
Pov dini
"Maaf, Kak. Aku makannya rakus, ya." Tanyaku, sambil menatap Kak Dali, yang sudah menyelesaikan makan sedari tadi.
"Nggak, kok. Kamu masih lapar?" tanya kak Dali, yang sedang meletakkan kedua sikutnya di atas meja, seperti orang yang sedang mengintrogasi.
"Enggak kok, Kak, udah kenyang" jawabku, sambil bangkit, mau merapikan piring bekas makan.
"Sudah, biarin aja. nanti aku yang rapihkan" tolak kak Dali.
Namun aku tetap memaksa, dan akhirnya dia menyerah. membiarkanku, merapikan perabotan bekas makan. lalu aku mencucinya, dia hanya memperhatikan, dengan khawatir. seperti orang tua, yang lagi memantau anaknya, yang sedang bermain.
"Udah biarin aku aja. kamu kan, masih sakit, apalagi tadi habis terjatuh," kak dali, terus memaksa, agar aku cepat menghetikan kerjaanku.
"Biarin sih, Kak. lagian yang sakit tuh, *4****. bukan tangan. jadi kakak nggak usah khawatir seperti itu" jawabanku, yang merasa risih terus diperhatikan.
"Tapi" sanggahnya.
"Nggak ada tapi, tapi. sekarang kakak masuk ke kamar Kakak, lalu istirahat, biarkan urusan dapur, aku yang mengurus" ujarku, sambil memicingkan mata ke arahnya, "udah sana ke kamar" lanjutku, mengusirnya.
Dengan berat hati, dia pergi melangkah, meninggalkan ruangan dapur. sedangkan aku melanjutkan pekerjaanku, mencuci piring dengan tenang.
Seusai mencuci piring, aku kembali ke kamar, namun. langkahku terhenti, ketika melewati kamar Kak Dali, yang masih terbuka. terlihat dia sedang Menatap layar komputer. dengan penasaran aku mengetuk pintunya.
"Eh, dini. Sini masuk" ajaknya, sambil mengambil kursi lalu ditaruh di sampingnya.
"Lagi ngapain, Kak." Tanyaku yang penasaran, sambil menatap ke arah layar komputer.
"Lagi ngegambar pembuatan Cafe" jawabnya, sambil melirik sebentar ke arahku.
"Wah, hebat. Emang Kakak bisa arsitek" Tanyaku, menunjukkan rasa kagum.
"Enggak, sih. Kalau disebut bisa, cuman seneng aja mempelajarinya" jawabnya sambil terus memainkan Mouse yang ada di samping kanannya.
"Mau kopi" Tanyaku.
"Boleh, Tapi biarin aja, nanti aku buat sendiri" jawabnya seolah tidak mau merepotkanku.
Mendengar jawabannya, aku bangkit menuju dapur, untuk membuatkannya kopi. setelah selesai, Aku kembali ke kamar Kak Dali, dengan segelas kopi panas di tanganku.
__ADS_1
"Wah, terima kasih. jadi ngerepotin" jawabnya tanpa melihat ke arahku, namun terlihat sudut bibirnya terangkat.
Aku duduk kembali, di kursi yang ada di sampingnya. melihat lagi, Apa yang sedang kak dali kerjakan, seperti bocah cilik, yang sedang menonton temannya lagi main warnet. Tak ada obrolan, yang keluar dari mulut kita, hanya suara keyboard yang di tekan-tekan, seirama dengan degup Jantungku yang berdegup kencang.
"Sudah tidur sana!" seru Kak dali, di sela-sela pekerjaannya.
"Belum ngantuk Kak, lagian tadi di rumah sakit seharian aku tidur terus."
"Ya sudah, tapi jangan salahkan aku, kalau nanti Subuh aku siram" ancamnya sambil tersenyum.
"Yeeeeeeeeey, aku nggak akan kesiangan kali," jawabku sambil menggerakkan kedua rahangku berlawanan.
"Sudah tidur sana, jangan bandel. sebentar lagi aku juga tidur, kok." perintahnya, sambil meletakkan mause yang dipegangnya, kemudian membalikan badan, menatap ke arahku. sehingga kami berdua saling bertatapan, Jantungku terasa berdesir sangat cepat, ketika ditatap seperti itu. hingga kutundukkan kepalaku, tak mampu lagi untuk menatapnya.
Dengan perlahan kak dali mulai mendekatkan wajahnya, Ke wajahku. membuatku memejamkan mata, Entah mengapa tubuh ini tidak bisa menolaknya, padahal aku tahu ini salah.
Semakin dekat, Semakin terasa hembusan hangat menyapu seluruh area wajahku. sehingga aku semakin kuat memejamkan mata itu, siap menerima apa yang akan dilakukannya.
"Sudah tidur sana, nanti aku bisa khilaf" ujar Kak Dali, sambil mencubit hidungku, membuat pipi ini tercembung dengan sempurna, Apa yang terjadi dengan diriku, sehingga aku merasa kecewa ketika dia tidak melakukannya.
Dengan kesal aku pun bangkit, lalu pergi meninggalkan kamarnya. dia hanya menatap sambil menggeleng-gelengkan kepala, terlihat sekilas mulutnya melengkung dengan sempurna.
"Kamu itu emang paling bisa, membuatku seperti ini" gerutuku, sambil memukul-mukul kasur, kesal. tapi aku tak tahu kesal karena apa, kesal gara-gara dia nggak jadi menciumku. atau kesal dengan perasaanku yang tidak bisa aku kontrol.
Agrrrrhhh!!!
Teriakku yang sedikit tertahan, karena takut terdengar oleh kak Dali, sambil meremas sprei yang tidak berdosa. Aku berteriak, karena aku tidak mendapat jawaban, dengan keadaan yang menimpaku sekarang ini.
Tringg!!!
Ponsel pemberian kak dali berbunyi, menandakan ada satu pesan yang masuk, dengan penasaran, aku ambil ponsel itu. lalu membukanya, dan ternyata itu benar ada pesan yang dikirim Kak DAli, di aplikasi hijau. karena di ponsel ini hanya ada nomor dia.
( Kok, kamu teriak gitu, pengen digini yah, ) pesan yang dikirimnya, diakhiri dengan emoticon kiss.
Pesan itu, membuat mukaku memerah sampai ke telinga. merasa malu karena teriakanku, terdengar olehnya. perasaan aku berteriak sangat pelan.
( Sini kalau mau ) pesan itu, datang lagi diakhiri dengan emoticon ranjang dan emoticon yang menutup mulut. dia menggodaku.
( Iya kak aku pengen dic1um kakak ) pesan yang aku tulis namun aku hapus kembali.
__ADS_1
( Mau Kak, Kakak aja yang ke sini ) ku coba menulis pesan lagi, namun aku menghapusnya lagi.
Begitulah berulang-ulang Aku mengetik, lalu menghapusnya kembali. mengutarakan semua perasaanku, tapi tak mampu menyampaikannya. hanya emoticon merah menyala yang bisa aku kirim.
"Tak menunggu lama, dia membalas pesanku. dengan fotonya yang sedang tidur, sambil memonyongkan bibirnya. membuatnya semakin terlihat lucu.
( Mau begini kan ) captionnya meledek.
Dengan cepat aku bangkit, lalu aku kepalkan tanganku. untuk difoto, menandakan Aku siap berperang demi mempertahankan keutuhan tubuhku, yang sudah runtuh. setelah foto itu jadi, lalu aku kirimkan.
( Astaghfirullahaladzim, jangan pakai tangan, Gimana kalau pakai mulut ) diakhiri dengan emoticon ketawa, jawabannya. membuat Imajinasiku, travelling menyesal, mengirimkan gambar tanganku.
( Eh, dasar m3sum aku mengirimkan foto tangan, itu. menandakan, aku siap menghajarmu. ) dengan kesal aku balas pesan itu.
Lama menunggu, tidak ada balasan pesan lagi, darinya. membuatku merasa semakin kesal dibuatnya, Padahal aku masih pengen bercerita, bercanda dengannya. meski hanya lewat pesan.
( Kok nggak bales, udah tidur ya. ) aku mengechat lagi nomornya, mengalahkan rasa gengsiku.
Pesan itu centangnya, berubah menjadi biru. menandakan dia sudah membacanya, namun. dia tidak kunjung membalas pesan dariku.
( Kenapa cuma dibuka, nggak dibalas ) pesan yang kukirim, karena kesal, dia tidak menghiraukanku, aku seperti orang yang sedang mengemis saja.
Tak lama pesanku dibalas, dengan foto Kak Dali. yang sedang memejamkan mata, di ikuti dengan pesan, ( yang punya ponsel sudah tidur )
Balasan yang membuatku merapatkan gigi, karena kesal dibuat olehnya, kadang dia seperti orang yang sangat perhatian, kadang juga seperti sekarang dia sangat menyebalkan.
( Terus ini siapa yang membalas pesanku ) pertanyaan bod0h itu aku kirim lewat pesan, padahal aku tahu dia yang membalasnya.
( Ponsel )
( Kok bisa balas )
( Bisalah, aku kan smartphone )
Dengan penasaran, aku coba memanggil nomor Kak Dali, lewat video. tak lama menunggu, video call itu terhubung. benar saja, terlihat Kak Dali sedang memejamkan mata, dengan kedua tangan menempel di pipinya, Mungkin dia menyimpan ponsel itu di tripod, supaya dia tidak harus memegangnya.
"Dasar bod0h, padahal dengan berpura-pura seperti itu, aku bisa leluasa menatap wajahmu, tanpa harus malu." gumamku dalam hati.
"Jangan pura-pura gitulah, Kak." ucapku sambil terus memperhatikan wajahnya lewat layar ponsel.
__ADS_1
Kak dali hanya menggeliat, menirukan orang yang sedang tertidur pulas. aku terus memperhatikan wajahnya, sampai-sampai mataku tertutup dengan sempurna. tanpa terlebih dahulu mematikan telepon video itu. Seperti para remaja yang suka melakukan sleepcall.