Balas Dendam Istri yang Terhina

Balas Dendam Istri yang Terhina
Nyaman


__ADS_3

Milan baru saja hendak memeluk Lidya saat melihat sahabatnya itu berjongkok tepat di depan pagar dengan memeluk kedua lututnya. Namun, tiba-tiba saja Fajar menghempaskan tubuhnya lalu mendahului memeluk Lidya kasar dan dengan hentakan bertenaga. Membuat Milan seketika terkejut lalu menggelengkan kepalanya.


Lidya pun sontak berdiri dan balas memeluk laki-laki itu diiringi dengan suara tangisan yang menggelegar memecah keheningan malam.


"Astaga, Lidya. Kamu baik-baik saja 'kan? Kamu gak terluka 'kan? Kami baru aja akan melaporkan kehilanganmu ke kantor polisi." Lirih Fajar penuh rasa khawatir.


"Aku baik-baik aja, Fajar. Terima kasih karena kamu telah mengkhawatirkan aku, hiks hiks hiks ..." Jawab Lidya mendekap erat tubuh pemuda itu seolah ingin meluapkan kesedihan yang saat ini begitu dalam memenuhi relung hatinya.


Milan yang tidak mau kalah dan ingin segera memeluk Lidya pun seketika mengurai pelukan Fajar secara paksa lalu benar-benar mendekap erat sahabatnya itu lengkap dengan tangisan yang juga terdengar memecah keheningan.


"Syukurlah kamu selamat, Lidya. Si brengsek itu gak ngapa-ngapain kamu 'kan?"


Bukannya menjawab, Lidya kini semakin mengencangkan lingkaran tangannya. Dia mendekap kuat tubuh Milannita membuat wanita itu terasa sesak dan kembali mengurai pelukan.


"Kamu kenapa, Lidya. Sepertinya kamu baik-baik saja. Tapi, kenapa kamu sampai menangis kayak gini? Apa dia melakukan tindakan tidak senonoh sama kamu? Apa dia mem*erkosa kamu, heuh?" Tanya Milan mengusap kedua sisi pipi Lidya merasa khawatir.


"Bisakah kita masuk dulu, aku benar-benar lelah." Jawabnya lirih dan dengan nada suara lemas.


"Iya-iya, kita masuk dulu. Kamu bisa menceritakan semuanya besok, sekarang kamu istirahat aja dulu ya."


Lidya menganggukkan kepalanya masih dengan suara Isak yang sedikit terdengar.


"Biar saya gendong kamu, Lidya. Kamu pasti lelah." Ucap Fajar tanpa basa-basi dan tanpa meminta persetujuan Lidya, dia langsung menggendong tubuhnya dan membawanya masuk ke dalam.


Milan pun hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, sikap Fajar yang begitu manis kepada Lidya membuat hati Milan merasa senang karena akhirnya ada laki-laki yang bersedia menerima wanita ini apa adanya.


Lidya seolah pasrah saat tubuhnya di gendong tanpa persetujuan dirinya, yang ada dia malah melingkarkan kedua tangan di leher pemuda bernama Fajar itu seraya menyandarkan kepala di dada bidangnya dengan mata yang terpejam.

__ADS_1


Hati seorang Lidya benar-benar merasa berkecamuk kini, jiwanya di penuhi dengan perasaan yang sulit di ungkapkan mendapati kenyataan bahwa dirinya adalah seorang pembunuh sekarang.


Apakah dia menyesali perbuatannya?


Tidak ....


Lidya sama sekali tidak menyesal, bak seorang psikopat yang baru saja membunuh seseorang, hatinya merasa begitu lega karena akhirnya bisa melenyapkan orang yang sangat dia benci.


Yang dia khawatirkan adalah, bagaimana caranya dia akan menjelaskan hal ini kepada Milan sahabat baiknya karena walau bagaimanapun Caviar adalah mantan suaminya sendiri.


Ceklek ....


Suara pintu yang di buka membuyarkan lamunan Lidya. Dia pun membuka mata lalu mendongakkan kepalanya menatap wajah Fajar dengan seksama.


Wajah tampan dengan kulit putih, rambut yang sedikit berantakan membuat penampilan Fajar benar-benar terlihat cool. Belum lagi, aroma tubuh yang tercium maskulin dan begitu menenangkan membuat Lidya benar-benar merasa nyaman berada di dalam dekapan hangat pemuda bernama Fajar.


"Langsung ke kamar aja, kayaknya dia butuh istirahat,'' pinta Milan menuntun jalan di depan.


"Kamu istirahat dulu, Lidya," lirih Fajar dengan tatapan lembutnya.


Milan pun menatap wajah Lidya dengan tatapan iba, penampilan wanita itu benar-benar terlihat mengenaskan, padahal sebelumnya Lidya terlihat cetar membahana setelah sama-sama melakukan perawatan diri di salon kecantikan.


Milan pun hendak membuka sepatu yang masih membalut sebelah kaki Lidya, sedangkan satu kakinya lainya tanpa mengenakan sepatu sama sekali.


"Lidya, apa ini?" Tanya Milan menatap bercak darah di permukaan sepatu tersebut.


Wajah Lidya pun seketika terlihat pucat pasi, dia menundukkan kepalanya mengingat saat dirinya menghabisi nyawa Caviar mantan kekasihnya.

__ADS_1


"Ini darah? Apa kaki kamu terluka? Atau, si brengsek itu sempat melakukan kekerasan sama kamu?"


Lidya masih terdiam. Tangannya nampak gemetar begitupun dengan tubuhnya yang kini berkeringat dingin. Dia pun mengigit bibir bawahnya keras mencoba menahan gejolak yang kini memenuhi relung jiwanya.


"Ini bukan darah aku, Mil." Lirihnya masih menundukkan kepalanya.


"Lalu?"


"Ini darah si brengsek itu."


"Maksudnya si brengsek itu, si Caviar?"


Lidya menganggukkan kepalanya masih menunduk lemas.


"Hahaha ... Jadi, kamu berhasil ngehajar dia? Waah ... Kamu benar-benar hebat, Lidya. Mampus kamu Caviar, kamu memang pantas di hajar. Sekarang dia pasti lagi kesakitan banget tuh?" Tawa Milan belum tahu tentang hal yang sebenarnya.


"Dia udah gak kesakitan lagi, Mil?"


"Hah? Maksud kamu? Apa kamu kurang keras ngehajar dia? Seharusnya kamu tendang juga tuh pusaka milik si brengsek bajingan itu sampai pingsan sekalian."


"Dia emang pingsan."


"Nah 'kan? Kamu benar-benar luar biasa, aku salut sama kamu. Aku aja gak mungkin bisa seberani kamu, pokoknya the best deh. Aku yakin burungnya dia gak bakalan bangun lagi selamanya, biar dia imp*ten sekalian, hahahaha ...'' Tawa Milan lagi merasa puas.


"Bukan hanya burungnya saja yang gak akan bangun lagi, tapi--"


"Tapi--?''

__ADS_1


"Tubuhnya pun gak akan pernah bangun lagi, Milan. Mantan suami kamu, mantan kekasih aku juga, dia-- dia-- sudah mati." Jawab Lidya membuat semua yang ada di sana seketika membulatkan bola matanya merasa terkejut.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2