
"JADI MILAN, JANGAN SALAHKAN SAYA JIKA SUAMI KAMU SELINGKUH, SEMUA INI SALAH KAMU SENDIRI KARENA TIDAK BISA MELAYANI DIA DENGAN BAIK,'' ucap Lydia dengan mata yang mengarah ke kamera seolah tahu bahwa Milan sedang menyaksikannya saat ini.
Setelah mendapatkan teror di rumahnya, Lydia terpaksa melakukan hal ini karena ingin membersihkan nama baiknya agar tidak terkena teror lagi dari penggemar panatik Milannita.
Akan tetapi, harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Di saat dirinya sedang berusaha membersihkan namanya di depan kamera dan berurai air mata palsu yang dia buat begitu menyedihkan sedemikian rupa, tiba-tiba saja ....
Bruk ....
Seseorang melempar telur busuk tepat mengenai kepala Lydia dan seketika itu juga lelehan telur busuk mengalir tepat di wajahnya membuat Lydia seketika kesal dan berteriak.
"Argh ... Kurang ajar, siapa yang berani melempar telur ini?'' teriak Lydia mengusap wajahnya kasar.
"Hey, pel*kor rendahan m*ti saja kau dan membusuk di ne*aka dasar perempuan mur*han," suara laki-laki berteriak diantara para kerumunan orang yang saat ini sedang menyaksikan konferensi pers tersebut.
Bruk ....
Telur busuk pun kembali di lempar keras, bukan hanya satu bahkan puluhan telur pun dilemparkan ke arahnya kini. Entah darimana asal telur-telur itu semuanya terjadi begitu saja membuat Lydia seketika berdiri dan berlari meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa dan tentu saja perasaannya begitu kesal saat ini.
"Dasar sialan, brengsek mereka semua," gerutu Lydia kesal dengan tubuh penuh dengan lelehan telur begitupun dengan wajahnya.
Tubuh Lydia pun mengeluarkan aroma tidak sedap membuat siapapun orang yang berpapasan dengannya menutup hidung serta menatap wajahnya dengan tatapan jijik.
Lydia terus berlari hingga keluar dari dalam gedung tempat dimana dia melakukan konferensi pers, sampai akhirnya dia tiba di depan mobil miliknya.
Baru saja dia hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba saja sebuah mobil hitam berhenti tepat di sampingnya dan segera meraih tubuh Lydia kasar lalu membawanya masuk ke dalam mobil.
Lydia pun berteriak histeris di dalam mobil yang saat ini mulai melaju kencang. Dia berontak sedemikian rupa seraya memaki beberapa orang pria bertubuh besar yang saat ini berada bersamanya di dalam mobil.
"Lepaskan aku brengsek, Siapa kalian? Apa kalian orang suruhan Milan? Atau kalian orang suruhan Zergo? Jawab ...'' tanya Lydia dengan raut wajah kesal.
"Diam kamu atau aku akan menghabisi nyawamu sekarang juga. Lagian tubuh kamu bau telur busuk cocok sama kamu yang memang wanita jal*ng penghancur rumah tangga orang," jawab salah satu dari mereka.
"Brengsek, kamu pikir aku takut sama ancaman kamu itu, hah? Bunuh aku kalau berani?"
__ADS_1
"Dasar wanita jal*ng tidak tahu diri."
Mulut Lidya pun kini ditutup dengan lakban begitupun dengan tangan dan kaki Lydia membuatnya tidak bisa lagi berbuat apapun dan meringkuk di atas kursi mobil kini.
Salah satu penculik itu nampak menelepon seseorang dan Lidya mendengarkan dengan seksama apa yang sedang dibicarakan oleh penculik tersebut.
📞 "Halo, bos. Target sudah ada bersama kami, harus kami apakah dia?" Tanya penculik tersebut.
📞 "Bawa ke Villa sekarang juga."
📞 "Baik, Bos."
Penculik itu pun menutup telpon dan menatap Lydia dengan tersenyum menyeringai.
"Dasar wanita jal*ng." Ucapnya tertawa menyebalkan.
Lydia dengan segenap kekuatan yang masih dia miliki masih mencoba untuk melepaskan diri dan berbicara meskipun hanya berupa gumaman karena mulutnya masih tertutup oleh lakban.
"Hmmmm ... Hmmmm ..." Gumam Lydia membulatkan bola matanya.
'Mas Caviar? Apa dia yang sudah menyuruh mereka menculik aku? Akh ... Masa iya? Bukannya dia mencintai aku?' (batin Lydia)
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mobil pun berhenti di depan Villa. Lydia pun membulatkan bola matanya seketika karena Villa tersebut adalah Villa milik Caviar yang biasa mereka gunakan untuk saling melepaskan rindu.
Tubuh Lydia pun seketika dibopong oleh salah satu penculik itu dan membawanya masuk ke dalam Villa. Di dalam Villa Caviar nampak sudah menunggu dan duduk di atas kursi dengan bersilang kaki dengan satu batang rokok yang terselip di antara jarinya.
"Turunkan dia," pinta Caviar kepada orang yang membawa Lydia.
"Baik, bos." Jawabnya seraya menurunkan tubuh Lydia di atas kursi.
Bret ....
Orang itu membuka lakban yang menutup mulut Lydia.
__ADS_1
"MAS CAVIAR? APA YANG KAMU LAKUKAN?" teriak Lydia dengan napas yang tersengal-sengal.
"Apa lagi? Aku ingin menutup mulutmu untuk selamanya, Lydia. Kamu udah hancurin hidup aku," jawan Caviar berdiri dan menghampiri tempat dimana Lydia berada menatap lubuh wanita itu yang saat ini begitu kotor dan menjijikkan.
"APA? GILA KAMU, MAS."
"Iya, aku emang sudah gila dan aku kayak gini gara-gara kamu. Andai aja kamu bersabar sedikit lagi mungkin aku gak akan kehilangan segalanya dan kamu akan hidup senang bersama aku saat ini," jawab Caviar geram.
"Semua ini gara-gara istrimu sial kamu itu, Mas. Seharusnya dia yang hancur bukan kita."
Plak ....
Satu tamparan mendarat di pipi Lydia membuatnya seketika terkejut dan membulatkan bola matanya seraya meringis kesakitan.
"Argh ..." Ringis Lydia merasakan pipi kanannya panas membara.
"Jangan pernah panggil dia dengan sebutan itu. Milan lebih baik dari pada kamu, Lydia." Teriak Caviar tidak terima.
"Kenapa kamu jadi kayak gini, Mas? Bukannya kamu mencintai aku selama ini? Aku juga selalu melayani kamu dengan baik, Mas." Rengek Lydia mengiba.
"Aku sudah bilang tadi, andai saja kamu bersabar sebentar lagi, aku gak perlu melakukan hal ini dan aku gak akan kehilangan segalanya terutama aku gak akan kehilangan Milannita, tambang emas kita. Karena tindakan bodoh kamu itu sekarang hidup aku benar-benar hancur, perusahaan aku juga terancam bangkrut," Caviar menatap kesal wajah Lydia.
"Aku ingin tanya satu hal sama kamu, Mas. Apakah selama ini kamu mencintai aku? Selama dua tahun kita bersama, kamu anggap apa aku ini?" Tanya Lydia dengan buliran air mata yang berjatuhan membasahi wajahnya kini.
"Sebenarnya aku cinta sama kamu, Lydia. Kamu selalu menghiburku di kala aku sedang kesepian. Kamu telah mengisi kekosongan hatiku di saat istriku sibuk dengan karirnya sendiri. Tapi itu dulu, sekarang aku benci sama kamu, karena kamu sudah benar-benar menghancurkan hidup aku,'' jawab Caviar menatap geram wajah Lydia.
Hati seorang Caviar benar-benar dipenuhi rasa penyesalan. Menyesal karena telah termakan rayuan wanita yang saat ini berada dihadapannya. Jika dibandingkan dengan Milannita yang dia sebut sebagai berlian begitu berharga, Lydia hanyalah seonggok kotoran yang tergeletak di atas lantai yang saat ini terlihat begitu menjijikkan.
Betapa bodohnya dia saat itu. Betapa tololnya dia saat dirinya dengan teganya menduakan cinta seorang Milannita yang merupakan wanita paling sempurna dengan sejuta pesona.
Sungguh, hati Caviar benar-benar menyesali apa yang telah dia lakukan dahulu.
"Sini kamu wanita j*Lang.''
__ADS_1
Caviar menyeret tubuh Lydia kasar dan membawanya masuk ke dalam gudang.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️