Balas Dendam Istri yang Terhina

Balas Dendam Istri yang Terhina
Mencari


__ADS_3

Milannita merasa ada yang aneh dengan sikap Caviar yang terlihat begitu tenang dan seolah menerima begitu saja keputusan yang telah dia buat. Dia pun menatap segelas anggur merah yang saat ini diberikan kepadanya dan meminta untuk segera diminum membuat Milannita semakin merasa curiga.


Tidak ingin masuk kedalam jebakan yang sedang disiapkan oleh Caviar, Milan pun dengan sengaja menumpahkan minuman tersebut bahkan, dia menumpahkan minuman itu tepat di kemeja berwarna putih milik Caviar sehingga putihnya kemeja kini berubah menjadi merah terang membuat Caviar yang saat ini sedang berjongkok tepat di hadapannya sontak berdiri merasa kesal.


"Astaga, maaf. Aku gak sengaja," ucap Milan penuh penyesalan.


"Aduh, kamu gimana si? Kemeja aku jadi kotor 'kan?" Gerutu Caviar kesal.


"Maaf, lagian kamu ngasih gelasnya buru-buru si jadinya tumpah 'kan? Santai aja kali, aku juga pasti minum ko." Ucap Milan bangkit dan membersihkan sisa anggur yang kini membasahi kemeja Caviar dengan telapak tangannya.


"Udah gak usah dibersihin. Aku mandi dulu, kamu diam di sini jangan kemana-mana, oke sayang."


Milan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.


Caviar pun berjalan ke arah tangga lalu naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Milan pun menggunakan kesempatan itu untuk mencari keberadaan Lydia. Dia segera berjalan lebih masuk lagi ke dalam Villa setelah memastikan terlebih dahulu bahwa, Caviar sudah benar-benar berada di lantai dua.


Dengan tatapan waspada, Milan pun menyisir setiap ruangan yang ada di dalam Villa tersebut. Ukuran Villa yang lumayan luas membuatnya sedikit kesulitan untuk mencari gudang dimana Lydia berada membuatnya harus membuka satu persatu pintu yang tertutup dan berharap bahwa pintu yang dia buka adalah gudang.


"Lydia?" Milan memanggil nama Lydia dengan suara yang sedikit pelan seraya membuka pintu.


"Kosong." Gumamnya setelah pintu tersebut terbuka, lalu dia pun kembali menutup pintu tersebut.


Milan pun kembali berjalan ke belakang dan kembali membuka pintu namun, hasilnya masih tetap sama Lydia tidak ada di sana membuat Milan semakin khawatir karena waktu yang dia punya tidaklah banyak.


"Ya Tuhan, berilah hamba mu ini petunjuk." Gumamnya lagi.


Kini, Milan memasuki area paling belakang Villa tersebut, matanya tertuju pada ruangan yang ada di luar Villa tepat di samping kolam renang dengan pintu yang tertutup rapat. Entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa di sanalah Lydia berada karena tinggal ruangan itu saja yang belum dia periksa.


Dengan langkah kaki pelan namun, sedikit tergesa-gesa dia pun menghampiri ruangan tersebut dengan tatapan mata menatap sekeliling memastikan bahwa Caviar tidak melihat dirinya.

__ADS_1


Tok ... Tok ... Tok ....


"Lydia, apalah kamu ada di dalam?" Milan dengan setengah berbisik seraya mencoba membuka pintu yang kini terkunci membuatnya semakin yakin.


"Lydia, ini aku Milan." Ucapnya lagi.


"Milan?" Terdengar suara lemah Lydia dari dalam sana.


"Iya, ini aku. Kamu baik-baik aja 'kan?"


"Tolong aku, Mil. Suamimu akan membunuh aku, aku takut."


"Iya, Lydia. Aku akan menolong kamu, itu sebabnya aku ada di sini sekarang. Tapi, pintunya dikunci, aku gak tau kuncinya dimana?"


"Coba kamu cari kuncinya di sebelah kanan ruangan ini, di sana biasanya suamimu menyimpan semua kunci," sayup-sayup terdengar suara Lydia lagi masih dengan nada suara lemah.


Milan pun mengikuti petunjuk Lydia, dia berjalan ke arah samping gudang lalu menatap sekeliling dan akhirnya menemukan gantungan kunci yang sudah terdapat beberapa kunci tergantung di sana membuatnya sedikit kesulitan mencari kunci yang dimaksud.


Akhirnya dia memutuskan untuk mengambil semua kunci dan akan mencobanya satu-persatu.


"Semoga aku masih punya banyak waktu sampai Caviar selesai mandi," gumamnya lagi.


"MILANNITA SAYANG, KAMU DIMANA?" Tiba-tiba terdengar suara Bas Caviar menggema di dalam Villa memanggil namanya membuat Milan terkejut dan menjatuhkan kunci yang sudah berada di dalam genggamannya.


Dia pun berjalan tergesa-gesa keluar dari area kolam namun, Caviar sudah sampai terlebih dahulu di sana dan menghalangi langkah kakinya kini.


"Lagi ngapain kamu di sini?" Tanya Caviar menatap wajah Milan lalu mengalihkan pandangannya ke arah gudang.


"Eu ... Anu, mas. Tadi di dalam gerah banget, makannya aku keluar buat cari udara segar," jawab Milan terbata-bata dan terlihat gugup membuat Caviar merasa curiga.

__ADS_1


"Beneran kamu gak bohong?"


"Nggak, Mas. Aku gak bohong ko, liat aku aja sampai keringatan gini."


"Hmm ... Apa kamu mau kita berendam di kolam? Airnya sejuk lho."


"Oh, gak usah, Mas. Kamu 'kan baru saja mandi." Jawab Milan masih dengan suara gugupnya.


Caviar masih menatap wajah Milan dengan perasaan curiga, kemudian tatapan matanya beralih kearah tempat dimana dia menyimpan kunci dan tersenyum seketika saat mendapati kunci tersebut sudah tergeletak di atas lantai.


"Hahaha ... Jadi kamu udah tau kalau Lydia ada di sini juga?" Tanya Caviar merubah raut wajahnya menjadi masam dengan senyum menyeringai layaknya seorang psikopat yang telah diketahui jati dirinya.


"Mas ... Lepaskan Lydia sekarang juga. Bukannya kamu mencintai dia?" Pinta Milan penuh penekanan.


"Cinta ... Hahahaha ... Cuma kamu wanita yang aku cintai, sayang."


"Bohong, kalau kamu cinta sama aku, kenapa kamu selingkuh sama dia, hah?" Teriak Milan geram.


"ITU KARENA KAMU TIDAK BISA MELAYANI AKU DENGAN BAIK, KAMU SELALU SIBUK, SIBUK DAN SIBUK," teriak Caviar geram berjalan maju membuat Milan sontak memundurkan langkah kakinya seiringan dengan langkah kaki Caviar yang kini semakin mendekat.


"LALU KENAPA SEKARANG KAMU MENYEKAP DIA DAN MENGANCAM AKAN MEMBUNUHNYA SEGALA? SEHARUSNYA KAMU NIKAHI DIA SETELAH KAMU RESMI BERCERAI DENGAN AKU?''


"Kamu salah, sayang. Aku gak akan pernah mau bercerai dari kamu. Apapun yang terjadi kamu akan menjadi milikku. Sedangkan dia, wanita bernama Lydia itu akan mati membusuk di dalam sana karena dia telah menghancurkan hidup aku bahkan perusahaan yang aku bangun terancam bangkrut sekarang."


"Jadi sayang. Aku gak mau kehilangan kamu juga, karena sekarang kamu udah ada di sini, aku mau tanya sama kamu. Apakah kamu mau bergabung sama Lydia di sana dan membusuk jadi mayat atau, kamu cabut gugatan cerai kita di pengadilan dan kembali sama aku." Ancam Caviar yang saat ini sudah berada tepat di depan Milan yang sudah bersandar tembok dan juga tidak ada jalan lagi baginya untuk lari kemanapun.


"Cuihhh ... aku gak sudi cabut gugatan cerai aku. Lebih baik aku mati daripada punya suami bajingan psikopat kayak kamu, Caviar." Teriak Milan yang sukses menyulut api emosi di dalam jiwa Caviar.


"Baiklah jika itu keputusan kamu," Caviar meraih tubuh Milan secara paksa dan membopongnya di pundak lebar miliknya lalu berjalan masuk ke dalam Villa dan membawa tubuh Milan yang saat ini berteriak kencang seraya menggerakkan seluruh tubuhnya sedemikan rupa itu naik ke lantai empat dimana kamarnya berada.

__ADS_1


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


__ADS_2