Balas Dendam Istri yang Terhina

Balas Dendam Istri yang Terhina
Pulang


__ADS_3

"Fajar, kamu baik-baik aja?" Tanya Lidya segera membantu pemuda bernama Fajar yang saat ini lemas dan terduduk di atas aspal.


"Kamu benar-benar hebat, Lidya. Hanya dengan sekali pukulan, pria brengsek ini langsung tumbang." Jawab Fajar dengan napas yang tersengal-sengal dan menahan rasa sesak di dadanya.


"Enaknya kita apain dia? Apa mayatnya kita buang aja ke laut ya?"


"Emangnya dia udah mati?"


"Entahlah, aku berharap si gitu?'' Jawab Lidya tersenyum menyeringai menatap tubuh Mark yang berbaring di atas aspal.


Fajar yang sebenarnya merasa lemas pun kembali berjongkok dan memeriksa helaan napas pria itu dengan meletakkan jarinya di bawah hidung pemuda itu.


"Dia masih hidup." Ucap Fajar kembali berdiri.


"Benarkah? Heuh ... Padahal aku berharap dia mati aja sekalian," celetuk Lidya dengan perasaan kesal.


"Hus, emangnya kamu mau jadi seorang kriminal?"


"Hehehe ... Nggak juga si."


"Ya udah, kita tinggalin aja dia di sini." Ucap Fajar lalu membuka pintu mobil.


"Kamu mau ngapain?"


"Pulang 'lah, apa lagi?"


"Kamu itu habis bertarung, sini biar aku aja yang nyetir."


"Serius?"


"Iya, awas ... kamu masuk dari sana."


"Oke ..." Fajar pun hendak berjalan ke arah pintu samping.

__ADS_1


"Tunggu."


Fajar seketika menghentikan langkah kakinya lalu memutar badan.


"Lidya, kamu mau apa? Kamu gak benar-benar bakalan bunuh dia 'kan?" Tanya Fajar menatap heran Lidya yang saat ini sedang menyeret tubuh Mark yang sudah tidak berdaya.


"Nggak, aku cuma mau ikat dia di pinggir jalan." Jawab Lydia tertatih-tatih menarik kedua tangan Mark dengan segenap kekuatan yang masih dia miliki.


Setelah tiba di pinggir jalan, Lidya pun benar-benar mengikat kuat kedua kaki dan tangan laki-laki itu dengan tali yang dia ambil dari dalam mobil, tidak lupa, dia pun menutup mulut Mark menggunakan lakban bening yang juga entah mengapa seperti telah disediakan di dalam mobil.


"Kamu benar-benar pintar, Nona Lidya." Fajar menggelengkan kepalanya menatap tubuh Lidya dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan kagum.


"Kita pulang sekarang," ucapnya meninggalkan Mark di pinggir jalan dengan posisi benar-benar terikat kuat.


"Kita langsung terbang ke Indonesia, ya. Nona Milan lagi nungguin kedatangan kamu," pinta Fajar mulai membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya.


Lidya pun melakukan hal yang sama, dia duduk di kursi supir dan siap mengemudikan mobil.


"Kamu beneran gak apa-apa? Tadi kamu di cekik lho sama si brengsek itu?"


"Oke, kalau kamu maksa. Kita ke rumah aku dulu karena aku harus ambil faspor dan beberapa barang lainnya juga."


"Oke ..."


Lidya pun mulai menyalakan mobil dan mulai melajukan mobil pelan hingga akhirnya melesat di jalanan.


♥️♥️


Jakarta Indonesia.


"Zeze, bisa tolong ambilin handuk? Aku lupa gak bawa handuk," teriak Milan dari dalam kamar mandi yang ada di kamarnya.


"ZERGOOOO ..." Teriaknya lagi memekikkan telinga hingga Zergo yang berada di luar kamar pun seketika masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Ada apa si teriak-teriak?" Tanya Zergo berjalan menghampiri lalu menatap Milan yang hanya mengeluarkan kepalanya dari dalam kamar mandi.


"Aku lupa gak bawa handuk." Rengek Milan manja seraya mengedipkan matanya.


"Astaga, kenapa mandi gak bawa handuk sih? Bukannya di dalam biasanya ada handuk ya?"


"Buruan ..."


"Iya-iya ..."


Zergo pun berjalan mendekati pintu kamar dengan menggenggam handuk berwarna putih dan hendak memberikannya kepada sang istri di dalam sana namun, baru saja dia mengulurkan tangannya, tiba-tiba saja Milan segera menarik pergelangan tangan Zergo lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu seketika.


"Astaga, Milan. Apa-apaan kamu?" Tanya Zergo saat tubuhnya dihimpit dan di sandarkan di tembok kamar mandi.


"Aku tau kamu masih marah sama aku, sayang. Hanya ini obat paling mujarab untuk meredakan amarah kamu suamiku, sayang." Jawab Milan tersenyum manja dan menggoda.


Zergo pun menatap tubuh istrinya yang saat ini polos tanpa sehelai benangpun, dan benar-benar baru saja selesai mandi sehingga Zergo masih bisa mencium aroma wangi sabun yang menempel di tubuh istrinya, begitupun dengan rambut basahnya yang saat ini masih mengeluarkan aroma shampo yang tercium begitu menyegarkan.


"Hahaha ... Kamu benar-benar pandai, sayang. Kalau kamu udah kayak gini, mana mungkin aku bisa menolak." Jawab Zergo segera melahap tubuh istrinya buas dan berg*irah.


♥️♥️


"Akh, sayang. Kamu benar-benar luar biasa." Lirih Milan dengan napas yang tersengal-sengal sesaat setelah dirinya mencapai puncak pelepasan.


"Kamu juga hebat, sayang. Kamu benar-benar istri yang terbaik." Jawab Zergo meng*cup kecil bibir mungil istrinya.


"Kita mandi bareng?"


Milan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum senang.


Tok ... Tok ... Tok ....


Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamar mandi membuat Milan seketika terkejut begitupun dengan Zergo yang masih sama-sama dalam keadaan polos sisa pendakian.

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2