memekikkan telinga.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Milan? Aku pasti masuk penjara 'kan? Aku akan di hukum mati, atau setidaknya di hukum seumur hidup karena telah membunuh, hiks hiks hiks ..." Tanya Lidya lagi diiringi suara tangis yang terdengar pilu.


Milan pun segera memeluk tubuh sahabatnya itu, dia mendekap tubuh Lidya erat seraya mengusap punggungnya mencoba untuk menenangkan ditengah hatinya yang juga berkecamuk sebenarnya.

__ADS_1


"Nggak Lidya, kamu gak bakalan di hukum seumur hidup, apalagi di sampai di hukum mati. Aku yakin kamu melakukan hal itu karena terpaksa untuk melindungi diri, asalkan kamu menyerahkan diri maka hukuman kamu akan lebih ringan,'' lirih Milan lembut dan penuh perasaan.


"Nona, Lidya. Kamu gak usah nyerahin diri ke kantor polisi, aku yang akan menggantikan kamu masuk penjara. Aku akan bilang sama polisi bahwa aku yang telah membunuh si bajingan itu," tegas Fajar secara tiba-tiba membuat Lydia dan juga Milan seketika mengurai pelukan lalu menatap wajah laki-laki itu.


Zergo yang juga berada di sana pun nampak membulatkan bola matanya menatap wajah Fajar dengan tatapan tajam.


"Gila kamu, Fajar. Saya tau kamu cinta sama Lidya. Tapi, kamu gak perlu sampai melakukan hal sejauh ini. Kamu pikir polisi itu bodoh, hah? Mereka gak akan menemukan setidaknya sidik jari kamu di sana, yang ada bukti-bukti yang mengarah jelas kepada Lidya akan membuat kamu juga masuk penjara. Tapi, bukan atas tuduhan pembunuhan melainkan penipuan. Kalian berdua akan sama-sama masuk penjara nanti," tegas Zergo penuh penekanan.


"Tunggu! Kamu bilang apa tadi? Cinta? Fajar, kamu cinta sama aku?" Tanya Lidya menatap tajam wajah pemuda yang memiliki usia lebih muda darinya itu.


"Iya, aku cinta sama kamu, Lidya. Kamu pernah meminta aku untuk jangan pernah mencintai kamu karena kamu adalah wanita yang pernah menjadi simpanan om-om nakal? Aku gak peduli, bahkan meskipun sekarang kamu udah jadi pembunuh pun tidak akan mengurangi rasa cinta aku sama kamu. Aku rela menggantikan hukuman kamu, Lidya,'' jelas Fajar dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


"Hahaha ... Kamu pasti bercanda 'kan? Kamu cuma kasian sama aku karena hidup aku terlihat sangat mengenaskan. Aku tidak percaya kalau di dunia ini masih ada laki-laki yang cinta sama wanita kayak aku.''


Lidya pun seketika segera memeluk tubuh Fajar begitu saja di depan Milan dan juga Zergo, diiringi dengan suara tangis yang semakin terdengar pilu.


"Terima kasih karena kamu udah Sudi mencintai wanita hina kayak aku. Terima kasih karena kamu udah benar-benar meyakinkan aku bahwa rasa cinta itu tulus dan aku pun dapat merasakan ketulusan kamu itu. Tapi--''


Lidya tidak meneruskan ucapannya.


"Tapi kenapa Lidya?"

__ADS_1


"Aku gak pantas dicintai setulus itu sama pemuda baik kayak kamu. Kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, Fajar." Lirih Lidya mengurai pelukan lalu menunduk sedih.


"Hey, kata siapa kamu gak pantas untuk dicintai? Setiap wanita berhak dicintai, setiap manusia pernah melakukan salah dan berhak bertaubat dan berubah. Aku yakin kamu udah berubah, Lidya. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah, menyerahkan diri kepada polisi agar hukuman kamu tidak terlalu berat dan aku akan menunggu sampai kamu keluar dari dalam penjara." Lirih Fajar penuh keyakinan menatap lembut wajah wanita yang dicintainya kini.


Milan dan juga suaminya pun akhirnya memilih untuk keluar dari dalam kamar agar mereka berdua bisa lebih leluasa meluapkan rasa cinta yang kini terlihat menggebu namun, terhalang oleh keadaan yang memang tidak memungkinkan untuk keduanya bersatu.


"Kalian bicarakan ini berdua, aku lelah sekali. Aku mau istirahat dulu," lembut Milan mulai keluar dari dalam kamar dan langsung diikuti oleh suaminya dari arah belakang.


Sepeninggal mereka berdua, Lidya masih saja menunduk sedih, sementara Fajar, dia masih tidak menyerah dalam meyakinkan wanita itu bahwa cintanya benar-benar tulus, sangat tulus.


"Fajar ..."


"Iya, sayang. Kamu menginginkan sesuatu? Bilang saja, akan aku ambilkan buat kamu."


"Aku haus sekali, badanku juga lengket. Bisakah kamu pergi ambilkan segelas susu hangat sementara aku mandi dulu?"


"Tentu saja. Aku akan bikinin kamu segelas susu hangat dan kamu bisa membersihkan diri kamu dulu."


Lidya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum kecil.


30 menit kemudian, Fajar pun kembali dengan membawa segelas susu hangat dan Lidya pun sudah berganti pakaian. Dia terlihat duduk di tepi ranjang dengan rambut basah dengan wajah yang sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2