
Bruk ....
Caviar melemparkan tubuh Lidya yang masih terikat di kedua kaki dan juga tangannya itu ke atas ranjang. Dia tidak menghiraukan teriakan bahkan makian yang terdengar begitu lantang keluar dari bibir sensual seorang Lidya.
Caviar menatap tubuh Lidya layaknya singa lapar yang menemukan mangsa empuk. Seketika, pikirannya pun di bawa kembali melayang ke masa lalu dimana dia selalu dimanjakan oleh goyangan bahkan dia merindukan suara ri*tihan wanita itu yang selalu membuat ga*rah di dalam jiwanya merasa terpuaskan.
"Kurang ajar kamu, Caviar. Lepasin aku brengsek," teriak Lidya memekikkan telinga.
"Tenang, sayang. Kita akan bersenang-senang malam ini, apa kamu tidak rindu sama sekali sama pusaka aku ini? Dulu kamu begitu tergila-gila sama dia." Jawab Caviar dengan nada suara manja mengusap wajah Lidya lembut dengan satu jarinya.
"Cuih ... Najis, lebih baik aku mati dari pada harus melayani kamu."
Lidya meludahi wajah Caviar lengkap dengan tatapan tajam dengan bola mata dan berair.
"Hahaha ... Tidak masalah. Jika kamu gak mau maka aku akan memaksa kamu buat melayani aku. Tapi, jangan salahkah aku jika aku bermain kasar nantinya. Kamu tinggal pilih, mau bermain lembut dan tidak akan ada paksaan atau, bermain kasar tapi sekujur tubuh kamu akan terasa sakit karena aku akan memaksa kamu melakukan gaya apapun yang aku mintakan?'' jawab Caviar mengusap wajahnya kasar.
Lidya hanya diam mematung, ada rasa takut yang kini menyelimuti relung hatinya. Dia pun berada di ambang dilema kini, jika dia tidak mengikuti keinginannya maka pria gila ini akan memaksa bahkan tidak segan menyiksa tubuhnya, akan tetapi dia sama sekali tidak sudi kalau harus melayani laki-laki bajingan seperti Caviar.
"Kenapa diam saja, sayang. Aku beri waktu kamu untuk berfikir selama 30 menit, anggap saja ini sebagai hadiah terakhir sebelum kamu benar-benar mati."
Tubuh Lidya semakin terasa bergetar, rasa takut pun semakin menghantui jiwanya. Takut dise*ubuhi dengan kasar, juga takut mati karena masih ada yang ingin dia capai di dalam hidupnya.
__ADS_1
"Apa kamu akan mengampuni nyawaku, kalau aku bersedia melayani kamu?" Lidya dengan suara lemah.
"Tentu saja, aku akan mempertimbangkan hal itu kalau kamu mau melayani aku sama seperti yang selalu kamu lakukan dulu. Kamu tau, aku rindu sekali goyangan maut kamu sayang. Hanya dengan membayangkan'nya saja pusaka milikku ini tegang dan berdiri kayak gini." Ucap Caviar mengusap belahan celana ketat yang dikenakannya
Lydia pun seketika menatap pusaka milik Caviar yang memang sudah terlihat mengeras dan menegang, dia pun tersenyum menyeringai mengingat apa yang telah dia lakukan kepada laki-laki bernama Mark yang berhasil dia tumbangkan beberapa hari yang lalu.
"Oke, aku akan melayani kamu dengan sepenuh hati tapi, ada syaratnya," jawab Lidya tersenyum menggoda.
"Apa syaratnya, katakan saja, sayang.''
"Lepaskan dulu dong ikatan tangan dan kaki aku ini, gimana caranya aku bisa melayani kamu kalau aku masih dalam keadaan terikat kayak gini?" lirih Lidya dengan nada suara manja.
"Hmm ... Asalkan kamu janji gak akan pergi kemanapun, maka aku akan melepaskan ikatan kamu ini."
"Hahaha ... Kamu benar-benar membuat gair*h di dalam jiwaku meronta-ronta, Lidya. Baiklah, karena kita udah sepakat, aku bakalan lepasin ikan kamu ini.''
Dengan begitu bodohnya Caviar melepaskan ikatan tangan dan juga kaki Lidya. Hatinya benar-benar telah dipenuhi dengan na*su birahi yang sudah benar-benar berada di puncak keinginan untuk disalurkan.
Tanpa basa-basi lagi, pria itu segera melucuti pakaian yang dikenakannya. Lidya dengan mata memerah menatap pusaka yang dahulu pernah menjadi benda pavoritnya tapi tidak lagi kini.
Lidya benar-benar merasa jijik bahkan terasa akan muntah saat pria gila itu memainkan pusaka'nya sendiri meminta dirinya untuk segera melahapnya seperti yang dia katakan tadi.
__ADS_1
"Ayo sayang. Lahap ... Aku benar-benar rindu hisapan bibir sensual kamu itu." Pinta Caviar mengarahkan pusaka miliknya tepat di depan wajah Lidya.
Rasa mual seolah memenuhi kerongkongannya kini. Dia mencoba menahan sekuat tenaga sesuatu yang sebenarnya ingin sekali dia muntah'kan.
"Ayo sayang, lakukan seperti yang tadi kamu katakan." Pinta Caviar sudah benar-benar tidak tahan ingin segera dilahap bulat-bulat.
Meski mual pada awalnya, Lidya tetap mengikuti kemauan Caviar. Pusaka miliknya benar-benar di lahap habis sampai memenuhi mulut Lidya kini. Caviar pun seketika memejamkan matanya merasakan sensasi nik*at yang tiada tara.
"Iya, sayang. Seperti itu, rasanya enak. Akhhhh ..." Caviar benar-benar men*esah kenik*atan.
Lydia pun semakin membenamkan dalam-dalam pusaka milik laki-laki yang sebenarnya sangat dia benci itu. Air mata seorang Lidya pun seketika berjatuhan membasahi wajah tirusnya, mengutuk perbuatannya sendiri karena mau melakukan hal yang sangat menjijikan seperti itu.
'Tunggu saja, aku akan memberikan kamu kejutan, brengsek,' (batin Lidya)
Benar saja, di saat Caviar sedang berada di puncak keni*matan dan sukmanya benar-benar dibuat melayang di udara, tiba-tiba saja ....
Greek ....
Lidya mengigit pusaka Caviar dengan sekuat tenaga membuat pria itu berteriak histeris, rasa ni*mat yang semula dia rasakan tergantikan dengan rasa sakit yang tidak terkira.
"HAAAAAAAA ..." Teriak Caviar memekikkan telinga.
__ADS_1
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️