Balas Dendam Istri yang Terhina

Balas Dendam Istri yang Terhina
Melepaskan Diri.


__ADS_3

Lydia mengepalkan tangannya, dia merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Milannita mengenai Caviar, laki-laki yang sudah selama dua tahun ini menjadi tumpuan hidupnya.


Hati Lydia benar-benar merasa terbakar api cemburu, terasa panas membara bagaikan menghanguskan seluruh pertahanan yang selama ini dia benteng kuat di dalam hatinya.


"Serius dia mengatakan hal itu?" Tanya Lydia dengan bibir yang sedikit gemetar menahan rasa geram.


"Ngapain aku bohong sama kamu? Selama ini aku selalu terbuka sama kamu, Lydia. Apa kamu tau sesuatu tentang selingkuhan suamiku itu?" Tanya Milan tersenyum puas menatap wajah Lydia yang saat ini terlihat kesal.


"Eu ... nggak ko, aku gak tau siapa wanita itu? Emangnya, kalau ketemu sama dia kamu mau ngapain?"


"Apa lagi, aku mau menertawakan dia, tertawa puas banget, karena sebagai seorang wanita seharusnya dia tau diri, dan cari laki-laki yang belum beristri, bukan malah goda laki orang dan jadi gundik murahan. Ha ... Ha ... Ha ...." Jawab Milan tertawa lepas.


'Kurang ajar,' (batin Lydia semakin merasa kesal)


Zergo yang juga berada di sana, nampak tersenyum puas juga melihat wajah Lydia yang kini memerah dengan bola mata yang juga memerah layaknya bola api yang menyala-nyala.


Akhirnya, wanita itu bisa merasakan betapa sakitnya dikhianati, betapa terlukanya laki-laki yang dicintai mencintai wanita lain kini.


"O iya, hari ini kita ada jadwal syuting untuk iklan produk kecantikan," ucap Lydia mengalihkan pembicaraan.


"Hmm ... oke, aku ada berapa jadwal syuting hari ini?"


"Kayaknya sih padat banget, sampai jam 23.00 jadwal kamu terisi penuh tanpa jeda, pokoknya kamu harus siapin tubuh kamu jangan sampai tumbang, oke ...?" Jelas Lydia.


"Lydia, kamu apa-apaan sih, emangnya Milan ini robot, jadwalnya padat banget." Protes Zergo tidak terima.


"Ya mau gimana lagi, dia juga udah tanda tangan kontrak, berarti Milan setuju dong, iya 'kan Mil?"


Milan tersenyum dengan sedikit dipaksakan.


"Ya, emangnya gak bisa gitu jadwalnya dipecah, kalau kayak gini bisa-bisa kamu sakit lho, sayang," Zergo menatap wajah Milan dengan tatapan khawatir.


"Udah, gak apa-apa Zeze, aku udah biasa kayak gini, malahan aku pernah syuting dari pagi sampai pagi lagi," jawab Milan tersenyum mesra menatap wajah Zergo.


"Tapi, sayang."


"Sttt ... Jangan ngomong lagi, kita berangkat sekarang, oke?" Lirih Milan disertai lirikan genit mata indahnya dengan jari yang diletakkan di bibir Zergo membuat pemuda itu seketika merapatkan bibirnya.

__ADS_1


"Lydia, bawain baju ganti aku, tas sama alat Makeup yang baru aku beli, semuanya ada di kamar, aku tunggu di mobil, gak pake lama,'' pinta Milan berjalan dengan menggandeng pergelangan tangan Zergo mesra.


'Heuuuh ... Sampai kapan aku disuruh-suruh terus sama wanita itu, astaga, aku benar-benar muak dengan semua ini,' (batin Lydia merasa kesal)


♥️


"Apa kamu baik-baik aja?" Tanya Zergo menggenggam erat jemari Milannita seraya berjalan keluar dari dalam rumah.


"Apa maksud kamu, sayang?" Jawab Milan tidak ingin menunjukkan rasa sakit di hatinya.


"Kamu gak bisa menyembunyikan semua itu dari aku, Milannita."


"Menyembunyikan apa? Aku baik-baik aja ko."


"Bohong."


Milan menghentikan langkah kakinya seketika menundukkan kepala dengan wajah muram. Sepertinya, sia-sia saja dia berusaha bersikap biasa, bahkan senyuman yang sedari tadi dia tunjukkan tidak mampu menipu apalagi membohongi pria bernama Zergo itu.


"Sayang," lirih Zergo menundukkan kepalanya menatap wajah Milan.


"Kamu benar-benar pintar."


"Kamu pintar, Zeze. Aku sama sekali gak bisa bohongi kamu," lirih Milan dengan nada suara berat.


Seketika, tiba-tiba saja Zeego menarik pergelangan tangan Milan, dan membawanya dengan setengah berlari menuju paviliun dimana tempatnya tinggal.


Ceklek ....


Zergo pun segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan dengan tangan yang masih menggenggam erat jemari Milan.


Grep ....


Zergo memeluk Milan, dia tau betul bahwa, wanita itu sangat membutuhkan dukungannya saat ini, meski Zergo tidak tahu apa yang sedang di hadapi oleh Milan sekarang tapi, dia yakin bahwa, wanita yang dicintainya itu sedang membutuhkan pelukan hangat darinya.


Seketika, Milan pun menangis sesenggukan di dalam pelukan Zergo seolah menumpahkan semua kesedihan yang sedari tadi dia sembunyikan.


"Aku gak baik-baik aja, Zeze. Aku nggak lagi baik-baik aja. Hiks hiks hiks ..." Lirih Milan diiringi dengan suara tangisan.

__ADS_1


"Menangis'lah, sayang. Nangis'lah sepuasnya, nangis'lah sampai hatimu merasa lega," ucap Zergo mengusap lembut punggung Milan.


Selama lebih dari 10 menit, Milan terus saja menangis sesenggukan di dalam pelukan pemuda bernama Zergo itu. Tangisnya bahkan terdengar begitu pilu membuat Zergo merasa iba.


"Ze ..." Milan mengurai pelukan lalu menatap wajah Zergo dengan tatapan sayu serta bola mata yang memerah begitupun dengan air yang terus saja bergulir dari mata bulat Milannita.


"Iya, sayang. Aku ada di sini.''


"Gimana caranya agar aku bisa lepas dari suamiku," lirih Milan secara tiba-tiba membuat Zergo terkejut sekaligus merasa senang.


"Maksud kamu?" Zergo mengerutkan keningnya.


"Aku memang ingin membalaskan dendam aku sama suamiku, tapi, aku gak mau jika balas dendam aku akan membuat aku terjebak selamanya menjadi istri Caviar, aku gak mau." Ucap Milan lembut dengan tatapan sayu.


"Saya akan senang sekali jika kamu mau lepas dari laki-laki bajingan itu, dan saya akan menerima kamu apa adanya meskipun kamu sudah menjadi seorang janda, Mil.''


"Tapi gimana caranya? Apa yang aku katakan tadi sama Lydia tadi itu sungguhan, Caviar memang bilang kayak gitu sama aku, dan dia mengatakan bahwa sampai kapanpun dia gak akan pernah menceraikan aku, Ze. Aku takut kalau seumur hidup aku akan terjebak di dalam rumah tangga yang menyiksa ini," Milan dengan tatapan sayu penuh ketakutan.


"Sayang, kamu gak usah khawatir, aku akan selalu ada di sini buat bantuin kamu balas dendam sekaligus membantu kamu lepas dari suami kamu itu," Zergo mengusap lembut pipi putih Milan lalu mengecup keningnya lembut dan penuh kasih sayang, membuat Milan seketika merasa tenang.


Keduanya pun menyudahi kebersamaan mereka, baik Zergo maupun Milan saling melepaskan pelukan masing-masing, lalu saling menatap satu sama lain dengan tatapan mesra dan penuh kasih sayang.


Zergo, kembali mengusap lembut kedua sisi pipi Milan seraya tersenyum begitu manisnya menyiratkan rasa cinta yang mendalam.


"Kita keluar sekarang?" Tanya Zergo dan langsung di jawab dengan anggukan diiringi senyuman oleh Milan.


Ceklek ....


Zergo membuka pintu ruangan, namun, tiba-tiba saja Zergo kembali menutup pintu dengan wajah panik dan sedikit tergesa-gesa.


"Kenapa?" Tanya Milan merasa heran.


"Suamimu ....''


"Hah ..."


"Dia lagi jalan ke sini, sama Lydia juga," ucap Zergo sedikit terbata-bata.

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2