
Lidya dan Fajar seketika merasa terkejut saat Milan menyebut kata polisi, matanya nampak membulat sempurna dengan wajah yang terlihat pucat pasi, tubuhnya pun terasa bergetar kini.
Apa ini akhir dari segalanya? Akhir dari perjalanan hidupnya dan harus mendekam di penjara? Apakah ini akhir dari perjalanan cintanya yang baru saja akan dia mulai bersama laki-laki bernama Fajar yang telah dia puaskan semalaman?
Akh ....
Lidya hanya bisa menghembuskan napasnya kasar seraya mengusap wajahnya sendiri. Mencoba membenahi dan mempersiapkan diri untuk memulai hidup barunya sebagai narapidana atas kasus pembunuhan.
"Lidya, dengarkan aku. Kami akan menyiapkan pengacara yang hebat buat kamu agar hukuman kamu bisa lebih ringan. Kamu bilang saja sama polisi kalau kamu membunuh Caviar untuk melindungi diri kamu karena laki-laki itu berusaha melakukan pelecehan s*ksual, bilang saja kalau kamu di perk*sa sama dia,'' tegas Fajar meletakan kedua telapak tangannya di kedua sisi bahu Lidya seraya menatap wajahnya tajam.
"Fajar?"
"Kenapa? Emang kenyataannya seperti itu 'kan? Kamu memang terpaksa membunuhnya karena kamu ingin melindungi diri kamu sendiri?"
"Tidak bukan itu?"
"Maksudnya?" Fajar mengerutkan kening tidak mengerti.
Grep ....
__ADS_1
Lidya seketika memeluk tubuh Fajar erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang pemuda itu seraya menangis sesenggukan.
"Kamu jangan khawatir, aku jamin hukuman kamu gak akan lebih dari 10 tahun. Karena pria itu memang pantas untuk mati."
Lidya menggelangkan kepalanya dengan tangis yang semakin menggelegar.
"Aku gak mau pisah dari kamu. Aku pikir aku bisa kuat dan akan sanggup hidup tanpa kamu. Tapi nyatanya, aku gak bisa. Aku gak mau ikut ke sana, aku maunya sama kamu, hiks hiks hiks ..." Lirih Lidya semakin mempererat pelukannya membuat Fajar seketika membalas pelukan Lidya lalu tersenyum tegar di tengah perasaannya yang sebenarnya juga hancur.
"Aku juga berat melepaskan kamu, sayang. Aku gak ingin berpisah dengan kamu sebenarnya, tapi harus gimana lagi."
"Lidya, benar kata Fajar. Kalau kamu tidak menyerahkan diri, hukuman kamu akan semakin berat. Aku janji akan membantu kamu sebisa mungkin, aku akan menyiapkan pengacara terbaik buat kamu." Milan ikut menenangkan.
Akhirnya, Lidya pun mulai mengurai pelukan. Dia menatap wajah Fajar dengan tatapan mata penuh dengan kesedihan lengkap dengan buliran air mata yang mengalir begitu derasnya.
"Iya, sayang. Aku janji gak bakalan berpaling dari kamu. Aku juga janji akan menunggu kamu sampai kamu keluar dari dalam penjara dan akan menikahi dengan kamu segera setelah kamu bebas nanti,'' jawab Fajar balas menatap wajah Lidya mencoba meyakinkan.
"Janji?"
"Iya, sayang. Aku janji ... Muach ..." Jawabnya lagi mengecup tipis bibir Lidya.
__ADS_1
"Sekarang kita keluar ya. Polisi udah nungguin di luar." Pinta Milan merasa berat sebenarnya, akan tetapi tidak ada cara lain lagi selain menyerahkan diri dan mengakui perbuatannya agar hukuman yang diterima Lidya tidak terlalu berat nantinya.
Dengan perasaan berat, Lidya pun keluar dari dalam kamar dengan tangan yang masih menggenggam erat pergelangan yang Fajar sampai akhirnya dia pun benar-benar menghadap polisi yang sudah menunggu kedatangannya.
Zergo yang sedang menemani polisi tersebut pun segera berdiri dan menyambut kedatangan Lidya dengan perasaan sedih.
"Nona Lidya, anda kami tahan atas tuduhan pembunuhan terhadap laki-laki bernama Caviar Klan yang ditemukan di Villa miliknya." Ucap Polisi tersebut seketika langsung melingkarkan borgol di kedua pergelangan tangan Lidya.
Lidya pun hanya pasrah dengan tubuh yang terasa lemah, dan tatapan kosong mengarah ke depan mengikuti langkah kaki polisi tersebut. Tubuhnya pun langsung dimasukkan kedalam mobil siap untuk menerima hukuman.
Milan seketika langsung memeluk tubuh suaminya dengan tangis yang mulai pecah menatap tubuh Lidya yang mulai menghilang di balik pintu mobil.
Ada rasa lega yang tiba-tiba saja terselip di lubuk hati Milan yang paling dalam. Rasa sesak pun menghampiri secara bersamaan karena harus berpisah dengan sahabatnya sendiri.
Sesaat, bayangan-bayangan masa lalu pun singgah di otak kecilnya. Bayangan saat dirinya di sunting oleh Caviar, bayangan saat laki-laki itu sedang bercumbu di kamar pribadinya, dan bayangan tentang kebersamaan dirinya bersama Lidya dan betapa dia sangat membenci wanita itu karena telah menghancurkan rumah tangganya bernama laki-laki bermana Caviar yang kini telah mati ditangan selingkuhannya sendiri.
Apakah ini karma? Baik Caviar maupun Lidya mendapatkan hukuman yang setimpal karena telah menyakiti hati Milannita sedemikan rupa? Apakah ini hukuman yang pantas diterima oleh Caviar dan Lidya karena telah berani mengkhianati dirinya kala itu?
Akh entahlah, Milan pun akhirnya dapat mengakhiri dendamnya kepada mantan suaminya, meskipun bukan dia yang telah membunuh laki-laki itu. Tapi, Milan merasa dendamnya benar-benar telah terbalaskan kini
__ADS_1
Balas dendamnya sebagai seorang istri yang terhina telah terbayar lunas oleh Lidya sendiri, wanita yang pernah menjadi selingkuhan mantan suaminya.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️