Balas Dendam Istri yang Terhina

Balas Dendam Istri yang Terhina
Kembali ke Kota.


__ADS_3

"Sebenarnya aku merasa tertekan tinggal di sini, Ze. Aku gak bisa tinggal di desa dan hidup sebagai wanita bisa, Maaf.'' Lirih Milan menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Hmm ... Kamu gak salah, sayang. Saya yang salah karena terlalu memaksakan kehendak saya sendiri tanpa memikirkan perasaan kamu, saya minta maaf, istriku.'' Zergo dengan mata yang berkaca-kaca meraih tubuh istrinya yang saat ini sedang berbaring di atas ranjang lalu memeluknya erat.


Milan pun balas memeluk tubuh suaminya, dia pun menangis di dalam dekapan sang suami seolah memuntahkan kesedihan yang selama ini sudah dia tahan.


"Sayang, apa kamu mau kita kembali ke kota? Kita tinggal di rumah kamu, tapi--" Zergo tidak meneruskan ucapannya lalu mengurai pelukan.


"Tapi kenapa, Ze?"


"Kalau di sana, saya gak tau harus berkerja apa? Saya gak punya keahlian apapun. Saya hanya bisa berkebun. Sedangkan, saya gak mau jadi suami yang gak bertanggung jawab, yang tidak bisa menafkahi istrinya. Saya gak mau di pandang sebagai suami kayak gitu,'' lirih Zergo menunduk sedih.


"Hey, aku punya banyak uang. Kamu gak perlu bekerja di sana, kita hanya perlu bersenang-senang, menjalani rumah tangga yang bahagia, berdua.''


"Tapi tetap saja. Saya gak mau hidup sebagai benalu yang menumpang hidup sama istrinya."


Milan terdiam menatap wajah suaminya yang terlihat begitu serius, rahangnya semakin terlihat tegas, guratan ketampanan dengan kulit sawo matang membuat wajah suaminya itu terlihat begitu tampan berwibawa.


"Meskipun kamu punya banyak uang. Meskipun kita hidup serba berkecukupan di sana, tapi tetap saja saya harus memberi kamu nafkah lahir, karena itu adalah kewajiban saya sebagai seorang suami. Meskipun tidak bisa dalam jumlah yang banyak, tapi setidaknya saya udah menjalankan kewajiban saya." Ucap Zergo lembut tapi penuh penekanan.


Seketika Milan pun langsung memeluk tubuh suaminya, dia merasa beruntung memilik suami yang bertanggung jawab seperti Zergo. Jujur saja, Milan sama sekali tidak butuh harta dan nafkah lahir yang tadi sebutkan oleh suaminya, yang dibutuhkan Milan saat ini adalah cinta, kasih sayang, dan kesetiaan dari suaminya itu.


Tapi, Milan sungguh terharu dengan apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya. Semakin cinta dan semakin sayang Milan kepada suaminya dan semakin tidak ingin dia melepaskan Zergo apapun yang terjadi.


"Aku sayang sama kamu, Ze?" Lirih Milan lembut memejamkan mata di dalam dekapan suaminya.

__ADS_1


"Iya, saya tau."


"Aku cinta kamu, suamiku."


"Iya, saya juga tau, sayang."


"Aku gak ingin kehilangan kamu, Zeze ku sayang."


"Iya, saya juga sama tapi, bukan itu yang sedang kita bahas sekarang, cintaku ... Istriku ..." Jawab Zergo mengurai pelukan lalu menatap wajah Milannita sang istri seraya tersenyum kecil.


"Bahas itunya nanti lagi ya, kepala aku pusing mikirnya. Beri istrimu ini kehangatan, Zeze. Kamu, pagi-pagi buta udah berangkat aja, gak tau apa kalau istri kamu ini kedinginan,'' rengek Milan dengan suara manjanya.


"Uhuk ... Kamu ini. Orang lagi serius juga malah bercanda kayak gini."


"Hahaha ... Astaga, Milannita. Kamu ini ..."


"Kenapa?"


"Nggak, nggak apa-apa. Oke, kalau kamu butuh kehangatan, aku akan siap memberikan kehangatan buat kamu istriku," jawab Zergo tersenyum senang, langsung membuka pakaian yang dia kenakan tanpa diminta dan tanpa aba-aba, membuat Milan seketika membulatkan bola matanya dengan mulut sedikit di buka.


"Amazing, honey. Aku suka, aku suka." Ucap Milan tersenyum gembira lalu langsung menyambar tubuh polos suaminya.


♥️♥️


Sementara itu jauh di sana. Di dalam sel polisi, Caviar nampak sedang berbincang dengan pengacaranya. Meskipun karirnya sebagai pengusaha telah hancur tapi, dia masih memiliki banyak uang karena memang pada dasarnya Caviar terlahir dari keluarga kaya raya.

__ADS_1


"Gimana? Apa pengajuan banding aku di terima?" Tanya Caviar menatap tajam wajah pengacaranya.


"Belum ada keputusan pasti. Pengajuan banding kita masih dipertimbangkan oleh majelis hakim. Tuan sabar dulu ya," jawab pengacara tersebut.


"Haaah ... Sabar katamu? Aku sudah berada di di sini selama hampir setengah tahun, kurang sabar apa lagi aku. Lagipula, aku udah bayar kamu dengan bayaran yang cukup besar, masa kerja gitu aja gak becus? Mau saya pecat kamu, hah ...?" Teriak Caviar murka.


"Tapi saya gak bisa berbuat apa-apa, Tuan. Prihal penangguhan penahanan Tuan, sepenuhnya diputuskan oleh majelis Hakim."


"Kamu sogok hakim itu, berapapun akan aku bayar. Kalau perlu semua hakim yang duduk di sana kamu kasih duit, berapapun mereka minat kamu bilang sama aku. Meskipun perusahaan aku udah bangkrut, aku masih punya banyak duit, asal kamu tau itu.''


"Baik, Tuan. Saya akan menemui mereka secara pribadi," jawab Pengacara tersebut penuh percaya diri.


"Kamu hubungi orang kepercayaan aku, namanya Mark, dia akan memberikan uang yang kamu butuhkan buat nyogok para hakim si*lan itu."


"Baik, Tuan. Saya permisi sekarang." Pamit sang pengacara lalu bangkit dan hendak pergi.


"Tunggu, Pak Afgan."


Pengacara bernama Afgan itu pun menghentikan langkah kakinya.


''Lakukan pekerjaan kamu dengan baik. Ingat, aku udah bayar kamu mahal-mahal. Jangan biarkan aku menunggu terlalu lama lagi, aku bosan di dalam sini," pinta Caviar penuh penekanan.


"Baik, Tuan. Saya usahan akan mengeluarkan anda dari sini secepatnya," jawab sang pengacara lalu benar-benar pergi dari hadapan Caviar.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


__ADS_2