
Bukannya melepaskan pelukan, Caviar kini semakin mendekap erat tubuh Milan membuat wanita itu merasa sesak dan mencoba melepaskan diri dan berontak bahkan memukul dada suaminya keras dengan air mata yang seketika berjatuhan membasahi wajah cantiknya.
"Lepaskan aku, Mas. Aku bukanlah berlian yang paling berharga, aku juga buka mutiara yang tak ternilai harganya seperti yang kamu katakan tadi, aku hanya seorang istri hina yang telah kamu injak-injak harga dirinya, aku benci sama kamu, Mas." Jawab Milan penuh penekanan.
"Apa maksud kamu, sayang? Kapan aku nginjak-nginjak harga diri kamu?" Caviar sedikit mengurangi pelukan.
"Lepasin dulu. LEPASIN AKU CAVIAR KLAN,'' Milan berteriak seraya terus berontak.
"Nggak, aku gak akan pernah lepasin kamu, sayang. Kamu milikku, sayang. Gak akan ada bisa merebut kamu dari aku, dan juga siapa bilang kamu istri yang terhina? Bukankah selama ini aku selalu memperlakukan kamu layaknya seorang ratu? " Tanya Caviar penuh penekanan.
Milan dengan semua kekuatan yang dia miliki, masih mencoba melepaskan diri dari lingkaran tangan suaminya yang terasa semakin kuat dan bertenaga benar-benar tidak ingin melepaskan sedikitpun.
"LEPASIN AKU, CAVIAR?" Teriak Milan lagi tidak menyerah.
"Kamu jahat, hiks hiks hiks ... Lepasin aku," rengek Milan semakin merasa sesak dengan tangis yang semakin terdengar nyaring karena dekapan sang suami terasa meremukkan tubuhnya.
Mendengar teriakan istrinya yang terdengar begitu nyaring, akhirnya, Caviar Klan pun melepaskan lingkaran tangannya, dan seketika itu juga ....
Plak ....
Milan menampar keras pipi suaminya, menatap wajahnya dengan mata yang berapi-api penuh dengan rasa dendam, bola mata Milan pun nampak memerah dengan buliran air mata yang mengalir begitu derasnya.
Caviar pun membulatkan bola matanya, memegangi sisi kanan pipinya yang terasa nyeri sekaligus memerah kini.
"Apa yang kamu lakukan, hah? Berani kamu menampar suamimu?" Teriak Caviar hendak balas menampar.
"Tampar aku, Mas. Tampar, aku sama sekali gak takut sama kamu, kalau kamu mau ceraikan aku, aku akan terima dengan senang hati, tapi kamu harus ingat, Caviar. Kalau kamu ceraikan aku, aku bakalan cabut semua Investasi aku di perusahaan kamu, dan aku juga akan mundur jadi brand ambassador perusahaan kamu itu, dan aku yakin, dalam sekejap mata, perusahaan besar yang kamu banggakan itu bakalan hancr tak bersisa, MAU ...?" Teriak Milan, tanpa rasa takut dengan mata yang menatap tajam wajah suaminya.
"Kenapa kamu diam aja, KENAPA? KAMU TAKUT? TAKUT ... MAS?" Teriaknya lagi setelah tidak mendapatkan jawaban apapun dari istrinya.
"MILANNITA ... SAMPAI KAPANPUN AKU GAK AKAN PERNAH MELEPASKAN KAMU, KAMU AKAN MENJADI ISTRI CAVIAR KLAN SEUMUR HIDUP KAMU, SAYANG," Caviar balas berteriak dan menurunkan telapak tangannya dengan di hentakan merasa kesal bukan kepalang.
Buliran air mata semakin deras berjatuhan dari pelupuk mata seorang Milannita, ada rasa sesak yang kini menghimpit dadanya membuatnya tubuhnya terasa lemas seketika.
__ADS_1
Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya itu membuat Milan akhirnya berfikir bahwa, tidak ada gunanya dia balas dendam jika akhirnya dia akan menjadi istri tawanan Caviar dan akan menderita di seumur hidupnya.
Tiba-tiba saja, Caviar menarik napas panjang lalu menghembuskan'nya secara perlahan, dia pun mengusap wajahnya kasar seolah sedang mengatur napas dan mengendalikan emosi yang kini mengendalikan jiwanya.
"Milan, istriku, maafkan aku, sayang. Aku khilaf," lirih Caviar lembut meletakkan kedua tangannya di pundak istrinya.
"Gak ada gunanya minta maaf, Mas."
"Aku benar-benar gak sengaja melakukan itu, aku benar-benar dibutakan api cemburu."
"Sejak kapan kamu punya rasa cemburu sama aku, hah ...? Bukannya kamu sudah gak cinta lagi sama aku?"
"Kata siapa? Aku cinta sama kamu, sayang. Sungguh ..." Caviar lembut namun, penuh penekanan.
"Hmm ... Mendingan kamu pergi sekarang, aku gak mau lagi ngomong sama kamu," Milan memalingkan wajahnya dengan mata yang memerah.
"Sayang ...."
"Pergi aku bilang, apa kamu mau aku benar-benar menarik semua investasi aku, hah?" Milan kembali menaikan suaranya.
Setelah itu, Caviar pun berjalan keluar dari dalam kamar.
Sepeninggal suaminya, kini tinggallah Milan di dalam kamar, dia pun berteriak histeris lalu mengobrak abrik seisi kamar, dari mulai selimut, sprei, bahkan meja hias yang penuh dengan peralatan make up pun dia lemparkan sembarang membuat kamarnya benar-benar berantakan.
"Haaaaaaa ... DASAR CAVIAR KURANG AJAR, HAAAAAA ..." teriak Milan menggelegar memekikkan telinga.
Setelah itu, dia pun duduk lemas di atas lantai dengan bersandar ranjang yang kini sudah tidak beraturan, tangisnya terdengar pilu dan sesenggukan menggelegar di seisi ruangan.
"AKU BENCI KAMU, CAVIAR. AKU BENCI KAMU, HIKS HIKS HIKS ..." teriaknya lagi diiringi suara tangisan.
♥️♥️
Sudah sekitar tiga jam Zergo menunggu di ruang tamu, menunggu Milan yang sampai saat ini belum keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
"Ya Tuhan, Milan lagi ngapain si? Udah tiga jam ini, apa hari ini dia gak ada jadwal syuting?" Gerutu Zergo bangkit dari duduknya dan berjalan mondar-mandir.
Tidak lama kemudian, Lydia pun masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu apalagi mengucapkan salam, layaknya pemilik rumah yang masuk ke dalam rumahnya sendiri.
"Lagi ngapain kamu di sini?" Tanya Lyidia mengerutkan kening menatap wajah Zergo.
"Apa maksud kamu? Kamu yang lagi ngapain di sini? Masuk rumah orang gak ketuk pintu dulu apalagi mengucapkan salam, benar-benar gak sopan." Jawab Zergo balas menatap wajah Lydia dengan tatapan tajam.
"Suka-suka aku dong, aku udah biasa masuk ke rumah ini kayak gitu."
"Berasa jadi Nyonya rumah?"
Lydia seketika terkejut dengan wajah memerah.
"A-pa maksud kamu?" Tanya Lydia terbata-bata merasa gugup.
"Udah gak usah di bahas. O iya, aku menemukan ini kemarin." Zergo merogoh saku celananya dan meraih ponsel dari dalam sana.
"Ko bisa ada di kamu? Jangan-jangan, kamu sengaja ambil ponsel aku ya?"
"Ish, dasar gak tau terima kasih, udah sukur aku balikin," Zergo menggerutu kesal.
"Ya udah sini, kamu gak intip-intip isi dalam ponsel aku ini 'kan?" Lydia merebut ponsel miliknya kasar.
Zergo mengangkat kedua bahunya seraya tersenyum menyeringai.
Lydia pun memeriksa ponsel tersebut, memeriksa file video yang kemarin dia rekan. Seketika, dia pun membulatkan bola matanya merasa terkejut dengan apa yang dilihatnya di dalam sana.
"Apa ini?" Tanya Lydia saat matanya melihat video tidak senonoh yang sedang dia lakukan bernama Caviar.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Promosi Novel bagus buat kalian semua, silahkan mampir dan tinggalkan jejak kalian ya Reader ♥️
__ADS_1