
Baru saja beberapa meter Fajar menjalankan mobilnya, tiba-tiba saja dia menoleh ke arah samping dan terkejut saat mendapati tas milik Lidya masih tersimpan di atas kursi mobil.
"Astaga, tas Lidya sampai ketinggalan di sini? Apa ini takdir supaya aku kembali ke sana? Atau, dia emang sengaja agar aku bisa mampir dan minum kopi dulu di rumahnya?" Gumam Fajar tersenyum kecil.
Dia pun memutar stir dan berbalik arah dan kembali ke rumah Lidya untuk mengantarkan tas berwarna hitam yang tertinggal di mobilnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Fajar pun sampai di depan rumah Lidya. Dia segera keluar dengan menenteng tas tersebut. Baru saja beberapa langkah keluar dari dalam mobil, tiba-tiba saja dia mengedarkan pandangannya menatap sekeliling seperti merasakan sesuatu yang ganjil.
Pintu pagar masih tertutup rapat, lampu di dalam rumah pun masih belum dinyalakan. Rumah itu benar-benar gelap gulita seperti waktu dia datang bersama Lidya beberapa saat yang lalu. Seharusnya wanita itu sudah masuk ke dalam rumah, jika begitu lampu rumah pun pasti akan langsung dinyalakan.
"Lidya kemana? Ko rumahnya masih kosong?" Gumamnya menatap sekeliling mencari keberadaan Lidya.
Pandangan matanya pun seketika terhenti saat melihat sepasang sepatu yang tergeletak begitu saja di pinggir jalan, dia pun meraih sepatu tersebut dengan perasaan yang mulai terasa tidak enak.
"Sepatu? Astaga ... Apa yang terjadi dengan Lidya?" Gumamnya lagi seketika merasa panik bukan kepalang, dia pun berjalan mondar-mandir berharap bisa menemukan wanita itu.
"LIDYA ..." Fajar berteriak kencang di tengah kegelapan namun, tidak mendapat jawaban apapun hanya pantulan suaranya saja yang terdengar saling bersautan.
Di tengah kepanikannya, dia pun kembali masuk ke dalam mobil dengan perasaan khawatir. Fajar langsung menyalakan mobil dengan tangan lain yang memegang ponsel mencoba menelpon Lidya wanita yang saat ini begitu berharga di hatinya.
Kring ... Kring ... Kring ....
Ponsel Lidya yang berada di dalam tas miliknya pun seketika berdering, membuat Fajar semakin di buat khawatir.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi sama kamu Nona Lidya?" Lirih Fajar semakin mempercepat laju mobilnya membelah jalanan di tengah pekatnya kegelapan malam.
__ADS_1
"Nona Milan. Aku harus segera menelpon dia." Fajar terus saja berbicara sendiri ditengah perasaannya yang benar-benar diliputi rasa khawatir.
Tut ... Tut ... Tut ....
Suara telpon yang belum di angkat.
📞 "Halo Nona Milan," sapa Fajar sesaat setelah Milannita mengangkat telpon.
📞 "Iya, Fajar. Ada apa?"
📞 "Nona Lidya, Nona. Dia--"
📞 "Lidya kenapa? Bukannya dia pulang sama kamu?"
📞 "Iya, memang betul. Tapi dia ngedadak hilang. Saya hanya menemukan sepatunya di pinggir jalan."
📞 "Iya, Nona. Maaf karena saya tidak bisa ngejaga Nona Lidya dengan baik."
📞 "Aku masih di stasiun Televisi, aku tunggu kamu di sini sekarang juga."
📞 "Baik, Nona.'' Jawab Fajar seketika langsung menutup telpon dan segera menginjak pedal gas lalu melesat di jalanan.
♥️♥️
"Siapa?" Tanya Zergo sesaat setelah istrinya menutup telpon.
__ADS_1
"Lidya, Ze. Lidya hilang."
"Apa maksud kamu hilang? Bukannya dia pulang bareng si Fajar tadi?"
"Itu dia. Si Fajar barusan nelpon katanya Lidya bilang."
"Astaga ... Ini pasti ulah di Caviar gila itu."
"Gimana ini, sayang. Kalau Lidya sampai kenapa-napa gimana? Kalau laki-laki gila itu beneran bunuh Lidya gimana?"
"Siapa yang dibunuh sama siapa?" Tiba-tiba saja terdengar suara Produser sudah berdiri di depan pintu.
"Itu ... Anu ... Lidya tiba-tiba hilang," jawab Milan mau tidak mau memberitahukan hal itu.
"Maksudnya Nona Lidya yang tadi itu? Ko bisa?" Jawab sang Produser merasa terkejut lalu masuk ke dalam ruangan.
"Aku yakin ini perbuatan si Caviar. Dia tidak terima dengan pernyataan Lidya tadi. Aku benar-benar gak tau kalau hal itu akan membahayakan nyawa Lidya." Lirih Milan merasa bersalah, dia tidak berfikir panjang saat meminta Lidya tampil di acara tersebut.
"Tenang, sayang. Kita tunggu Fajar dulu, siapa tau dia sudah menemukannya Lydia." Ucap Zergo mencoba untuk menenangkan.
Tidak lama kemudian yang di tunggu pun akhirnya datang. Fajar masuk ke dalam ruangan dengan wajah yang terlihat pucat pasi, menenteng sepasang sepatu milik Lidya serta tasnya yang tertinggal di dalam mobil.
"Fajar, dimana Lidya?" Tanya Milan tubuhnya terasa bergetar.
"Maafkan saya, Nona. Saya gak tau kalau dia bakalan hilang kayak gini," jawab Fajar dengan napas yang tersengal-sengal lengkap dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya kini.
__ADS_1
"Astaga ... Lidya. Kamu benar-benar bakalan mati di tangan si Caviar gila itu. Gimana ini, Ze. Hiks hiks hiks ..." Teriak Milan histeris diiringi dengan suara tangis yang terdengar menggelegar.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️