
Ting ... Tong ... Ting ... Tong ....
Fajar memijit bel secara berkali-kali, dirinya berdiri di depan pagar tinggi seraya mengintip dari celah pagar rumah milik artis idolanya Milannita. Dia pun kembali menekan tombol bel dengan perasaan gelisah karena artis idolanya itu tak kunjung membukakan pagar.
Ceklek ....
Pintu pagar pun akhirnya di buka dan Fajar tersenyum lebar bahkan sangat lebar merasa begitu senang. Milan berdiri di balik pintu pagar dengan memakai dress sederhana berwarna kuning, dia menatap Fajar dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan perasaan heran.
"Maaf, siapa ya?" Tanya Milan datar.
Fajar yang terlanjur senang pun seketika merasa salah tingkah, berada saling berhadapan dengan artis idolanya membuat tubuhnya terasa kaku dan hanya diam mematung seketika merasa benar-benar gugup dengan wajah yang cengengesan.
"Eu ... Maaf ya. Saya gak memberikan sumbangan sama sembarangan orang, kalau anda ingin meminta sumbangan, mohon perlihatkan surat-surat resmi dari yayasan resmi."
"Oh tidak, Nona. Eu ... Anu, saya ke sini bukan untuk meminta sumbangan. Perkenalkan, nama saya Fajar. Saya salah satu staf Televisi yang akan mengundang anda ke acara khusus kami, sekaligus saya juga penggemar berat anda, Nona." Jawab Fajar secara terbata-bata mengulurkan tangannya.
Seketika, wajah datar Milan pun berubah ramah. Dia menerima uluran tangan pemuda yang sepertinya berusia pertengahan 20han itu dengan tersenyum senang.
"Oh, Anda salah satu staf Televisi toh. Maaf, saya kira anda orang-orang yang suka minta sumbangan. Mari silahkan masuk Dek Fajar," pinta Milan ramah tamah lengkap dengan senyuman yang sangat manis membuat Fajar seketika merasa terkesima.
"Te-terima kasih, No-nona ..." Jawab Fajar tersipu malu.
Di dalam rumah.
"Siapa yang datang, sayang?" Tanya Zergo berjalan keluar dari dalam kamar lalu terkejut menatap seorang laki-laki muda yang kini telah duduk di kursi ruang tamu bersama istrinya. Zergo pun berjalan menghampiri dengan wajah datar lalu duduk tepat di samping istrinya.
"Kenalin, sayang. Namanya Fajar, dia ini salah satu staf Televisi yang kemarin datang kemari sekaligus penggemar panatiknya aku, aku benar-benar gak nyangka meskipun aku udah gak jadi artis lagi, masih ada penggemar panatik kayak kamu, Fajar.'' Ucap Milan tersenyum ramah.
"Iya betul, Tuan Zergo. Perkenalkan nama saya Fajar."
Zergo menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Oh iya, ada perlu apa kamu datang kemari? Tadi katanya ada hal penting yang ini kamu katakan."
__ADS_1
Fajar pun mengatakan maksud kedatangannya ke sana. Dia menceritakan niat baiknya untuk membantu Milan dalam membersihkan nama baiknya yang saat ini sedang tercemar akibat pernyataan yang tidak bertanggung jawab dari mantan suaminya.
"Serius?" Milan seketika membulatkan bola matanya saat mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Fajar, dia pun tersenyum senang karena dia memang menginginkan nama baiknya kembali seperti sedia kala.
"Betul, Nona. Saya akan melakukan apapun agar nama baik Nona bisa kembali dan saya akan merasa sangat senang jika anda bisa kembali berkarir di dunia hiburan. Oleh karena itu, saya ingin meminta petunjuk dari anda agar saya bisa tahu harus mulai dari mana,'' ucap Fajar penuh percaya diri.
"Hmm ... Fajar, saya senang sekali mendengar niat baik kamu tapi, apa nanti kamu akan baik-baik aja kalau sampai si Caviar itu tahu tentang niat kamu ini?" Tanya Zergo merasa khawatir karena dia tahu betul betapa jahatnya mantan suami dari istrinya tersebut.
"Anda tenang aja, Tuan. Saya akan baik-baik aja ko. Anda gak usah khawatir."
"Tunggu, jangan panggil saya dengan sebutan Tuan, saya berasa jadi Tuan muda, uhuk ..."
"Hahaha ... Lalu, saya harus manggil anda dengan sebutan apa?"
"Panggil aja saya dengan sebutan Abang, panggilan itu lebih cocok buat saya."
"Ish kamu ini, emangnya kamu Abang tukang baso apa?" Celetuk Milan tertawa lucu.
"Sayaaaaang ..." Zergo mendelik kesal membuat Milan seketika merapatkan bibir sensualnya.
"Baik, Bang. Saya janji akan sangat berhati-hati."
"Fajar, sebenarnya ada satu cara untuk membuktikan bahwa pernyataan si brengsek gak tau malu sialan kurang ajar itu bisa di bantah dan nama baik aku bisa kembali lagi," ucap Milan dengan perasaan kesal saat dia menyebut nama mantan suaminya yang sangat dia benci.
"Wah, kalau ada cara yang lebih mudah kenapa harus cari cara yang sulit," jawab Fajar tersenyum lebar.
"Sebenarnya sih caranya gak gampang juga. Kita hanya perlu membawa Lidya mantan asisten aku sekaligus wanita yang menjadi selingkuhan si brengsek itu, hanya saja, masalahnya--'' Milan tidak meneruskan ucapannya lalu menoleh ke arah suaminya.
"Betul juga, kenapa gak kepikiran sama aku. Anda benar-benar pintar, Nona. Gak salah saya ngefans sama anda selama bertahun-tahun. Hehehe ..."
"Jangan senang dulu. Masalah, aku gak punya nomor ponsel Lidya, tempat tinggalnya pun gak tau. Karena sekarang dia udah pindah ke luar negeri," jawab Milan menunduk merasa kecewa.
"Anda tenang aja, Nona. Asal saya tau di negara mana si Lydia itu tinggal, saya pasti akan menemukan dia. Maaf, bukannya saya sombong, biar gini-gini saya punya banyak koneksi dimana-mana," ucap Fajar penuh semangat.
__ADS_1
"Kamu serius?"
"Tentu saja. Saya sudah berani datang ke sini, itu berarti saya serius bahkan, sangat serius. Saya ingin anda bisa berkarir lagi Nona."
"Baiklah, Lidya tinggal di Australia. Alamat jelasnya aku juga gak tau pasti."
"Oke, saya akan terbang ke negara Australia dengan misi membawa Nona Lidya pulang ke sini. Saya janji bakalan bawa dia dengan selamat. Kalau begitu saya permisi Nona. Saya mau pesan tiket sekarang juga." Ucap Fajar berdiri dengan semangat yang menggebu-gebu layaknya seorang pahlawan yang hendak berperang.
"Sekarang juga?'' Zergo dan Milan terkejut dan saling menatap satu sama lain, mereka tidak menyangkan bahwa si fajar ini akan langsung terbang ke sana sekarang juga.
"Iya, memangnya kenapa? Bukannya lebih cepat lebih baik?"
"Iya sih? Lebih cepat lebih baik. Tapi, tunggu sebentar, saya ambilkan sesuatu dulu buat kamu," pinta Milan berlari ke arah kamar, tidak lama kemudian dia pun kembali dengan membawa amplop berisi uang.
"Ini buat kamu." Ucap Milan menyerahkan amplop tersebut.
"Nggak usah, Nona. Saya ikhlas membantu Nona. Beneran, saya juga punya cukup banyak uang ko," jawab Fajar menolak pemberian Milan.
"Tapi saya gak ikhlas kalau kamu nanti kehabisan uang di sana. Anggap aja ini adalah yang cadangan, aku juga ikhlas ko ngasih ini buat kamu. Justru aku akan merasa sangat tersinggung kalau kamu menolak pemberian aku ini jadi, aku mohon terima uang ini. Jumlahnya juga gak terlalu banyak,'' ucap Milan lagi panjang lebar.
Akhirnya, Fajar pun menerima amplop tersebut dia mengintip isi amplop dan membulatkan bola matanya seketika karena jumlah uang di dalamnya tidaklah sedikit seperti yang baru saja dikatakan oleh Milan.
"Te-terima kasih, Nona. Ini sudah lebih dari cukup untuk bekal saya di sana. Saya janji bakalan bawa Lidya pulang secepatnya."
Milan dan Zergo pun menganggukkan kepalanya seraya tersenyum senang.
"Tapi, Nona. Bolehkah saya minta satu hal."
"Boleh, tentu saja boleh. Apa itu, Fajar.''
"Saya mau minta tanda tangan anda, Nona. Hehehe ..."
"Waaah ... Kalau itu tentu saja boleh. Mana, dimana aku harus tanda tangan?''
__ADS_1
"Di sini, saya ingin Nona tanda tangan di punggung saya." Pinta Fajar memperlihatkan punggungnya.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️