
Milan mengedipkan matanya secara perlahan, mencoba menarik pelupuknya pelan meski kelopak matanya itu masih terasa berat dengan tubuh lemas. Dia pun merasakan jemarinya digenggam erat oleh seseorang, genggaman hangat dengan telapak tangan sedikit kasar.
Mata Milan pun akhirnya terbuka sempurna, dia menatap sekeliling ruangan dan menyadari bahwa dia telah berada di Rumah Sakit lengkap dengan tubuh yang berbalut pakaian pasien bewarna biru muda.
"Sayang, kamu udah bangun?" Tanya Zergo menatap dengan tersenyum wajah Milan yang saat ini tersadar.
"Dimana aku? Apa aku ada di ruang sakit? Lyidia mana? Si brengsek itu juga dimana? Apa dia sudah di bawa ke kantor polisi?" Tanya Milan bertubi-tubi membuat Zergo tersenyum kecil.
"Sayang, nanya'nya satu-satu dong. Ingat, tubuh kamu masih lemas mungkin karena kamu kelelahan."
"Jawab dulu pertanyaan aku? Apa Lydia selamat?"
"Aku di sini, Milan." Terdengar suara Lydia berjalan mendekat dengan memakai pakaian yang sama dengan dirinya.
"Lydia? Kamu beneran selamat?"
"Tentu saja. Berkat kalian berdua aku bisa selamat dan aku sangat berterima kasih sama kalian. Aku benar-benar gak nyangka kalau kamu dan Zergo akan datang untuk menyelamatkan aku. Hiks hiks hiks ..." Tangis Lydia seketika pecah dihadapan Milan dan juga Zergo.
"Aku benar-benar minta maaf sama kamu, Mil. Aku menyesali semua yang telah aku lakukan. Aku memang wanita jahat, aku tega mengkhianati kamu dan telah menjadi selingkuhan suamimu selama dua tahun. Aku menyesali semua perbuatan aku, Mil. Sungguh ...'' ucapnya lagi lirih dan penuh penyesalan.
Milan pun tersenyum menatap wajah Lydia yang kini berurai air mata. Dia bisa melihat ketulusan dari mata Lydia, air mata yang saat ini mengalir dengan begitu derasnya membasahi wajah pucat Lyidia sepertinya mampu menyentuh titik terdalam hati seorang Milannita. Dia pun meraih pergelangan tangan Lydia dan menggenggamnya erat kini.
"Lydia, setiap orang punya kesalahan. Aku tau kamu udah menyesali semua perbuatan kamu selama ini. Meski sakit pada awalnya tapi, sekarang aku sangat bersyukur karena aku jadi tau siapa suami aku yang sebenarnya." Lirih Milan menatap lekat wajah Lydia.
"Kamu benar-benar baik, Milan. Tapi, karena perbuatan aku, karir kamu hancur sekarang. Karir yang selama ini kamu bangun dengan susah payah runtuh begitu saya karena perbuatan aku, Mil. Aku benar-benar minta maaf. Hiks hiks hiks ..."
"Gak apa-apa, toh aku udah lelah menjalani hidup aku sebagai seorang artis. Aku juga lelah hidup dalam lingkungan dimana aku tak bisa bebas kemanapun dan melakukan apapun. Aku ingin memulai hidup bagi di desa bersama dia, aku ingin merasakan hidup sebagai wanita biasa, menghabiskan waktu di rumah sebagai seorang istri dan juga aku ingin membantu dia mengelola perkebunan buah milik Zeze di kampung,'' jawab Milan mengalihkan pandangannya menatap wajah Zergo dengan tatapan penuh rasa cinta.
"Kamu serius? Kalian akan segera menikah dan kamu juga akan ikut Zergo ke desa?" Tanya Lydia merasa tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.
__ADS_1
"Iya, Lydia. Aku lelah tinggal di kota dan menjadi artis yang setiap harinya selalu dikejar-kejar sama wartawan. Aku ingin hidup tenang, tanpa wartawan, tanpa jadwal syuting yang padat dan aku gak perlu lagi dengerin ocehan kamu yang setiap harinya memberitahukan jadwal syuting yang harus aku lakukan."
Lydia seketika tersenyum mendengar alasan Milan.
"Apa selama ini aku terlalu cerewet?"
"Sangat, kamu sangat cerewet sampai-sampai aku jengah dan sirih setiap kali kamu ngoceh."
"Hahaha ... Aku gak tau kalau kamu ngerasa kayak gitu. Milan, dimanapun kamu berada, aku berharap kamu bahagia bersama laki-laki yang kamu cintai ini, dan sepertinya aku pun akan pindah keluar negeri, aku juga ingin memulai hidup baru di sana," lirih Lydia dengan sedikit tersenyum.
"O ya? Kemana kamu akan pindah?"
"Entahlah, aku masih memikirkan negara yang cocok yang akan aku jadikan tempat tujuan. Sekali lagi aku minta maaf, Milan. Aku benar-benar minta dan menyesal karena telah menghancurkan rumah tanggamu dan juga karir kamu." Lirih Lydia tulus dan penuh penyesalan.
"Aku maafin kamu, Lydia. Mari kita tutup masa lalu dan membuka lembaran baru. Semua kesalahan kamu aku maafkan dan aku juga berharap gak ada dendam lagi diantara kita." Jawab Milan tulus seraya mengusap punggung tangan Lydia.
♥️♥️♥️
Setelah proses perceraian Milan dengan Caviar selesai dan hakim pun mengetuk palu tanda gugatan yang dilayangkan oleh Milannita dikabulkan, Milan kini resmi menyandang statusnya sebagai janda.
Hal itu benar-benar membuat Zergo merasa senang begitupun dengan Milan yang merasa beban yang selama ini menghimpit dadanya hilang.
Tidak menunggu waktu lama, tiga bulan setelah perceraian itu Zergo pun segera menikahi Milannita, sesuatu yang sangat-sangat tidak disangka oleh Zergo karena ucapannya waktu itu menjadi kenyataan kini.
Dirinya yang pernah mengatakan bahwa akan menikah jika wanita bernama Milan itu sudah menjadi janda benar-benar dikabulkan Tuhan. Jika ada yang mengatakan bahwa, ucapan adalah doa, itu adalah benar adanya. Zergo merasakan dan menjalaninya sendiri bahwa apa yang dia ucapkan benar-benar terjadi padanya saat ini.
Milan pun menepati janjinya untuk ikut bersama Zergo, laki-laki yang telah menikahinya itu untuk pindah ke desa dan menjalani hari-harinya sebagai wanita biasa, istri dari laki-laki pemilik perkebunan buah.
Hari ini, mereka berdua baru saja sampai di desa dimana rumah sederhana Zergo berada. Rumah kecil yang entah mengapa rumah yang sangat dia rindukan.
__ADS_1
Milan pun berjalan dengan menggandeng tangan suaminya erat, berjalan di gang kecil menuju rumah Zergo yang berada di depan sana.
"Hmm ... Aku udah gak sabar pengen cepet-cepet istirahat," lirih Milan dengan wajah letih'nya setelah menempuh perjalanan jauh.
"Apa kamu lelah?"
"Banget, aku lelah banget, sayang."
"Mau aku gendong?"
"Kalau kamu gendong aku, nanti koper kita gimana bawanya?"
"Hmm ... Gampang ini mah. Aku kuat ko, aku bisa gendong kamu sekaligus bawa kopernya juga," jawab Zergo dengan koper berukuran besar di tangannya.
"Nggak usah. Aku tau kamu kuat tapi, aku masih bisa jalan sendiri ko." Jawab Milan semakin menggenggam erat jemari Zergo.
"Oke kalau gitu, nanti di rumah aku janji bakalan pijitin kaki kamu."
"Pijit plus-plus ya!" Milan sedikit cengengesan.
"Uhuk ... Boleh, aku bakalan pijit kamu plus-plus," jawab Zergo tersenyum senang.
"Oke," ucap Milan segera berlari dengan menarik pergelangan tangan Zergo seolah sudah tidak sabar ingin segera mendapatkan pijit plus-plus yang dijanjikan oleh laki-laki yang telah sah menjadi suaminya itu.
"Sayang, tadi katanya kamu lelah?" Tanya Zergo mengikuti gerakan kaki istrinya yang kini berlari.
"Aku udah gak sabar pengen di pijit plus-plus sama kamu, sayang." Jawab Milan sedikit berteriak dan semakin mempercepat langkah kakinya membuat Zergo seketika tertawa lepas.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1