
Pov dini
"Hehehe Pasti kamu nggak percaya ya" ucapnya sambil tersenyum.
"Percaya kok Kak" aku membalas senyumannya seolah sedang membesarkan hatinya.
Cklek!!!!
Pintu kamar pun terbuka, lalu terdengar suara sepatu high heels yang menapaki lantai, kualihkan pandanganku menatap arah datangnya suara sepatu itu, kulihat seorang wanita bertubuh ideal, kulitnya putih, dihiasi rambut panjang yang dicat dengan warna coklat, dibalut dengan mini dress memperlihatkan kaki jenjangnya, tercium aroma parfum yang sangat wangi memenuhi kamar rumah sakit, sesaat setalah iya masuk dan mendekati.
Plaakk!!!
Tiba-tiba wanita yang baru datang itu, menampar kak darda dengan tamparan yang sangat keras, sampai-sampai aku yang mendengarnya terasa ngilu.
Jadi lu suruh datang ke sini, dengan membawa benda menjijikan imi hanya untuk memamerkan pacar baru lu" bentak wanita itu.
"Sabar sayang, kamu baru datang sudah marah-marah" Kak Darda menenangkan wanita cantik itu sambil memegangi pipinya.
"Gimana mau sabar udah jelas, elu berduaan dengan wanita sial4n ini, kok gue disuruh sabar" bentak wanita itu yang terlihat posesif terhadap kak darda membuatku mengeringitkan dahi, seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi.
"Kan aku sudah bilang, celana itu buat pacar temanku" sanggah Kak Darda menenangkan.
"Pacarnya siapa" tanyanya dengan suara keras.
"Pacarnya si Dali, kan di chat sudah dijelaskan" sanggah Kak Darda yang terus menenangkannya sambil memegang pinggang wanita itu, karena tubuhnya yang pendek tidak tidak sampai untuk memegang pundaknya.
"Buneran yang kamu bilang" tanya wanita itu suaranya mulai melunak.
"Mana berani aku bohong sama wanita yang paling cantik di dunia ini, kalau sayang nggak percaya kamu bisa tanya langsung sama orangny" ucap Kak Darda mengeluarkan jurus rayuan andalannya.
Wanita itu mengalihkan pandangannya matanya ke arahku, terlihat matanya yang memerah menandakan amarah sudah ada di ubun-ubunnya.
"Beneran kamu pacarnya si Dali yang hom0 itu" tanyanya dengan ketus.
"Iiiiiiiya Kak" jawabku agak tergagap, karena Kak Dali belum pernah mengungkapkan perasaan apapun terhadapku, apalagi dengan ditekan seperti ini, membuat kusemakin gelagapan.
"Awas aja, kalau kalian berdua berbohong" ancamnya sambil terus menatap tajam ke arahku.
"Enggak berani kak" jawabku dengan pelan.
__ADS_1
Kemudian wanita itu menatap lagi ke arah Darda, yang masih memegang pipinya, mungkin rasa sakitnya belum hilang, karena tamparannya Emang sangat keras.
"Sakit ya, sayang" ucap wanita itu sambil membantu mengusapi pipi Kak Darda.
"Enggak" jawab Kak darda denagn Ketus nampaknya dia mulai melancarkan counter attack.
"Maafin aku sayang, aku khilaf sini, cup cup cup" rajuk wanita itu sambil terus mengusap-ngusap pipi kadarda.
Namun Kak Darda tetap tidak bergeming, dia masih menekuk mukanya seolah mengibarkan bendera kemenangan.
"Muah" tiba-tiba wanita itu mendongkok, lalu mencium pipi yang tadi ia tampar, membuat mata kak darda terbelalak.
Bahkan bukan Kak Dada saja yang merasa Kaget. aku yang melihatnya sampai-sampai memalingkan muka karena malu melihat kejadian itu.
"Ih kamu bisa aja sayang, mana barang yang tadi aku minta" ujar Kak Darda sambil senyum membuatku terasa mual karena melihat kelakuan dua orang ini.
"Ini sayang, tapi beneran kamu tidak apa-apa" jawab wanita itu sambil menyerahkan paper bag yang ada di tangannya.
"Yakin ini pas" tanya Kak Darda.
Mendapat pertanyaan seperti itu, pacar kak darda tidak menjawab, namun dia melirik ke arahku, lalu matanya tertuju ke arah Dada, membuatku merasa risih, walaupun yang menatap itu wanita. sehingga kutekuk lututku untuk menyembunyikan dari tatapannya.
"Ya udah, kalau cukup, totalnya jadi berapa" tanya Kak Darda
"Ih sayang, kama kaya sama siapa aja sih, pakai itung-itungan segala" jawab wanita itu dengan suara manja.
"Ya udah, terima kasih ya sayang" ucap Kak Darda sambil menaruh paper bag itu di atas ranjang kok.
"Iya tapi aku nggak bisa lama-lama, nemenin kamu, soalnya papa sudah menungguku di kantornya" ujar wanita itu.
"Ya udah, kamu hati-hati ya di jalannya, jangan ngebut-ngebut" kak Darda mengingatkan.
"Iya sayang terima kasih perhatiannya" ujarnya sambil sedikit menekuk lututnya agar wajahnya sejajar dengan wajah kak darda, karena tubuhnya yang pendek. Membuat Kak Darda celingukan.
"Apa" tanya kak darda.
"Cium" ucap wanita itu dengan manja.
"Muah, cium kening. muach, cium pipi di kanan. muah, cium pipi kiri. Muah, cium hidung" ucap Kak Darda sambil menciumi wajah wanita itu, seolah mereka hidup hanya berdua, tanpa memperdulikanku yang gelagapan dibuat mereka.
__ADS_1
"Kamu cepat sembuh ya, kenalin Namaku evita, dan Maaf ya atas kejadian tadi, soalnya aku sangat menyayangi pacarku, yang imut ini" ucap wanita itu sambil tersenyum ramah sambil mengeluarkan tangan, sikapnya berbanding 180 derajat ketika Pas awal datang.
"Yah sama-sama Kak, Namaku dini" jawabku sambil menjabat tangan yang ia ulurkan, terasa kulitnya yang sangat halus mengalahkan kulit pipiku.
"Ya sudah, aku pamit ya" ujarnya tanpa menengok lagi lalu Kak Evitapun pergi, membuat aku bisa bernapas sedikit agak lega.
"Siapa tuh Kak" Tanyaku sama Kak Darda, yang kembali duduk di kursi, yang ada di sampingku, terlihat Dia sedikit menarik nafas, lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Kalau aku bilang paca, pasti kamu nggak akan percaya, tapi kalau dibilang bukan pacar, tadi kamu juga sudah lihat" jawabnya sambil tersenyum
"Aku nanya kak, bukan malah dikasih teka-teki seperti ini" ucapku sambil menekuk muka.
"Iya kan kalau aku bilang pacar, Pasti kamu mikir mana ada wanita yang mau sama aku, yang jelek, hitam, gendut, pendek, pokoknya definisi kejelekan ada di tubuhku, tapi kalau dibilang nggak Mana mau dia dicium seperti tadi" ucapnya memperinci penjelasannya membuatku mengangukan kepala.
Emang benar apa yang diucapkan sama Kak Darda, kalau melihat secara fisik dia lebih mirip karung goni, namun aku juga bisa merasakan daya tariknya. Baru sebentar saja mengobrol dengannya terasa udah akrab bertahun-tahun.
"Kenapa kamu diam, makanya kamu jangan dekat-dekat sama aku, nanti kamu juga kepincut" ucapnya dengan bangga membuyarkan pikiranku.
"Top lah" Hanya itu yang keluar dari Mulutku sambil mengacungkan dua jari kepada Kak Darda.
"Darda dilawan" ucapnya sambil mengangkat kerah baju menunjukkan keangkuhannya dengan bercanda.
membuatku merasa geli melihat kelakuannya, emang cowok seperti ini sangat langka, entah kemasukan apa Mata Kak Evita, sampai-sampai dia sebegitu posesifnya sama Kak Darda.
"Oh iya Hampir lupa,kamu sih ngajak ngobrol terus, nih pakai" seru kak Darda sambil menyerahkan paper bag yang tadi diberikan oleh kak Evita.
"Apa ini Kak" Tanya aku penasaran
"Udah bawa ke WC sana, nanti kamu juga tau, kalau bilang nanti tulisannya jadi bintang, kena sensor" ucap kak Darda sambil tersenyum penuh arti membuatku semakin penasaran.
Aku menggeser tubuhku untuk turun Dari Ranjang rumah sakit, mengikuti perintah Kak Darda.
"Perlu bantuan nggak" tawar Kak Darda.
"Enggak kak, terima kasih, yang sakit cuma pipi, sama hati aja Kak" ujarku sambil sambil meninggalkan ranjang menuju kamar mandi membawa paper bag yang diberikan Kak Darda berikan.
Sesampainya di kamar mandi, ternyata paper bag gitu berisi pakaian dal4m wanita membuatku tersenyum haru mengingat semua kebaikan teman teman Kak dali, semoga suatu saat aku bisa membalas kebaikan mereka.
Setelah selesai memakainya. Aku Kembali keluar dari toilet menuju ranjangku, untuk beristirahat kembali, terlihat kak Darda masih setia menunggu duduk di kursi yang tadi, sambil memegang ponselnya
__ADS_1
"Si Dali tadi telepon, katanya dia chat tapi kamu nggak balas" ucap Kak Darda memberitahu, setelah aku duduk kembali di atas ranjang.