Balas Dendam Istri yang Terhina

Balas Dendam Istri yang Terhina
Artis Turun Panggung


__ADS_3

"Maaf, ken. Aku udah punya istri jadi, aku gak bisa ngambil keputusan sendiri. Aku harus bicarakan dulu hal ini sama istriku," jawab Zergo setelah mendengar permintaan sepupunya tersebut.


"Hmm ... Oke, aku akan menunggu kamu. Aku liat istrimu juga wanita yang baik, aku yakin dia gak akan merasa keberatan kalau aku tinggal di sini, lagian ini cuma sementara ko," ucap Ken lagi sedikit memaksa.


"Sebentar ya, aku kebelakang dulu. Aku akan coba bicara sama dia."


Ken menganggukkan kepalanya.


Milan pun segera beranjak dari balik pintu, dia akan pura-pura tidak mendengar apa yang baru saja dibicarakan oleh suaminya dengan laki-laki bermana Ken itu.


"Sayang, kamu di mana?" Tanya Zergo masuk ke area ruang makan.


"Iya, aku di sini."


"Hmm ... Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu."


"Apa, bicara aja."


"Begini, sepupu aku itu baru saja kehilangan semua harta bahkan rumahnya pun di sita oleh pihak bank."


"Lalu?"


"Boleh nggak kalau dia tinggal dengan kita di sini untuk sementara?"


"Terserah kamu," jawab Milan datar, berharap kalau suaminya itu akan menolak permintaan sepupunya itu.


"Gak apa-apa ya kalau dia tinggal di sini? Sementara aja ko."


Milan hanya terdiam.


"Diam kamu, aku anggap tanda setuju, makasih ya sayang," ucap Zwego tersenyum senang.


Sementara Milan, dia merasa kecewa dengan keputusan suaminya. Dia pun menyesal karena telah memberi jawaban diam, dan diamnya itu di nggak sebuah persetujuan oleh suaminya.


"Ze," lirih Milan menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Iya, sayang. Bicaranya nanti ya, aku mau bilang dulu sama Ken kalau dia boleh tinggal di sini," jawab Zergo berbalik dan berjalan kembali ke tempat dimana Ken berada membuat Milan merasa kecewa.


♥️♥️


Keesokan harinya.


Seperti biasanya, dengan perasaan malas. Milan bangun saat matahari masih malu-malu menunjukkan sinarnya di ufuk timur. Dia pun segera ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya sebelum Zergo berangkat ke perkebunan.


Roti bakar dengan selai cokelat pun menjadi menu pagi ini dan semua itu sudah tersaji di atas meja. Tidak lupa dia pun menambahkan satu porsi lagi untuk tamu tidak diundang yang dalam beberapa hari ini akan menumpang di rumah sederhananya.


"Wah, ternyata artis kayak kamu bisa nyiapain sarapan juga ya?" Suara Ken tiba-tiba terdengar di belakang telinganya.


"Kamu? Sejak kapan kamu berdiri di sini?" Tanya Milan mengurai jarak yang saat ini berada sangat dekat dengan laki-laki bernama Ken itu.


"Sejak tadi, kamu terlalu serius sampai-sampai kamu gak sadar kalau aku ada di sini," ucap Ken menatap lekat tubuh Milan dari ujung kaki hingga ujung rambut membuat Milan merasa tidak nyaman.


"Mau sampai kapan kamu tinggal di sini? Aku saranin sih jangan lama-lama, rumah ini udah terlalu sempit buat di tinggali bertiga sama kamu," ketus Milan dengan wajah datar.


"Hmm ... Aku pikir kamu itu ramah. Waktu aku liat di Televisi kayaknya kamu itu baik, senyum terus. Ternyata aslinya kamu itu judes, gak ramah pula," jawab Ken masih menelisik tubuh Milan lekat seolah tanpa berkedip sedikitpun.


"Hey, Milan. Jangan sombong ya. Aku tau artis-artis kayak kamu tak ada bedanya dengan wanita jal*ng yang rela menjual tubuhnya demi mendapatkan uang. Jadi jangan so baik di depan saya,'' ketus Ken semakin mendekat ke arah Milan.


"Mau ngapain kamu? Jangan berani macam-macam sama aku ya." Tanya Milan yang sontak berjalan mundur mengikuti gerakan langkah kaki Ken yang saat ini semakin mendekatinya.


"Apa? Aku sudah bilang tadi. Jangan so suci, di film yang aku tonton kamu berani lakukan adegan ranjang, boleh dong aku mencicipi tubuh kamu yang aduhai ini," lirih Ken dengan tatapan mesuum menggoda.


Plak ....


Satu tamparan mendarat keras di pipi Ken, membuat laki-laki itu seketika membulatkan bola matanya merasa murka.


"Dasar kurang ajar. Aku tau kalau kamu itu cuma wanita murahan, artis yang udah turun panggung kayak kamu gak ada bedanya dengan barang bekas yang bebas di sentuh oleh siapapun," tegas Ken lalu menciumi wajah Milan dengan membabi buta membuat Milan seketika berteriak kencang.


"BRENGSEK, LEPASIN AKU BAJINGAN ..." teriak Milan merasa geram.


Bukannya menuruti keinginan Milan yang memintanya untuk diam, Ken malah semakin membabi buta, dia menarik paksa pakaian yang dikenakan oleh Milan hingga bagian dalam tubuhnya terekspos sempurna.

__ADS_1


Ken pun kembali menyambar tubuh Milan dengan perasaan yang menggebu-gebu dan napas yang terdengar memburu terasa menyapu permukaan kulit wajah seorang Milannita yang saat ini terus berontak dengan sekuat tenaga yang dia miliki.


"ZERGO ..." teriak Milan memanggil suaminya.


"Suami kamu gak ada, Milan. Dia udah berangkat ke perkebunan pagi-pagi buta." Teriak Ken semakin menciumi wajah Milan buas.


"ZERGOOOO ...'' teriaknya lagi tidak menyerah.


"PERCUMA, PERCUMA KAMU TERIAK-TERIAK MANGGIL ZERGO, DIA GAK ADA DI SINI HAHAHA ..." Ken balas berteriak kencang seraya tertawa terbahak-bahak, namun suara tawanya itu hanya berlangsung sebentar karena tubuhnya kini di tarik oleh seseorang, kemudian ....


Bruk ....


Plak ....


Brak ....


Zergo memukulinya secara habis-habisan dan membabi buta membuatnya terkejut dan tersungkur di atas lantai dengan bersimbah darah.


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


***Promosi Novel.


Judul : Ketulusan Cinta Aluna


Karya : Author Febyanti


Blurb.


Aluna diagnosis alzheimer, suatu penyakit yang mampu menghapus memori hingga berakhir pada kematian. Di saat raga tak mampu lagi bertahan, Aluna dipertemukan dengan seorang pria bernama Iskhandar. Gadis itu jatuh cinta pada pandangan pertama.


Namun, Iskhandar tak mencintainya. Dia terpaksa menikahi Aluna. Iskhandar merasa terhina karena dirinya orang tak berpunya. Semua bisa didapatkan karena uang, dan Iskhandar merasa cinta itu tak seharusnya ada. Cinta tak bisa dibeli, tanpa ia tahu bahwa Aluna tulus mencintainya. Sampai Aluna rela hidup susah hanya demi cinta.


Apakah Aluna berhasil meraih cinta Iskhandar? Apa dia berhasil mendapatkan kebahagiaan di sisa umurnya***?


__ADS_1


__ADS_2