
Di akhir acara, Lidya dan Milannita pun saling berpelukan di saksikan oleh semua yang ada di studio dan seluruh penggemar yang menonton acara tersebut di rumah masing-masing.
Lidya merasa lega karena akhirnya masalah yang dia timbulkan dapat diselesaikan dengan baik dan Milan bisa kembali berkarir di dunia hiburan. Mata Lidya bahkan terlihat berkaca-kaca menahan rasa haru dan rasa lega di dalam hatinya.
Tanpa dia sadari bahwa masalah yang lebih besar sedang menantinya di depan. Masalah lain yang timbul akibat pernyataannya sekarang dan dia pun tidak tahu bahwa nyawanya sedang terancam, karena Caviar menyimpan dendam yang begitu dalam terhadap dirinya.
"Waaah ... Saya lega sekali melihat kalian berdua seperti ini. Masa lalu biarlah berlalu, marilah kita semua menatap ke depan dan mengambil hikmah dari semua kejadian yang telah menimpa kalian berdua," ucap Presenter tersebut yang juga merasa terharu.
Lidya dengan begitu beraninya mengakui kesalahan di depan semua orang dan meminta maaf kepada Milannita. Sedangkan Milan, dia bisa dengan berbesar hati memaafkan kesalahan asisten pribadinya sendiri. Sungguh hal yang jarang terjadi dimana seorang wanita mau memaafkan orang yang telah merusak rumah tangganya.
Acara itu pun menjadi trending topic dan menduduki peringkat pertama di rating acara saat ini. Seluruh staf dan Produser pun bertepuk tangan benar-benar merasa puas dengan penampilan dan pencapaian yang mereka dapatkan malam ini.
Acara pun di tutup. Lidya, Milan dan suaminya meninggalkan panggung dan hendak kembali pulang.
"Aku pulang duluan ya. Tubuh aku benar-benar lelah," ucap Lidya yang saat ini berada di ruangan yang memang khusus disediakan untuk bintang tamu.
"Hmm ... Kamu mau pulang ke mana? Nginep aja lagi di rumah aku," tawar Milan tersenyum ramah.
"Kayaknya nggak deh, aku mau pulang ke rumahku aja. Udah lama rumah itu aku biarkan kosong."
"Terus, kamu pulang sama siapa dong?"
"Jangan khawatir Nona Milan aku akan mengantarkan dia pulang dan selamat sampai tujuan," Fajar tiba-tiba sudah berdiri tepat di depan pintu, tersenyum manis menatap wajah Lidya.
"Waaah ... Syukurlah, aku pikir dia akan pulang sendiri karena aku nggak bisa nganterin dia pulang. Aku udah ada janji sama wartawan untuk meluangkan waktu bersama mereka buat diwawancarai." Ucap Milan merasa lega.
"Tenang aja. Anda bisa melakukan sesi wawancara dengan tenang, karena Lidya akan saya jaga dan saya jamin dia bakalan sampai dirumahnya dengan selamat," ucap Fajar lagi meyakinkan.
"Makasih ya, Fajar. Hmm ... Kayaknya kita pulang sekarang deh," pinta Lidya.
"Oke ..." Jawab Fajar tersenyum senang menatap wajah Lidya yang entah mengapa terlihat lebih cantik dari sebelumnya.
"Mil, aku pulang duluan ya."
Milan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
"Hati-hati Fajar, aku titip Lidya sama kamu."
__ADS_1
"Beres, kami permisi dulu ya," jawab Fajar keluar dari dalam ruangan mengikuti Lidya yang sudah keluar terlebih dahulu.
'Aku berharap kamu bisa menemukan cinta sejati seperti aku, Lidya. Kita lupakan masa lalu dan mari kita membuka lembaran baru,' (Batin Milan)
Milan pun menatap punggung Lidya yang saat ini berjalan menjauh sampai akhirnya tidak terlihat lagi dengan tersenyum senang, tersenyum lega karena akhirnya semua masalah berakhir dengan bahagia.
❤️❤️
Di perjalanan, Lidya nampak tidak berhenti menyunggingkan senyuman. Hatinya benar-benar merasa puas dengan apa yang baru saja dia lakukan. Selain dia bisa memulihkan nama baiknya, dia pun bisa melenggang dengan tenang kemanapun dia pergi karena namanya pun sudah bersih.
"Eu ... Nona Lidya," sapa Fajar sedikit menoleh di sela-sela matanya yang sedang menatap ke depan menyetir mobil.
"Iya, Fajar. Kenapa?"
"Anu, saya mau mengakui sesuatu sama Nona. Tapi, sebelumnya saya minta maaf dulu."
"Lho, kenapa kamu minta maaf segala? Emangnya kamu udah buat kesalahan apa?"
"Apa anda ingat, dulu rumah anda pernah di teror dan lempari batu?" Tanya Fajar dengan perasaan tidak enak.
"Hmm ... Iya pernah, emangnya kamu tau siapa orang yang udah neror aku waktu itu?"
"Kurang ajar banget si tuh orang. Main lempar-lempar batu ke rumah orang sembarangan, kalau kamu tau orangnya bilang sama aku, bakalan aku injek anunya kayak si pria brengsek kemarin," cerocos Lidya membuat Fajar seketika memegangi pusaka miliknya menelan ludah kasar.
"Eu ... Anu Nona. Sa-ya orangnya, saya benar-benar minta maaf," ucap Fajar sedikit tergagap membuat Lidya seketika merasa terkejut membulatkan bola matanya.
"Apa ...?"
"Hehehe ... Sebenarnya, saya penggemar beratnya Nona Milan, bisa di bilang saya ini penggemar fanatik Nona Milan."
"Seriusan?"
Fajar menganggukkan kepala dengan sedikit cengengesan, merasa malu dan tidak enak sebenarnya.
"Astaga, pantas saja kamu bela-belain datang ke Australia untuk menjemput aku? Ternyata kamu--"
"Saya benar-benar minta maaf, Nona."
__ADS_1
"Hmm ..."
"Tapi Nona. Anu saya jangan di injek ya. Pasti rasanya sakit banget, hiiih ... Ngebayanginnya aja saya ngilu," pinta Fajar terasa merinding di sekujur tubuhnya.
"Hahaha ... Jangan khawatir, aku gak akan lakuin itu ke kamu ko. Berhubung kamu adalah orang yang telah menyelamatkan aku kemarin maka, aku akan memaafkan kamu dengan senang hati Fajar, justru aku sangat berterima kasih. Jika nggak ada kamu mungkin aku udah menjadi mayat di sana, di negeri asing yang sama sekali tidak akan ada orang yang bisa mengenali mayatku jika aku sampai mati di sana,'' ucap Lidya penuh rasa syukur.
"Sama-sama, Nona. Anggap aja itu adalah bentuk permintaan maaf saya sama kamu."
Keduanya pun tersenyum lega.
Seketika, keheningan pun tercipta, baik Lidya maupun Fajar larut dalam lamunannya kini. Lidya merasa tersentuh dengan pengakuan laki-laki yang berusia lebih muda darinya itu. Sementara Fajar, dia merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya.
Fajar pun tersenyum sendiri saat hatinya merasa berbunga-bunga, jantungnya pun terasa berdetak lebih kencang dari biasanya. Apakah dia sedang jatuh cinta? Jatuh cinta kepada Lidya yang notabenenya pernah menjadi simpanan om-om gila seperti yang pernah dia katakan.
Akh ... Entahlah, sepertinya cinta itu memang buta. Karena nyatanya, Fajar benar-benar jatuh cinta kepada wanita yang umurnya lebih tua darinya itu.
Akhirnya, mereka pun sampai di depan rumah Lidya, Fajar pun segera turun dan langsung membukakan pintu mobil untuk Lidya dengan bibir yang tersenyum lebar.
"Mampir dulu yu. Kamu pasti lelah." Tawar Lidya sesaat setelah dirinya keluar dari dalam mobil.
"Hmm ... Kayaknya gak usah deh, saya harus kembali ke studio karena masih banyak pekerjaan di sana,'' tolak Fajar halus.
Sebenarnya, dia pun ingin sekali menerima ajakan Lidya. Tapi, apalah daya pekerjaannya masih menumpuk membuatnya harus menolak ajakan Lidya.
"Ya udah kalau gitu, kamu hati-hati di jalan ya."
"Oke, lain kali saya akan mampir ke sini."
Lidya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis.
Fajar pun masuk kembali ke dalam mobil dan seketika mobil pun berjalan pelan meninggalkan halaman rumahnya lalu melesat membelah jalanan.
Setelah menatap kepergian Fajar, Lidya pun berbalik dan hendak pergi namun, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di tepi jalan lalu seseorang membuka pintu dan menyeretnya masuk ke dalam mobil.
"HEY ... SIAPA KALIAN? LEPASIN AKU ...'' Teriak Lidya namun diabaikan.
Blug ....
__ADS_1
Pintu mobil pun di tutup kencang saat Lidya sudah benar-benar masuk ke dalamnya.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️